Bangunan masjid ini menggunakan gaya arsitektur yang tak biasa untuk sebuah bangunan masjid. Apalagi di sebuah daerah kabupaten.
Masjid yang berada di Dukuh Kedungpanjang, Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso ini bergaya arsitektur Eropa.
Keindahan bangunan masjid ini mengadopsi gaya arsitektur gotik. Hal itu diungkapkan arsitek masjid ini yaitu Wisnu Nugroho alias Yeyen.
Dia merupakan putra daerah Desa Soneyan yang saat ini bermukim di Desa Ngemplak Kidul, Kecamatan Margoyoso.
Yeyen mengaku, menerapkan gaya arsitektur gotik ke bangunan masjid ini lantaran rancangan yang dia buat disetujui oleh pengurus masjid.
"Sepengetahuan saya di Indonesia belum ada masjid dengan langgam arsitektur gotik. Arsitektur Eropa, kan, ada banyak langgam. Salah satunya gotik. Saya coba sodorkan ke pengurus masjid dan disetujui," jelas Yeyen saat diwawancarai melalui sambungan telepon.
Menurut Yeyen, arsitektur gotik di Eropa kebanyakan digunakan untuk membangun gereja. Walaupun ada juga gereja yang tidak bergaya gotik, misalnya neoklasik.
Keyakinan Yeyen untuk mendesain bangunan mengadopsi gaya arsitektur rumah ibadah lain dikarenakan sebelumnya sudah banyak yang melakukan hal serupa. Seperti adanya masjid bergaya kelenteng
“Karena itu saya berani menggunakan arsitektur gotik. Arsitektur gotik ini juga tidak melulu digunakan untuk gereja. Banyak juga gedung-gedung pemerintahan. Misalnya gedung parlemen di Hungaria dan gedung pemerintahan di London," papar Yeyen.
Yeyen mengaku, selama terjun di dunia arsitektur, desain masjid bergaya gotik baru kali ini dikerjakannya.
"Filosofinya misalnya, kalau bangunan berasitektur gotik itu punya banyak ornamen yang berbentuk lancip tinggi dan mengarah ke atas. Kalau tempat ibadah, kan, filosofinya menuju kepada Yang di Atas,” lanjut Yeyen.
Sementara itu Bendahara Masjid Baiturrohman Kedungpanjang, Giyarso Raharjo, menjelaskan bahwa masjid ini sebelumnya telah berdiri sejak 1960-an.
"Bangunan aslinya masjid ini sudah ada sejak 1960-an, didirikan oleh Mbah Kiai Ahmad Rasiman. Dulunya kecil, hanya musala berbentuk seperti gazebo. Setelah itu tiga kali direnovasi dan diperbesar. Mulai 2016 direnovasi total menjadi seperti ini," jelasnya.
Menurut Giyarso, biaya pembangunan masjid dihimpun secara swadaya dari para warga di sembilan Rukun Tetangga (RT). Sejauh ini, pembangunan sudah menelan anggaran sebesar Rp 3 miliar. (aua/him)
Editor : Noor Syafaatul Udhma