Kerajinan kuningan di Juwana, Kabupaten Pati, dimulai oleh Mbah Rewok.
Dia seorang ahli peleburan logam kuningan yang kini telah meninggal dan dimakamkan di Desa Pajeksan, Kecamatan Juwana, yang dulu dikenal sebagai Juwangi.
Mbah Rewok, yang juga terlibat dalam proyek pembangunan Jalan Daendels, memperkenalkan teknik pengecoran kuningan di daerah tersebut.
Pada awalnya, pusat kerajinan kuningan berada di Desa Pajeksan, kemudian berpindah ke Desa Kudukeras, dan akhirnya mencapai puncaknya di Desa Growong Lor dan Growong Kidul.
Pergeseran ini disebabkan oleh populasi yang semakin besar dan lingkungan yang lebih menerima polusi dari proses produksi.
Dengan banyaknya pekerja yang membangun industri di rumah masing-masing, produksi kuningan semakin berkembang.
Sutrisno, seorang pengrajin kuningan dari Juwana, menceritakan bahwa produksi kuningan di daerah ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.
Saat itu, masyarakat Juwana belajar cara mengolah logam dari penjajah, dan industri ini berkembang dari kebutuhan perbaikan kapal Belanda menjadi klaster kuningan yang lebih luas.
Sutrisno memulai usahanya pada tahun 2005 setelah memperoleh pengalaman dari salah satu pengusaha kuningan yang telah meninggal.
“Saya memutuskan untuk melanjutkan usaha ini sendiri dan mengembangkan keterampilan yang telah saya pelajari,” katanya.
Memilih usaha kuningan, lanjut Sutrisno, karena sudah banyak di lingkungannya.
Juwana juga sudah berkembang puluhan tahun dari zaman Belanda.
Awalnya di Juwana itu mulai sejak penjajahan Belanda.
Ada kapal-kapal penjajah yang mau masuk ke Jawa. Kapalnya pada rusak.
”Kemudian mereka membutuhkan kuil atau kipas kapal. itu lalu diperbaiki. Ibaratnya seperti bengkel lah untuk mengganti sparepart atau yang lainnya. Nah, dari situlah mulai dikenalkan oleh orang Belanda cara pengecoran logam,” bebernya.
Tampak dekat kuningan juwana
”Awal mulanya dari situ. Lalu berkembang puluhan tahun karena kebutuhan dari sekitar membutuhkan alat-alat yang berbahan logam. Maka yang dari awal mula pengecoran kipas itu dialihkan kebutuhan sehari-hari. Seperti alat-alat peralatan, sendok, timbangan, engsel sampai saat ini berkembang menjadi patung,” lanjutnya.
Dengan sejarah panjang dan perkembangan yang berkelanjutan, kerajinan kuningan Juwana terus berinovasi dan beradaptasi dengan kebutuhan pasar, baik tradisional maupun modern.
Kelebihan kerajinan kuningan Juwana terletak pada cara pembuatannya, yaitu pengecoran, berbeda dengan daerah lain yang umumnya menggunakan teknik pengetokan.
Proses pembuatan produk kuningan dimulai dengan membuat mal atau pola, yang kemudian dicetak dengan cetakan inti dan cetakan kulit menggunakan dapur krus.
Setelah pembersihan inti cor dan sistem gating, dilanjutkan dengan pabrikasi, permesinan, dan perakitan awal, sebelum akhirnya melakukan finishing, pemolesan, pelapisan, dan perakitan akhir.
Kerajinan kuningan Juwana mencakup berbagai produk tradisional.
Seperti patung sejarah, bokor, arca Ganesya, Bethari Durga, Ken Dedes, patung Budha, serta produk modern seperti patung binatang, aksesori mebel, lampu meja, lampu sudut kombinasi fiberglass, tarikan laci, hydrant, tempat lilin, lampu dinding, kran air, dan lain-lain.
Juwana dikenal sebagai salah satu pusat produksi kerajinan kuningan terbesar di Indonesia, menyuplai lebih dari separuh produksi kuningan nasional.
Berbagai produk seperti guci, interior rumah, baut, engsel, klem aki, handle pintu, kompor gas kuningan, lampu hias, miniatur sepeda onthel, becak, kendaraan, dan masih banyak lagi, dapat ditemukan di sentra kerajinan di daerah ini.
Perbedaan mendasar dari industri kuningan di Juwana dibandingkan dengan daerah lain adalah pendekatan industri yang lebih modern, mengutamakan pembuatan alat bantu dan skenario proses kerja yang matang.
Sikap ini mendukung perkembangan industri rakyat di Juwana dan menjadi keunggulan daerah tersebut.
Seiring berjalannya waktu, industri kuningan di Juwana telah menyebar ke tujuh kecamatan.
Karena kesulitan mencari tenaga kerja lokal, pekerja dari desa dan kecamatan lain pun datang dan banyak yang akhirnya menjadi pengusaha di desa mereka sendiri.