Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Dilanda Kekeringan, Sumber Air di Wilayah Selatan Pati Berubah Jadi Asin, Ini Permintaan Warga!

Andre Faidhil Falah • Rabu, 10 Juli 2024 | 21:55 WIB
DIBANTU: Warga Desa Tambahagung, Tambakromo berebut bantuan air bersih di desanya kemarin.
DIBANTU: Warga Desa Tambahagung, Tambakromo berebut bantuan air bersih di desanya kemarin.

PATI – Kekeringan sudah melanda di wilayah Pati selatan. Saat ini, warga mulai bergantung pada bantuan air bersih dari pemerintah maupun swasta.

Beberapa desa yang mengalami kekeringan di Pati ini misalnya di Desa Tambahagung, Tambakromo, dan beberapa desa di wilayah Jakenan-Jaken.

Masyarakat di sana mulai merasakan kesulitan mendapatkan air bersih memasuki awal bulan ini.

 

”Mulai sulit mencari air bersih. 1-2 pekan ini lah. Harapannya ada bantuan,” terang Hendro, warga Tambakromo. 

Sulitnya air ini memaksa warga setempat untuk membeli air galon. Kebutuhan sehari-hari seperti memasak hingga mandi juga dari bantuan air.

Warga di daerahnya memang sering kesulitan mendapatkan air bersih saat musim kemarau.

Kondisi ini disebabkan sumber air berubah menjadi asin. Sehingga tidak bisa digunakan untuk kebutuhan masak dan minum.

”Selama ini mungkin dari Pamsimas sumber airnya. Sumur itu berubah jadi asin,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati Martinus Budi Prasetya mengatakan, pihaknya sudah berupaya membantu masyarakat terdampak kekeringan.

Pada hari ini (9/7) mengirim dropping air ke Desa Tambahagung, Tambakromo.

”Kami sudah membantu Desa Tambahagung, Tambakromo. Mereka sudah mengajukan bantuan air bersih,” tandasnya.

Menurutnya, ada beberapa dampak pada kekeringan ini.

Di antaranya, gagal panen petani padi, kesehatan baik manusia dan hewan terganggu. Kemudian tumbuhan menjadi rentan.

”Untuk kebutuhan mendesak, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, logistik untuk memberikan dukungan warga, menyiapkan tandon, dan droping air bersih,” ucapnya.

Dia menjelaskan, klasifikasi kekeringan ini ada tiga. Yakni, kekeringan meteorologis yang dikarenakan curah hujan kurang.

Lalu, kekeringan hidrologis karena kekurangan pasokan air permukaan dan air tanah.

Terakhir kekeringan pertanian yang dikarenakan kandungan air di dalam tanah sehingga tak mampu memenuhi kebutuhan tanaman tertentu. (adr/zen)

 

Editor : Ali Mustofa
#Bantuan air #dropping #pati #petani #pertanian #air bersih #kekeringan #gagal panen