PATI - Sejumlah petani di Dukuh Poncomulyo Desa Gadudero mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah akibat gagal panen.
Hal itu diungkapkan Heru salah seorang warga Dukuh Poncomulyo Desa Gadudero sekaligus petani.
Ia mengungkapkan, dirinya mengalami kerugian yang cukup lumayan akibat gagal panen ini.
“Yang kerugian paling banyak ini melon karena modalnya besar, bisa puluhan juta modalnya,” paparnya.
Kerugian besar yang dialami petani di Sukolilo Pati akibat terjadinya banjir beberapa waktu terakhir.
Saat banjir merendam, seharusnya panen bisa dilakukan dalam kurun waktu 5 hingga 10 hari lagi.
Namun karena sudah terendam banjir akhirnya gagal panen.
Hal serupa dialami Rinto Prabowo petani lainnya di Dukuh Poncomulyo, Desa Gadudero yang sawahnya turut kebanjiran.
Tanaman melon miliknya terendam banjir dan terancam gagal panen. Padahal dirinya menargetkan panen pada pertengahan bulan puasa nanti.
"Padahal melonnya beratnya sudah 1 kilogram. Tapi ini malah kebanjiran," paparnya.
Akibat banjir ini dirinya mengalami kerugian puluhan juta.
Untuk modal tanam dan perawatannya dirinya mengaku sudah habis Rp 25 juta.
"Padahal kalau saya hitung, tanaman seperempat hektar itu bisa laku Rp 50 sampai Rp 60 juta dengan melihat momen puasa seperti ini. Tapi ini melonnya sudah tidak diambil lagi," paparnya
"Kalau mau diselamatkan bisa, tapi biayanya sangat mahal. Apalagi hampir semua lahan pertanian di sini terendam banjir. Selain melon juga ada juga padi," imbuhnya.
Rinto mengaku kondisi seperti ini tidak hanya terjadi pada tahun ini saja.
Hampir setiap musim penghujan, petani di desanya mengalami gagal panen akibat lahan sawah yang terendam banjir.
Kepala Desa Gadudero Agus Yulianto mengungkapkan secara keseluruhan lahan pertanian yang terendam banjir di wilayahnya sekitar seratusan hektare.
Kerugian yang paling banyak adalah petani melon.
“Kalau total semua kerugian bisa miliaran. Ada seratusan hektare lahan padi dan melon yang terendam. Di sini masih banyak yang belum panen,” ungkapnya.
Karena itu pihaknya berharap aliran anak Sungai Juwana yang melintas di wilayahnya dapat segera mungkin dilakukan normalisasi sungai hingga tuntas.
Karena banjir yang terjadi akibat meluapnya sungai karena intensitas hujan yang tinggi.
“Selama ini belum pernah dikeruk. Kita berharap dapat dinormalisasi. Karena sungainya dangkal. Sekarang kedalamannya paling cuma 3 — 4 meteran saja. Kalau kondisi ini dibiarkan petani akan selalu mengalami kerugian tiap kali musim hujan. Terancam gagal panen terus,” tegasnya. (aua).
Editor : Dzikrina Abdillah