PATI - Bulan Ramadan memiliki arti tersendiri. Momen Ramadan tak hanya mengajari untuk menahan lapar dan haus saja.
Tapi lebih dari itu juga mengajarkan agar manusia bisa membersihkan diri dan melatih diri untuk berhati-hati.
"Ramadan menjadi momen yang pas untuk bersih-bersih baik dari diri sendiri maupun lingkungan, baik lingkungan terkecil, seperti keluarga; sampai lingkungan besar, seperti bangsa dan dunia," ungkap pengasuh Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin.
Baca Juga: Soroti Banjir, Dewan Ingatkan Pemkab Pati segera Normalisasi Sungai dan Jaga DAS
“Apa yang harus dibersihkan dari diri kita, dan kenapa harus dibersihkan? Bicara bersih-bersih harus dimulai dari titik paling dasar yakni diri kita,” terangnya.
Bersih-bersih itu penting lantaran banyak hal yang ternyata mempengaruhi diri manusia. Tak sedikit pengaruh itu justru membawa dampak negatif.
Padahal manusia diturunkan ke bumi sebagai khalifah; yakni untuk mengelola alam dan lingkungannya, bukan sebaliknya: dicetak dan dikendalikan oleh alam dan lingkungannya.
“Berapa banyak hal keputusan kita yang di kendalikan dari luar? Benarkah saat memutuskan sesuatu kita sudah berdasarkan hati yang bersih?” tanyanya membuka diskusi.
Oleh karena itulah puasa melatih manusia untuk lebih berhati-hati, untuk mengambil jarak yang cukup dengan alam dan lingkungannya.
Secara fisik, puasa mengajarkan pentingnya untuk mengendalikan makan, minum dan syahwat.
Orang yang hanya berfikir tentang makanan seringkali disibukkan dengan cari makan.
“Yang terjadi kita hanya memikirkan perut saja kalau sudah seperti itu maka tak bisa berfikir yang lain. Maka dari itu puasa jangan sampai dikendalikan perut. Tapi kendalikanlah perut kita seperti yang diajarkan oleh puasa,” ujarnya.
Begitu pula dengan syahwat. Anis menyebut jika syahwat bisa berarti nafsu, kekuasaan dan berbagai hal lainnya.
Oleh karenanya kehati-hatian pertama manusia seharusnya ada pada diri sendiri, pada pikiran dan pendapatnya. Syahwat harus dikendalikan, bukan mengendalikan kita.
“Kisah nabi Ibrahim yang diminta menyembelih putranya juga mengajarkan kita untuk tidak terlalu jauh memikirkan masa depan generasi yang kita tinggalkan," ujarnya.
"Tidak boleh kita terlalu memikirkan anak dan masa depannya; karena itu sepenuhnya urusan dari Allah,” terangnya.
Kehati-hatian itu bahkan juga jelas ditunjukkan lewat kekuasaan manusia pada fisiknya.
Seperti dalam hal makan, meskipun bisa makan apapun dan dirasakan begitu enak namun ternyata hal itu belum tentu baik untuk kesehatan. (aua/him)
Editor : Noor Syafaatul Udhma