PATI – Mbah Mutamakkin meninggalkan berbagai ilmu hingga ornamen-ornamen bersejarah.
Kepingan sejarah itu menceritakan perkembangan Islam dan perjalanan Mbah Ahmad Muttamakin.
Lokasi museum ini tak jauh dari makam Mbah Mutamakkin. Kurang lebih 1 kilometer (km) dari sana.
Tepatnya di area Masjid Jami’ Kajen. Berbagai peninggalan Mbah Mutamakin terpajang di sana.
Terlihat sejumlah peninggalan di sebuah etalase. Di dalamnya memperlihatkan masjid Kajen tempo dulu.
Ada juga sebuah mustaka masjid Kajen yang kedua, gandok atau tempat mencuci kaki, hingga tatakan sentir.
Di dinding juga ada sejumlah kitab yang disimpan figura. Tulisannya menggunakan bahasa arab.
“Itu replika dari peninggalan Mbah Mutamakkin. Ada yang tulisannya pakai huruf pegon,” terang Pemandu Musium Kajen Zuli Rizal.
Di situ juga ada foto-foto ornamen peninggalan Mbah Muttamakin.
Ada tiga tokoh ulama yang membesarkan nama Kajen selain Mbah Mutamakkin. Yakni, Mbah Dolah, Mbah Baidowi, dan Mbah Nawawi.
Ternyata museum tersebut baru berdiri 6 Agustus 2022. Yakni bertepatan dengan Haul Mbah Mutamakkin yakni di 9 Muharram 1444.
“Museum ini diinisasi oleh teman-teman Islamic Center Kajen (ICK). Juga bekerja sama dengan Jelajah Pusaka Kajen dan didukung penuh oleh yayasan Mbah Ahmad Mutamakkin,” kata Zuli Rizal.
Bagi dia, di Kajen memiliki banyak peninggalan sejarah. Namun, sejarah tersebut hanya diceritakan saja. Makin kesini mulai hilang.
”Akhirnya perpustakaan muttamakin itu menjadi fasilitator atau semacam wadah jelajah pusaka ini tumbuh. Akhirnya tementemen yang ada di perpus itu kita ajak untuk diskusi tentang situs-situs bersejarah di Kajen,” paparnya.
Banyak para pemuda di Kajen yang mendukung. Cita-cita untuk membangun museum di Kajen pun terwujud. Sebelumnya, hanya angan-angan dari kelompok itu. (adr/war)
Editor : Ali Mustofa