Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Melihat Keunikan Gaya Arsitektur Masjid Jami' Kajen Pati Peninggalan Mbah Mutamakkin Berusia Ratusan Tahun

Andre Faidhil Falah • Rabu, 13 Maret 2024 | 16:28 WIB

 

BERIBADAH: Masyarakat setempat mengunjungi Masjid Jami’ Kajen Pati kemarin.
BERIBADAH: Masyarakat setempat mengunjungi Masjid Jami’ Kajen Pati kemarin.

PATI - Di Desa Kajen, Margoyoso, Pati ada masjid berusia lebih dari 300 tahun. Itu peninggalan dari Syekh Ahmad Mutamakkin.

Masjid itu terletak tak jauh dari makam Mbah Mutamakkin. Kurang lebih 1 kilometeran dari sana. Masjid Jami' Kajen memiliki arsitektur bercorak Jawa.

Model kubah tumpang sari seperti Masjid Agung Demak. Masjid itu memiliki bangunan yang unik.

Di tengahnya ada semacam musala kecil. Itu digunakan masyarakat setempat untuk beribadah.

Masjid itu dipercaya mengalami tiga kali pemugaran. Masjid ini dulunya ber bentuk persegi.

Namun setelah direnovasi, masjid ini ditambah serambi masjid sehingga bertambah lebar.

Sedangkan pada dinding bagian depan dan dalam ba ngunan, didominasi kayu jati yang diyakini berusia ratusan tahun.

Meskipun demikian sampai saat ini kondisi kayu masih terlihat cukup kuat.

Sementara lantai masjid ini menggunakan tegel yang sederhana, sehingga menambah nuansa kuno.

Ornamen simbolik dalam masjid kajen menurut para ahli sejarah memiliki pesan wasiat dari Syekh Ahmad Mutamakkin kepada penerus perjuangan dakwahnya.

Ornamen kuntul mucuk bulan yang terukir di mimbar masjid gambar dua burung bangau atau kuntul sedang mematuk bulan sabit.

Kuntul diibaratkan orang yang sedang menuntut ilmu dan bulan lambang kejayaan, cahaya ilmu yang menerangi gelapnya kebodohan.

Simbol naga memiliki makna sufistik dari keteguhan menahan diri dari rasa lapar berupa puasa, tirakat fisik maupun psikis.

Dengan tirakat para pelajar dengan mudah memahami ilmu yang dipelajari.

Masyarakat setempat meyakini bahwa dua kepala ular naga tersebut milik Aji Saka (tokoh legenda sejarah masuknya Islam di Tanah Jawa yang dianggap juga peletak penaggalan tahun saka).

Sementara itu dinding bagian depan, sampai saat ini masih tetap menggunakan kayu.

Bahkan sebagian kayu yang menjadi bagian bangunan masjid, sudah berusia ratusan tahun.

Meskipun sudah dimakan usia, kayu yang mendominasi bangunan masjid masih terlihat cukup kuat. 

Selain banyak didominasi kayu, nuansa kuno pada bangunan Masjid Kajen juga bisa dilihat pada lantai masjid yang masih menggunakan tegel.

“Masjid ini akhir abad XVII. Itu tertulis dalam condrosengkolo. Itu pada zaman akhir Amangkurat ke empat. Sampai Pakubuwono ke dua,” terang Zuli Rizal, salah satu anggota jelajah pusaka Kajen.

Dia menambahkan, bangunan yang masih asli dari mbah Mutamakkin ini ada mimbar ornamen simbolik berbentuk flora fauna.

Juga ada papan bersurat ukiran kalimat toyibah.

“Di depan pengimaman ada tiang dua soko nganten. Pintu paling depan, pintu butulan. Hiasan langit-langit itu juga masih asli. Masjid sangat dijaga kelestarian bangunan para pengurus,” tukasnya.

Menurutnya, beberapa pitutur sesepuh, bangunan masjid dulunya tak sebesar ini. Diduga kuat berbentuk gaya panggung.

“Bangunan suci dulu tak menempel di tanah. Masuk ada tangga ke atas, dulu itu berbentuk panggung. Atau lebih tinggi dari tanah,” tukasnya.

Lalu, pihaknya juga menjaga atap genteng tumpang tiga. Seperti di Demak.

“Khas bangunan suci Jawa. Tak ada bentuk seperti era tahun 90-an lebih dominan meng gunakan kubah,” tandasnya. (adr/war)

Editor : Ali Mustofa
#masjid jami #pati #arsitektur #mbah mutamakkin #kayu jati