PATI - Pedagang kaki lima (PKL) yang bertempat di Alun-alun Kembang Joyo mulai kembali berjualan ke Alun-alun Simpang Lima Pati.
Sebab, alun-alun baru itu selain tak terurus juga sepi pengunjung.
Beberapa PKL terlihat berjualan di Alun-alun Simpang Lima Pati, Minggu (21/1) malam.
Beberapa pedagang mulai berjualan di sekitar Masjid Agung Pati itu.
Setidaknya ada 5-8 pedagang yang berjualan di sana. Satu di sisi sebelah utara (arah Luwes), dua di depan masjid, sisanya di pinggir alun-alun sisi barat.
Para PKL itu mulai berjualan di sana ketika pukul 20.00 ke atas. Pada jam tersebut, para pedagang terlihat bergantian datang di alun-alun.
Sementara dua warung angkringan mulai membuka warung ketika pukul 22.00.
”Wedine nak jam delapan malam digrebek petugas, Mas. Jadi dasarannya ya jam 10-an ke atas,” paparnya salah satu PKL yang enggan disebutkan namannya itu.
Para PKL itu rata-rata dari Alun-alun Kembang Joyo Pati (alun-alun baru, Red).
Mereka kembali lagi ke simpang lima karena kondisi di alun-alun baru itu memprihatinkan.
”Dulu kan tak boleh berjualan di sini (simpang lima). Kalau di alun-alun baru itu kan kondisinya kayak gitu. Sepi juga,” imbuhnya.
Biasanya hingga subuh para PKL itu berjualan. Meski berjualan di tengah malam, jajanan para PKL itu terbilang laris manis.
”Ketimbang di alun-alun baru malah ramai sini. Saya buka hingga subuh ya lumayan dapatnya (penghasilan). Anak-anak muda kalau malam sering nongkrong di sini,” paparnya.
Penghasilannya itu pun menuai resiko. Terkadang dia kucing-kucingan dengan petugas biar tak digerebek atau disita barang dagangannya.
”Kucing-kucingan dengan petugas kalau berjualan di sini. Tapi kalau malam alhamdulilah tak digrebek,” tuturnya.
Para PKL berharap mereka diizinkan berjualan di Alun-alun Simpang Lima Pati kembali. Sebab, di sana dagangan mereka laku.
”Harapannya ya dibolehin jualan di sini. Meski malam hari juga tak apa-apa. Soalnya di sini ramai ketimbang alun-alun baru,” tukasnya.
Di sisi lain, kondisi para PKL di Alun-alun Kembang Joyo Pati sejak dibangun beberapa tahun silam tinggal segelintir saja yang berjualan.
Lapak-lapak para pedagang di sana terlihat kosong. Dari 340-lapak tak lebih dari separo PKL yang masih memilih bertahan di sana.
Salah satu PKL Alun-alun Kembang Joyo, Hendro mengatakan, alun-alun baru ini sepi semenjak beberapa tahun ini.
Padahal tempat itu digadang-gadang sebagai pusat kuliner di Pati. Tapi malah nyaris mangkrak.
Menurutnya, pemerintah ini kurang perhatian terhadap nasib para PKL. Buktinya, beberapa tahun ini nasib para pedagang kelimpungan cari rezeki.
”Kami takut hal yang terulang lagi seperti di perhutani dulu. Di sana kan mangkrak. Harapannya pemerintah memperhatikan nasib PKL ini. Kasihan mereka. Jualan di simpang lima tak boleh, tapi di sini dibiarkan sepi,” pungkasnya. (adr/him)
Editor : Ali Mustofa