PATI - Kerja mulia dilakukan oleh Pujisih Rekno Anjangsari, perempuan yang akrab disapa Kak Rey ini menggandeng anak-anak difabel untuk dilatih meningkatkan kemampuan komunikasi dan juga modeling.
Bahkan, sudah dua tahunan ini Kak Rey konsisten mengajar.
Dari pantaun Jawa Pos Radar Kudus di halaman Gedung Juang Pati, Kak Rey tampak sibuk memberikan intruksi kepada anak-anak yang masih berusia belasan tahun tersebut.
Tampak anak-anak antusias mendapat latihan dari Kak Rey.
Terlihat anak-anak dengan penuh semangat bergantian tampil memperkenalkan diri dan menceritakan beberapa hal, mulai dari aktivitas sehari-hari hingga hobi mereka.
Anak-anak difabel tuna rungu itu menggunakan bahasa isyarat yang ekspresif dan penuh semangat.
Rey mengaku sudah dua tahun belakangan ini mengumpulkan anak-anak tunarungu dan mengajak mereka melatih diri agar lebih percaya diri di hadapan orang banyak.
Setiap Rabu, Jumat, dan Sabtu sore, Kak Rey mengajak anak-anak difabel berkumpul di Gedung Juang Pati, terutama untuk melatih kemampuan komunikasi mereka di hadapan orang banyak. Mereka bahkan juga diajari keterampilan modelling.
"Sesuai softskill saya di bidang public speaking, personality development, dan modelling, saya ingin keilmuan saya ini bisa saya bagikan dengan orang yang membutuhkan," kata perempuan asal Desa/Kecamatan Trangkil.
Kak Rey menuturkan, D'Star Production yang utamanya bergerak di bidang sekolah modelling dan public speaking sudah berdiri sejak 2012.
"Saya mengutamakan beberapa anak difabel, khususnya tunarungu. Umumnya mereka memiliki keterbatasan keseimbangan motorik dan otak kanan-kiri. Sehingga ketika ketemu orang mereka takut, tidak bisa bersosialisasi," jelasnya.
Rey mengatakan, perkenalannya pada anak-anak "berkemampuan khusus" ini bermula dari komunitas di desanya, di mana dia, sebagai sukarelawan, diminta mengajari mereka.
"Karena saya dasarnya public speaker, saya tahu kekurangan anak tunarungu di mana. Mereka kemampuan kognitifnya tidak seimbang (antara otak) kanan dan kiri, karena kurang mendengar," imbuhnya.
Awalnya, dirinya mendapat penolakan dari anak-anak difabel.
Mereka takut-takut, tapi secara berangsur akhirnya menerimanya. Kak Rey mengungkapkan, perlahan-lahan mereka seperti punya insting membedakan mana yang tulus dan tidak.
Setiap Rabu, Jumat, dan Sabtu sore, Kak Rey bersama 15 anak tunarungu dan beberapa anak normal (non-disabilitas) berkumpul bersama untuk belajar pengembangan kepribadian dan keterampilan berkomunikasi.
Mereka juga belajar catwalk yang menurut Kak Rey bermanfaat untuk merangsang keseimbangan otak kanan-kiri.
Untuk melatih kepercayaan diri anak-anak asuhnya, Kak Rey juga kerap mengajak mereka tampil dalam ajang peragaan busana di berbagai daerah, di antaranya Pati, Kudus, Rembang dan Salatiga.
Baru-baru ini, anak-anak asuh Kak Rey tampil dalam acara pemilihan duta budaya di Pendopo Kabupaten Pati, juga di ajang Bung Karno Fashion Street 2023 Salatiga.
Bahkan ada pula anak asuhnya yang menjadi finalis event modelling di Jakarta, yakni Senandung Ayesha Zulkha (14). Dia menjadi finalis ajang Man & Woman Trend Model Indonesia.
"Setiap Minggu pagi mereka juga saya kumpulkan untuk belajar mengeluarkan suara, melatih organ-organ yang berkaitan dengan suara. Mereka ini rata-rata awalnya tidak mengeluarkan suara, tidak pernah tahu suara seperti apa. Saya bantu dengan terapi yang saya tahu, mereka perlahan mulai bisa mengeluarkan suara," jelas dia.
Kak Rey meyakini, 15 anak tunarungu didikannya itu berpotensi untuk semakin lihai berkomunikasi layaknya orang normal.
Apalagi, menurut dia, kebanyakan mereka tidak sepenuhnya tidak bisa mendengar.
"Mereka secara suara masih normal. Anak-anak di sini 15 orang hanya terbatas di pendengaran, itu pun ada yang 50 persen, 80 persen. Masih bisa sedikit mendengar. Ada harapan mereka bisa berkomunikasi seperti layaknya orang normal," tegas dia.
Dengan membiasakan anak tunarungu berkomunikasi secara langsung memakai suara dan mempelajari gerak bibir, Kak Rey yakin banyak manfaat yang mereka dapatkan.
Terutama untuk membentuk kemandirian, kepercayaan diri, dan kestabilan emosi. (aua/khim)
Editor : Abdul Rokhim