“Kami berupaya menguatkan pengkaderan para seniman wayang topeng ini agar dapat melestarikan kesenian tersebut. Rencananya, bakal dibuatkan sanggar khusus untuk wayang topeng Kedungpanjang ini. Sebagai bentuk komitmen pelestarian kesenian ini kedepannya,” jelas Kepala Desa Soneyan, Margi Siswanto beberapa waktu yang lalu.
Lebih lanjut pihaknya menyebut kesenian ini telah melekat dan dianggap sakral di kehidupan masyarakat setempat. Namun meski tumbuh di dukuh kecil di lereng Muria, kesenian itu telah mendapat apresiasi dari berbagai pihak seperti dari pemerintah.
Untuk diketahui kesenian wayang topeng kedungpanjang ini hanya ada di dukuh tersebut dan diklaim berbeda dengan seni tradisi yang lain. Para pemain maupun pengrawitnya merupakan warga setempat. Tingkat lokalitas itu sudah bertahan selama bertahun-tahun sejak nenek moyang mereka. Bahkan diyakini sejak tahun 1700-an. Topeng yang digunakan juga turun temurun peninggalan nenek moyang mereka. Bukan topeng bikinan baru.
Payatun, salah seorang tokoh masyarakat setempat, mengatakan buyutnya dulu, yakni Dalang Surat merupakan dalang dari wayang topeng Kedungpanjang. Kemudian digantikan Dalang Ngusbi, Dalang Sadipo, Dalang Ngarbi hingga sekarang Dalang Suhar.
“Itu yang saya ketahui. Tapi sebenarnya sudah ada sejak dulu-dulu. Sudah ratusan tahun lebih,” kisahnya.
Wayang Topeng Kedungpanjang sekilas mirip dengan ketoprak. Bedanya, para pemainnya mengenakan topeng sedangkan dialognya dinarasikan oleh dalang. Namun meski wajah para pemain tertutup topeng, aura karakter dari tiap tokoh begitu terasa.
Wayang Topeng Kedungpanjang dijaga secara turun temurun oleh warga dukuh ini. Para pemain yang ada sekarang ini pun dikatakannya rata-rata meneruskan orang tua, bahkan kakek maupun buyutnya. Bagi warga setempat, Wayang Topeng Kedungpanjang telah menjadi kebanggaan tersendiri.
Seni wayang topeng ini berbeda dengan seni lain. Baik dari segi motif topengnya, dan cara pemakaiannya. Topengnya dikethuk (Baca, gigit) bukan ditali atau dikalungkan seperti topeng biasanya. Selain itu irama karawitannya juga unik.
Untuk cerita yang dibawakan setiap tahunnya adalah Among Tani. Cerita itu tidak pernah berganti dengan cerita lain. Menurutnya, diperkirakan hal itu karena sebagian besar warga Kedungpanjang bermata pencaharaian sebagai petani.
Karena menjadi "pusaka" desa, pelestarian wayang topeng ini mendapat perhatian lebih. Agar tetap eksis dilakukan pengkaderan seniman wayan topeng mulai dari usia sekolah dasar. (aua/him) Editor : Ali Mustofa