RADAR KUDUS - Dreame Technology menghentikan bisnis otomotifnya dan berencana menutup perusahaan-perusahaan yang terkait dengan proyek Starry Sky, hanya sekitar satu tahun setelah produsen perangkat rumah tangga asal China itu mengumumkan ambisi masuk ke industri mobil listrik.
Keputusan tersebut sekaligus mengakhiri proyek yang sempat menarik perhatian lewat konsep mobil dengan akselerasi 0-100 km/jam hanya 0,9 detik dan teknologi baterai solid-state dengan klaim kepadatan energi lebih dari 450 Wh/kg.
Langkah Dreame ini menjadi perubahan drastis dibandingkan rencana awal perusahaan. Pada puncak ekspansinya, divisi otomotif disebut memiliki hampir 1.000 pekerja.
Baca Juga: BYD Racco vs Wuling Aira EV, Adu Jarak Tempuh dan Kepraktisan Mobil Listrik Mungil
Namun setelah serangkaian pengurangan tenaga kerja, jumlahnya kini menyusut menjadi hanya beberapa puluh orang yang bertugas menyelesaikan urusan administratif, termasuk persoalan keuangan, hukum, hubungan dengan pemasok, serta proses penutupan badan usaha.
Padahal, sepanjang awal 2026 Dreame justru semakin agresif memperkenalkan ambisi otomotifnya. Pada Januari, perusahaan menampilkan mobil sport listrik di ajang CES.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya 27 April, Dreame memperkenalkan Nebula Next 01 Jet Edition di San Francisco, kendaraan yang kemudian dikenal luas sebagai “Rocket Car”.
Mobil tersebut menjadi pusat perhatian karena menggabungkan sistem penggerak listrik dengan dua pendorong berbahan bakar padat.
Menurut klaim Dreame saat peluncuran, sistem tersebut mampu menghasilkan daya dorong maksimum 100 kilonewton dengan waktu respons 150 milidetik.
Perusahaan juga menyebut akselerasi 0-100 km/jam dapat dicapai hanya dalam 0,9 detik.
Bukan hanya performa yang dibuat spektakuler. Dreame juga mengklaim telah mengembangkan baterai all-solid-state berbasis sulfida dengan kepadatan energi lebih dari 450 Wh/kg.
Teknologi tersebut diklaim mampu mendukung jarak tempuh CLTC lebih dari 550 km pada kendaraan yang diperkenalkan.
Namun, sejumlah laporan kemudian mempertanyakan seberapa jauh proyek tersebut telah berkembang dari konsep menuju produk produksi massal.
China Economy, yang menjadi sumber laporan mengenai penghentian bisnis tersebut, mengutip mantan karyawan yang mempertanyakan kesiapan teknis beberapa kendaraan demonstrasi Dreame.
Baca Juga: BYD Sealion 08 Meluncur 2 September, SUV Listrik Bawa Baterai 115 kWh dan Jarak Tempuh 900 Km
Menurut laporan itu, model supercar yang dipamerkan sebelumnya disebut belum memiliki sasis dan dipindahkan menggunakan kendali jarak jauh.
Sementara model “Rocket Car” dilaporkan berasal dari model kendaraan yang dibeli dari perusahaan pembuat model di Shanghai dan kemudian dimodifikasi untuk kebutuhan demonstrasi.
Laporan tersebut juga menggambarkan pola ekspansi Dreame yang sangat agresif.
Sejumlah mantan pekerja mengklaim perusahaan lebih dahulu mengejar pendanaan sebelum mengalokasikan anggaran penelitian dan pengembangan secara penuh.
Ada pula tudingan bahwa perusahaan menawarkan gaji tinggi dan posisi dengan jabatan besar untuk menarik talenta dari industri otomotif mapan.
Meski demikian, klaim dari mantan karyawan tersebut perlu diposisikan sebagai laporan sumber internal, bukan sebagai fakta teknis yang telah dibuktikan secara independen.
Dreame sendiri sebelumnya secara resmi mempromosikan Nebula Next 01 Jet Edition sebagai kendaraan eksperimental dengan teknologi roket, baterai solid-state, serta sistem steer-by-wire.
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa persoalan Dreame bukan sekadar penghentian proyek mobil, tetapi juga bagian dari strategi perusahaan untuk mempersempit fokus bisnis.
TechNode melaporkan pada 25 Agustus bahwa Dreame kini berkonsentrasi pada empat bidang utama yang mencakup smart home, perawatan area luar ruangan, smart mobility, dan embodied AI.
Sementara itu, laporan China Economy menyebut bisnis inti yang dipertahankan Dreame mencakup produk pembersih rumah, robot pemotong rumput, kendaraan listrik roda dua, serta lini robot “Magic Atom”.
Baca Juga: Suzuki e Sky Siap Tantang BYD Racco, Mobil Listrik Kei-Car dengan Jarak Tempuh 310 Km
Perusahaan tetap mengejar rencana untuk masuk ke pasar modal meski ambisi membangun bisnis mobil telah dihentikan.
Perjalanan Dreame di industri otomotif berlangsung sangat singkat. Perusahaan baru mengumumkan masuk ke sektor kendaraan listrik pada Agustus 2025 dan sempat menargetkan pengembangan mobil berperforma tinggi.
Pada April 2026, Dreame bahkan masih menyatakan rencana menggunakan pendekatan kerja sama dengan produsen otomotif yang sudah memiliki fasilitas produksi, sementara perusahaan berfokus pada pengembangan teknologi inti.
Kini, rencana tersebut tidak lagi menjadi prioritas. Proyek yang sempat menjanjikan mobil listrik dengan akselerasi ekstrem dan baterai solid-state berkapasitas tinggi harus berakhir sebelum mencapai tahap produksi massal.
Kisah Dreame menunjukkan betapa sulitnya mengubah keberhasilan di industri elektronik konsumen menjadi bisnis kendaraan listrik.
Mobil bukan hanya membutuhkan teknologi dan desain, tetapi juga pengembangan produk jangka panjang, validasi keselamatan, manufaktur, rantai pasok, regulasi, hingga kemampuan produksi dalam skala besar.
Bagi industri kendaraan listrik China, kasus Dreame juga menjadi pengingat bahwa klaim teknologi yang spektakuler belum otomatis menjamin lahirnya produk komersial.
Terlebih, persaingan EV China kini diisi pemain yang telah memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan kendaraan, baterai, manufaktur, dan jaringan distribusi.
Dengan ditutupnya bisnis otomotif, “Rocket Car” Dreame akhirnya lebih mungkin dikenang sebagai proyek teknologi eksperimental daripada calon mobil produksi.
Klaim akselerasi 0-100 km/jam 0,9 detik dan baterai solid-state 450 Wh/kg yang pernah menjadi sorotan pun berhenti sebagai bagian dari ambisi besar yang tidak sempat diwujudkan menjadi kendaraan produksi massal.
Editor : Mahendra Aditya