Jakarta – Kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax 92 per 10 Juni menjadi Rp 16.250 per liter dari tarif sebelumnya Rp 12.300 per liter, memicu perbincangan hangat di kalangan pengendara.
Lonjakan yang menyentuh angka hampir Rp 4.000 per liter ini tentu mempertebal pengeluaran operasional para pemilik kendaraan roda dua.
Kondisi tersebut memicu dilema bagi para pemilik skutik bongsor premium seperti Honda PCX dan Yamaha Nmax.
Banyak yang mulai menimbang-nimbang untuk memindahkan konsumsi bahan bakar kendaraan mereka ke jenis RON 90 bersubsidi, yakni Pertalite.
Namun, amankah keputusan "turun kasta" bensin ini bagi kesehatan mesin keduanya?
Simulasi Perbandingan Biaya Full Tank
Jika ditinjau dari kacamata efisiensi dompet, selisih pengisian daya tampung bensin memang terlihat sangat signifikan:
-
Honda PCX (Kapasitas Tangki 8,1 Liter): Untuk mengisi tangki secara penuh (full tank) menggunakan Pertamax, pengendara kini harus merogoh kocek sebesar Rp 131.625. Sementara jika beralih ke Pertalite yang harganya dipatok Rp 10.000 per liter, biaya yang dikeluarkan menyusut tajam menjadi hanya sekitar Rp 81.000.
-
Yamaha Nmax (Kapasitas Tangki 7,1 Liter): Pengisian penuh menggunakan Pertamax memerlukan dana sebesar Rp 115.375. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan jika diisi penuh dengan Pertalite yang hanya menghabiskan dana sebesar Rp 71.000.
Menakar Rasio Kompresi Mesin vs Nilai Oktan
Meskipun menggiurkan bagi isi dompet, aspek teknis durabilitas mesin tidak boleh dikesampingkan.
Mengutip rilis dari Astra Honda Motor, rasio kompresi mesin merupakan perbandingan matematis antara volume silinder dan ruang bakar saat piston berada di Titik Mati Bawah (TMB) dibandingkan dengan volume ruang bakar ketika piston naik ke Titik Mati Atas (TMA).
Sebagai ilustrasi, jika volume silinder saat piston di TMB adalah 1.000 cc, lalu menyusut menjadi 100 cc saat piston berada di TMA, maka rasio kompresi mesin tersebut adalah 10:1.
Berdasarkan panduan teknis yang dilansir dari laman Wahana Honda, pemetaan ideal konsumsi oktan bensin terhadap kompresi kendaraan diatur sebagai berikut:
-
Rasio Kompresi 10:1 hingga 11:1: Direkomendasikan menggunakan BBM jenis RON 92 (Pertamax).
-
Rasio Kompresi 11:1 hingga 12:1: Direkomendasikan menggunakan BBM jenis RON 95.
Melihat data di atas, Honda PCX yang dibekali spesifikasi rasio kompresi mesin tinggi sebesar 12:1 secara mutlak tidak disarankan untuk menenggak bensin beroktan rendah seperti Pertalite (RON 90).
Ancaman Kerusakan Berdasarkan Buku Panduan Manual
Regulasi teknis serupa juga berlaku mengikat bagi para pemilik Yamaha Nmax.
Memiliki rasio kompresi mesin sebesar 11,6:1, skutik andalan Yamaha ini sejatinya membutuhkan asupan bahan bakar minimal dengan standar RON 92.
Mengacu pada lembar buku petunjuk pemilik (manual book) resmi Yamaha Nmax, memaksakan asupan bensin yang berada di bawah standar rekomendasi pabrikan dipastikan dapat memicu rentetan gangguan performa dan kerusakan struktural.
"Gunakan hanya bensin yang tidak ada kandungan timbal. Penggunaan bensin berkandungan timbal dapat menimbulkan kerusakan parah bagi komponen-komponen internal mesin, seperti klep dan ring piston, tak terkecuali sistem pembuangan," tulis instruksi dalam buku petunjuk pemilik Nmax.
Memaksa motor berkompresi tinggi menggunakan bensin beroktan rendah berpotensi memicu gejala knocking (mesin menggelitik).
Dalam jangka panjang, alih-alih menghemat pengeluaran harian, penurunan kualitas BBM ini justru berisiko menimbulkan biaya perbaikan turun mesin yang jauh lebih mahal.
Editor : Iwan Arfianto