Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tanpa Insentif Pemerintah, Penjualan Motor Listrik Anjlok Tajam di 2025

Iwan Arfianto • Rabu, 24 Desember 2025 | 18:12 WIB
PRODUK LOKAL: Pramuniaga menunjukkan motor listrik dari perusahaan asal Kudus.
PRODUK LOKAL: Pramuniaga menunjukkan motor listrik dari perusahaan asal Kudus.

RADAR KUDUS – Ketiadaan subsidi pembelian motor listrik pada tahun 2025 berdampak signifikan terhadap kinerja penjualan.

Sepanjang tahun ini, penjualan sepeda motor listrik di Indonesia dilaporkan merosot hingga sekitar 70 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya saat insentif masih diberikan pemerintah.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI), Hanggoro Ananta, menyebut belum adanya kepastian kelanjutan subsidi sebesar Rp 7 juta per unit menjadi faktor utama melemahnya minat masyarakat.

Baca Juga: Tarif Terbaru Pembuatan Paspor RI 2025 Resmi Berlaku, Ini Rinciannya

Kondisi tersebut membuat harga motor listrik kembali naik dan dinilai kurang kompetitif di pasar.

“Dua tahun sebelumnya, pemerintah memberikan insentif Rp 7 juta untuk pembelian motor listrik dan itu sangat membantu meningkatkan penjualan, khususnya bagi anggota AISMOLI,” ujar Hanggoro dalam Diskusi Publik Insentif Kendaraan Listrik yang diselenggarakan Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) di Jakarta, Selasa (23/12/2025).

Berdasarkan catatan industri, penjualan motor listrik sempat menunjukkan tren positif pada 2023 dan 2024.

Pada 2023, penjualan tercatat menembus lebih dari 40 ribu unit, kemudian meningkat signifikan menjadi di atas 60 ribu unit pada 2024.

Namun, kondisi berubah drastis pada 2025, di mana penjualan hanya mampu mencapai belasan ribu unit.

Hanggoro menambahkan, tanpa adanya insentif di 2025, penurunan penjualan mencapai kisaran 60 hingga 70 persen.

Dari sisi penetrasi pasar, kontribusi motor listrik terhadap total penjualan sepeda motor nasional juga ikut menyusut.

Baca Juga: Emas Antam Terbang Lagi, Harga Sentuh Rp 2,59 Juta per Gram

“Saat masih ada insentif, penetrasi motor listrik terhadap motor konvensional bisa mencapai 1,2 sampai 1,3 persen. Setelah insentif dihentikan, angkanya turun ke sekitar 0,7 hingga 0,8 persen,” jelasnya.

Meski demikian, sejumlah produsen motor listrik berupaya bertahan dengan menerapkan strategi bisnis alternatif.

Salah satu pendekatan yang mulai digunakan adalah skema sewa baterai atau battery as a service, sehingga harga on the road (OTR) motor listrik dapat ditekan dan terlihat lebih terjangkau bagi konsumen.

Strategi tersebut telah diterapkan oleh beberapa pabrikan dalam negeri, termasuk produsen motor listrik asal Kudus, Polytron.

Skema ini dinilai mampu menjaga daya tarik produk di tengah absennya subsidi pemerintah.

“Beberapa anggota kami mencoba melakukan formulasi bisnis agar harga tetap kompetitif. Salah satunya melalui mekanisme baterai sewa, dan ini cukup membantu mendorong penjualan,” pungkas Hanggoro.

Editor : Ali Mustofa
#Aismoli #motor listrik #subsidi motor listrik