RADAR KUDUS – Kejuaraan dunia Formula One secara resmi mengonfirmasi prosedur start baru yang akan diterapkan pada balapan pembuka musim di Australian Grand Prix.
Perubahan ini diumumkan oleh direktur balapan F1, Rui Marques, sebagai respons terhadap kekhawatiran teknis yang muncul selama uji coba pramusim.
Langkah ini bertujuan memastikan proses start balapan berlangsung lebih aman dan tertib, terutama setelah adanya perubahan besar pada unit tenaga (power unit) mobil F1 generasi terbaru.
Dalam penjelasannya kepada media, Rui Marques menyampaikan bahwa prosedur baru akan dimulai setelah seluruh mobil kembali ke posisi grid usai menjalani formation lap.
Ia menjelaskan bahwa panel lampu di grid akan menampilkan indikator khusus sebelum urutan lampu start tradisional dimulai.
Secara garis besar, prosedurnya adalah sebagai berikut:
1. Setelah seluruh mobil kembali ke posisi start di grid, panel lampu grid akan menyala biru berkedip selama lima detik.
2. Pada saat yang sama, panel informasi di start gantry akan menampilkan pesan “Pre-Start.”
3. Setelah lima detik tersebut berakhir, urutan lima lampu merah klasik Formula 1 akan dimulai sesuai regulasi FIA.
Prosedur ini dirancang untuk memberikan waktu tambahan bagi para pembalap mempersiapkan mesin sebelum lampu start utama menyala.
Perubahan prosedur start ini tidak muncul tanpa alasan. Musim ini, Formula 1 memperkenalkan konfigurasi mesin yang telah dimodifikasi, termasuk penghapusan komponen MGU-H (Motor Generator Unit-Heat) dari sistem hybrid.
MGU-H sebelumnya berfungsi memanfaatkan panas dari turbocharger untuk menghasilkan energi sekaligus membantu menjaga putaran turbo tetap stabil.
Tanpa komponen tersebut, turbocharger membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai putaran optimal.
Akibatnya, pembalap harus menjaga putaran mesin (RPM) tetap tinggi saat start agar turbo tidak mengalami turbo lag—kondisi ketika respons tenaga terlambat muncul setelah pedal gas diinjak.
Kondisi ini menjadi perhatian besar karena bisa menyebabkan beberapa mobil gagal melaju dengan cepat saat lampu start padam, yang berpotensi menimbulkan situasi berbahaya di grid.
Solusi awal terhadap masalah tersebut sebenarnya sudah diuji saat tes pramusim di Bahrain Grand Prix. Dalam simulasi tersebut, FIA mencoba sistem lampu biru lima detik sebelum urutan lampu merah dimulai.
Tujuannya adalah memberikan waktu tambahan bagi pembalap untuk memastikan mesin berada pada putaran optimal.
Hasil uji coba tersebut dinilai cukup efektif untuk mengurangi risiko mobil terlambat start atau kehilangan tenaga saat balapan dimulai.
Oleh karena itu, sistem yang sama akan diterapkan secara resmi pada balapan di Australia.
Langkah ini juga diharapkan dapat meningkatkan keselamatan, terutama jika ada pembalap yang mengalami kesulitan saat start.
Selain perubahan pada prosedur start, FIA juga mengumumkan aturan tambahan terkait teknologi aerodinamika aktif yang diperkenalkan musim ini.
Salah satu fitur baru tersebut adalah Straight Mode, bagian dari sistem aerodinamika aktif yang memungkinkan mobil mengoptimalkan kecepatan di lintasan lurus dengan mengurangi hambatan udara.
Namun, untuk menjaga keselamatan pada awal balapan, FIA menetapkan bahwa: Straight Mode hanya boleh digunakan setelah Tikungan 1 pada lap pertama.
Pembatasan ini bertujuan mencegah pembalap langsung memanfaatkan keuntungan aerodinamika maksimum saat grid masih sangat padat.
Perubahan-perubahan ini menunjukkan bagaimana Formula 1 terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi mobil balap modern. Setiap inovasi teknis sering kali membawa konsekuensi terhadap cara balapan dijalankan.
Dengan prosedur start baru dan aturan tambahan terkait aerodinamika, FIA berharap dapat menjaga keseimbangan antara inovasi teknis, keselamatan pembalap, dan kualitas kompetisi di lintasan.
Balapan di Australia akan menjadi ajang pertama untuk melihat bagaimana sistem baru ini bekerja dalam kondisi balapan sesungguhnya.
Para tim dan pembalap pun harus beradaptasi dengan cepat agar tidak kehilangan keuntungan sejak detik pertama balapan dimulai. (*)
Editor : Ali Mustofa