RADAR KUDUS - PSIS Semarang memilih jalan ekstrem untuk bertahan hidup. Menjelang dimulainya putaran ketiga Liga Championship 2025/2026—yang dulu dikenal sebagai Liga 2—klub berjuluk Mahesa Jenar ini melakukan manuver besar-besaran: merekrut 19 pemain baru dalam satu paruh musim.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Musim yang berjalan tidak berpihak, performa tak stabil, dan ancaman degradasi semakin nyata.
Maka, bagi PSIS, putaran ketiga bukan lagi tentang memburu prestasi, melainkan menyelamatkan eksistensi.
Baca Juga: Putaran Ketiga Liga 2 PSIS Semarang, Setiap Laga Adalah Final!
Jogjakarta Jadi Dapur Perubahan
Sejak beberapa pekan terakhir, PSIS memusatkan persiapan melalui pemusatan latihan (training camp/TC) di Yogyakarta.
Kota ini dipilih bukan hanya karena fasilitas, tetapi juga sebagai ruang netral—jauh dari tekanan suporter dan hiruk pikuk kota asal.
Di sela TC, PSIS menjalani laga uji coba melawan UAD FC, klub Liga 4. Hasilnya mencolok: kemenangan telak 9-0, dengan Alberto “Beto” Goncalves tampil dominan.
Namun, skor besar dalam laga uji coba bukan tolok ukur mutlak. Yang lebih penting bagi tim pelatih adalah membaca kompatibilitas pemain baru, bukan sekadar produktivitas gol.
Baca Juga: Selain Andalkan 19 Rekrutan Pemain Baru, PSIS Semarang Dapat Support Penuh dari Panser Biru dan Snex
19 Rekrutan: Solusi atau Masalah Baru?
Datangnya Thaufan Hidayat dari Deltras FC dan Fridolin Kristof Yoku dari Persipura Jayapura melengkapi daftar panjang pemain anyar PSIS di bursa transfer paruh kedua.
Thaufan, penyerang berusia 32 tahun, diboyong untuk mendongkrak daya dobrak. Catatan dua gol dan dua assist dari delapan laga bersama Deltras menjadi modal pengalaman, bukan jaminan ketajaman.
Sementara Fridolin Kristof Yoku diplot sebagai penguat sektor tengah bertahan—pos yang selama ini kerap menjadi titik bocor PSIS. Gelandang berusia 28 tahun ini diharapkan menjadi penyeimbang, sekaligus peredam tekanan lawan.
Dengan masuknya dua nama tersebut, PSIS resmi memiliki 19 rekrutan baru—angka yang jarang ditemui di tengah kompetisi.
Strategi Darurat Bernama Kedalaman Skuad
Jika dibaca dari sudut pandang manajemen, langkah ini menunjukkan satu pesan jelas: PSIS tidak mau menyerah pada keadaan.
Namun, strategi merekrut hampir satu tim baru juga menyimpan risiko besar. Adaptasi, chemistry, dan pemahaman taktik tidak bisa dibangun instan. Terlebih, PSIS saat ini masih berada dalam masa transisi kepelatihan.
Usai pemecatan Jafri Sastra, manajemen belum menunjuk pelatih kepala definitif. Alfredo Vera memang sudah hadir, tetapi perannya sebagai Direktur Teknik lebih menekankan pengawasan sistem, bukan komando harian penuh.
“Terlepas dari hasil, kami ingin mengobservasi dan menganalisis pemain untuk diterapkan ke sistem yang sedang kami kembangkan,” ujar Vera.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa PSIS masih dalam tahap eksperimen, bahkan ketika kompetisi sudah di depan mata.
Baca Juga: PSIS Semarang Wajib All Out di Putaran Ketiga Kalau Tak Mau Terdegradasi
Waktu yang Tidak Bersahabat
TC PSIS dijadwalkan berakhir pada 10 Februari 2026. Sementara putaran ketiga Liga Championship akan mulai digelar lima hari kemudian, 15 Februari 2026.
Artinya, waktu yang tersedia untuk menyatukan 19 pemain baru, menyusun struktur permainan, dan menanamkan disiplin taktik terbilang sangat sempit.
Dalam konteks ini, kemenangan besar atas UAD FC lebih tepat dibaca sebagai indikasi kesiapan fisik, bukan kematangan tim.
Antara Harapan Suporter dan Realitas Lapangan
Bagi Panser Biru dan Snex, rekrutan massal ini memantik dua reaksi berlawanan: harapan dan kecemasan.
Harapan bahwa wajah-wajah baru bisa memberi energi segar. Kecemasan bahwa terlalu banyak perubahan justru membuat tim kehilangan identitas.
Namun, dalam situasi genting, PSIS memang tidak memiliki banyak pilihan. Bertahan dengan skuad lama berarti menerima risiko stagnasi. Berubah drastis berarti bertaruh pada adaptasi cepat.
Daftar 19 Pemain Baru PSIS Putaran Ketiga
-
Tegar Infantrie (pinjaman Persita)
-
Gustur Cahyo
-
Fahmi Al-Ayyubi
-
Wawan Febrianto
-
Ocvian Chanigio
-
Alberto Goncalves
-
Esteban Vizcarra
-
Otavio Dutra
-
Aldair Simanca
-
Rafinha (pinjaman PSIM)
-
Denilson Rodrigues
-
Mario Londok
-
Alwi Fadilah
-
Rangga Sumarna
-
M. Rio Saputra
-
Muhammad Hidayat
-
Ibrahim Sanjaya
-
Thaufan Hidayat
-
Fridolin Kristof Yoku
Daftar ini mencerminkan satu hal: PSIS tidak setengah-setengah dalam bertahan.
Putaran Ketiga: Penilaian Sesungguhnya
Putaran ketiga akan menjadi ruang penghakiman. Bukan hanya bagi pemain baru, tetapi juga bagi kebijakan manajemen.
Apakah banjir rekrutan ini akan menjadi kisah kebangkitan? Atau justru bukti bahwa perubahan terlalu masif sulit dikendalikan?
Jawabannya akan ditentukan bukan di bursa transfer, melainkan di lapangan—dalam laga-laga ketat, di bawah tekanan, saat waktu dan ruang semakin sempit.
Bagi PSIS Semarang, satu hal pasti: tidak ada lagi ruang untuk coba-coba. Putaran ketiga adalah batas terakhir sebelum jurang degradasi benar-benar terbuka.
Editor : Mahendra Aditya