Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

4 Pelatih Lokal yang Cocok untuk PSIS Semarang Setelah Pecat Jafri Sastra

Mahendra Aditya Restiawan • Senin, 2 Februari 2026 | 18:14 WIB
Logo PSIS
Logo PSIS

RADAR KUDUS - PSIS Semarang memasuki fase paling genting dalam perjalanan mereka di Liga 2 Pegadaian Championship 2025/2026.

Pemecatan Jafri Sastra bukan sekadar pergantian pelatih, melainkan alarm keras bahwa waktu hampir habis. Dengan sembilan laga tersisa, Mahesa Jenar tak lagi punya ruang untuk salah memilih nakhoda.

Manajemen bergerak cepat. Regulasi mewajibkan pelatih lokal dengan lisensi minimal AFC A, sementara tekanan publik menuntut sosok yang bukan hanya sah secara administrasi, tetapi juga siap secara mental dan taktis.

Di tengah situasi ini, empat nama pelatih lokal yang saat ini belum terikat klub mencuat sebagai kandidat realistis—masing-masing membawa risiko dan peluangnya sendiri.

Berbeda dari sorotan umum yang hanya menilai rekam jejak, konteks PSIS hari ini menuntut pendekatan lain: siapa yang paling siap masuk ke ruang ganti panas, memulihkan kepercayaan pemain, dan langsung menghasilkan poin?

Baca Juga: Sosok Jafri Sastra dan Kisah yang Berakhir Terlalu Cepat di PSIS Semarang

PSIS Bukan Sekadar Ganti Pelatih, Tapi Menentukan Arah

Jafri Sastra hanya bertahan lima laga. Itu fakta yang menegaskan bahwa problem PSIS bukan soal waktu adaptasi, melainkan ketidaksinkronan visi dan hasil.

Putaran ketiga Liga 2 bukan fase eksperimen. Ini fase bertahan hidup.

Sembilan pertandingan ke depan akan menentukan dua hal ekstrem: bertahan atau tenggelam. Tak ada jalan tengah. Karena itu, pilihan pelatih kini lebih menyerupai keputusan strategis jangka pendek—siapa yang paling siap “memadamkan api”.

Baca Juga: Tak Kunjung Mentas dari Zona Degradasi, PSIS Pecat Jafri Sastra, Butuh Pelatih Seperti Ini

1. Sudirman – Pengendali Ruang Ganti yang Tenang

Sudirman bukan nama baru dalam sepak bola nasional. Lisensi AFC A sudah di tangan, pengalaman panjang sebagai asisten pelatih Persija Jakarta dan tim nasional usia muda memberinya kelebihan dalam manajemen tim.

Meski kiprahnya sebagai pelatih kepala Persiku Kudus berakhir lebih cepat dari rencana, konteksnya jelas: tim sedang tidak stabil.

Namun justru di situlah nilai Sudirman—ia terbiasa bekerja dalam tekanan struktural.

Untuk PSIS, Sudirman bisa menjadi solusi jangka pendek yang aman. Bukan tipe revolusioner, tetapi cukup rasional untuk mengamankan poin demi poin.

2. Ilham Romadhona – Spesialis Tim Sulit

Nama Ilham Romadhona mungkin tidak sepopuler kandidat lain, namun rekam jejaknya menunjukkan satu pola: ia kerap masuk ke tim-tim yang sedang bermasalah.

Lisensi AFC A, pengalaman di PSPS Pekanbaru, PSCS Cilacap, hingga Barito Putera U18 memperlihatkan fleksibilitasnya. Ia juga sempat menjadi bagian dari staf kepelatihan Timnas Indonesia U-19 dan U-20—modal penting dalam mengelola pemain muda PSIS.

Kelemahan Ilham adalah konsistensi hasil jangka pendek. Namun kelebihannya ada pada keberanian merombak struktur permainan tanpa banyak drama.

Baca Juga: Usai Pecat Jafri Sastra, PSIS Diisukan Incar Alfredo Vera

3. Kurniawan Dwi Yulianto – Taruhan Berani dengan Lisensi Pro AFC

Jika PSIS ingin bertaruh lebih tinggi, Kurniawan Dwi Yulianto adalah nama yang sulit diabaikan. Lisensi Pro AFC, pengalaman internasional, dan pemahaman modern sepak bola menjadi nilai jual utama.

Pengalaman melatih Sabah FC di Malaysia, terlibat di Como 1907 (Italia), hingga menjadi Direktur Teknik PSPS Pekanbaru menunjukkan spektrum keahliannya luas—bukan sekadar pelatih lapangan.

Namun pertanyaannya satu: apakah PSIS butuh arsitek jangka panjang atau pemadam kebakaran instan?

Jika jawabannya yang pertama, Kurniawan adalah pilihan paling logis. Jika yang kedua, risikonya cukup besar.

4. Seto Nurdiantoro – Spesialis Promosi dan Tekanan

Nama Seto Nurdiantoro punya resonansi kuat di Liga 2. Prestasi membawa PSS Sleman promosi ke Liga 1 pada 2018 masih menjadi referensi utama.

Lisensi Pro AFC, pengalaman panjang di PSIM dan PSS, serta kemampuan mengelola tekanan publik menjadikan Seto kandidat paling “siap pakai”.

Meski perpisahannya dengan PSIM musim lalu tak berjalan mulus, reputasi Seto sebagai pelatih kompetitif tak luntur.

Untuk PSIS yang butuh hasil cepat, Seto menawarkan satu hal penting: pengalaman hidup di zona kritis.

Baca Juga: Pemain Asing PSIS Semarang Tak Berdaya, Pemain Kendal Tornado Ekspolsif dan Sistemnya Berjalan

Pilihan PSIS: Aman, Berani, atau Realistis

Empat nama, empat karakter, empat risiko berbeda. PSIS tak hanya memilih pelatih, tetapi memilih pendekatan: stabilisasi, rekonstruksi cepat, atau perjudian terukur.

Yang jelas, sembilan laga ke depan bukan tentang sepak bola indah. Ini tentang efektivitas, disiplin, dan keputusan tanpa ragu.

Jika salah langkah, konsekuensinya bukan sekadar gagal promosi—melainkan degradasi dan kerusakan jangka panjang.

Editor : Mahendra Aditya
#pelatih psis #psis #Jafri Sastra dipecat #PSIS Semarang #Pelatih PSIS Semarang #Pelatih PSIS dipecat #Liga 2 #jafri sastra