RADAR KUDUS - Keputusan PSIS Semarang mengakhiri kerja sama dengan Jafri Sastra bukan sekadar pergantian pelatih biasa.
Ini adalah sinyal keras: Mahesa Jenar sedang berada di tepi jurang, dan satu keputusan keliru lagi bisa menyeret klub kebanggaan Jawa Tengah itu ke degradasi yang memalukan.
Putaran kedua Pegadaian Championship 2025/2026 memang sudah selesai. Namun bagi PSIS, fase itu meninggalkan warisan paling pahit: posisi ke-9 Grup Timur, zona merah, dengan hanya 11 poin dari 18 pertandingan. Jarak tiga angka dari batas aman terasa dekat di atas kertas, tapi realitanya jauh lebih rumit.
Manajemen memilih jalan paling cepat yang tersedia di sepak bola Indonesia—memecat pelatih. Tapi pertanyaannya bukan lagi mengapa Jafri Sastra dilepas, melainkan siapa yang cukup kuat untuk menggantikannya.
Baca Juga: Usai Pecat Jafri Sastra, PSIS Diisukan Incar Alfredo Vera
Evaluasi Resmi, Tekanan Nyata
Asisten manajer PSIS, Reza Handhika, menyebut pemutusan kontrak Jafri Sastra sebagai hasil evaluasi menyeluruh demi memperbaiki performa tim di putaran ketiga. Bahasa yang rapi, normatif, dan sering terdengar di ruang konferensi pers.
Namun publik tahu, evaluasi itu lahir dari tekanan berlapis: hasil buruk, klasemen yang tak bergerak, serta kekecewaan suporter yang mulai kehilangan kesabaran.
PSIS terjebak di zona degradasi terlalu lama untuk klub dengan sejarah, basis massa, dan sumber daya sebesar Mahesa Jenar. Di titik ini, pergantian pelatih memang hampir tak terelakkan.
Baca Juga: Kalah di Kandang, Persiba di Ambang Bahaya Meski Nishihara Terus Mencetak Gol
Statistik Jafri: Tidak Sepenuhnya Gagal
Menariknya, jika ditelanjangi dari emosi, catatan Jafri Sastra sebenarnya tidak sepenuhnya buruk.
Dalam tujuh laga kepemimpinannya, ia menyumbang tiga kemenangan—sebuah capaian yang bahkan tak mampu diraih pelatih sebelumnya.
Kemenangan atas Persiba Balikpapan (1-0), Persipal Palu (2-0), dan Persela Lamongan (1-0) menunjukkan PSIS sempat menemukan formula pragmatis: bermain aman, rapi, dan efisien.
Lebih dari itu, PSIS mencatatkan tiga laga tanpa kebobolan. Statistik yang sebelumnya nyaris mustahil bagi lini belakang Mahesa Jenar.
Namun sepak bola bukan hanya soal grafik naik-turun. Dua kekalahan telak beruntun di kandang—masing-masing 0-3 dari Deltras FC dan Kendal Tornado—menghapus semua modal kepercayaan yang tersisa. Kekalahan itu bukan sekadar kehilangan poin, tetapi kehilangan wibawa.
Di situlah nasib Jafri Sastra diputuskan.
Masalah PSIS Lebih Dalam dari Sekadar Pelatih
Memecat pelatih sering kali memberi ilusi perubahan cepat. Padahal, problem PSIS jauh lebih struktural.
Tim ini belum memiliki identitas bermain yang jelas. Transisi bertahan kerap lambat, jarak antarlini renggang, dan konsistensi nyaris tak pernah hadir selama satu musim penuh.
Ketika menang, PSIS tampak solid. Saat kalah, mereka runtuh nyaris tanpa perlawanan.
Dalam tiga laga terakhir saja, gawang PSIS kebobolan enam gol—kontras tajam dengan periode nirbobol sebelumnya. Ini menandakan rapuhnya fondasi, bukan sekadar kesalahan individu.
Karena itu, pengganti Jafri Sastra tak boleh sekadar “pelatih tersedia”. PSIS butuh figur dengan otoritas absolut.
Mengapa PSIS Butuh Pelatih Sekelas Bernardo Tavares
Nama Bernardo Tavares menjadi referensi ideal, bukan karena statusnya yang kini menukangi Persebaya Surabaya, tetapi karena metodologi yang ia bawa.
Saat datang ke PSM Makassar, Bernardo tidak mewarisi tim juara. Ia datang ke klub yang nyaris tak punya arah. Namun dengan disiplin ketat, struktur bertahan kuat, dan identitas bermain yang konsisten, ia mengubah PSM menjadi mesin kompetitif—bukan hanya bertahan, tapi mendominasi.
Inilah tipe pelatih yang dibutuhkan PSIS saat ini.
Bukan figur kompromi. Bukan pelatih darurat. Bukan solusi jangka pendek.
PSIS memerlukan pelatih dengan karakter keras, berani tidak populer, dan sanggup berkata “tidak” pada pemain bintang sekalipun.
Pelatih yang tak sekadar mengejar poin mingguan, tapi membangun ulang mental ruang ganti yang telah lama rapuh.
Skuad Sudah Gemuk, Arah Masih Kosong
Ironisnya, dari sisi materi pemain, PSIS sebenarnya tidak miskin.
Manajemen telah mendatangkan 14 pemain baru. Tiga legiun asing—Denilson Rodrigues, Rafael Rodrigues, dan Aldair Simanca—sudah diamankan. Nama-nama senior seperti Otavio Dutra, Alberto Goncalves, dan Esteban Vizcarra memperkaya pengalaman tim.
Pemain lokal pun tidak kalah berlapis: Mario Londok, Wawan Febrianto, Ocvian Chanigio, Tegar Infantrie, Fahmi Al-Ayyubi, hingga Rangga Sumarna.
Di atas kertas, ini skuad bertahan hidup.
Masalahnya satu: tidak ada otak yang menyatukan semuanya.
Tanpa pelatih dengan gagasan jelas dan keberanian mengambil keputusan ekstrem, skuad ini hanya akan menjadi kumpulan nama tanpa cerita.
Putaran Ketiga: Taruhan Terakhir Mahesa Jenar
Putaran ketiga Pegadaian Championship adalah fase tanpa toleransi. Setiap kesalahan akan dibayar mahal.
Setiap poin bernilai ganda. Lawan datang dengan persiapan matang, sementara PSIS datang dengan luka batin.
Memecat Jafri Sastra adalah langkah besar. Namun langkah yang lebih menentukan justru ada di depan mata: siapa penggantinya.
Jika PSIS kembali memilih aman, degradasi hanya tinggal menunggu waktu. Jika berani mengambil risiko dengan pelatih bertangan besi, peluang bertahan masih terbuka.
Di titik ini, Mahesa Jenar tidak butuh tambalan.
Mereka butuh pemimpin.
Dan waktu terus berjalan.