RADAR KUDUS - Putaran kedua Liga 2 Pegadaian Championship 2025/2026 berakhir dengan kenyataan pahit bagi Persiba Balikpapan.
Bermain di kandang sendiri, Stadion Batakan, skuad Beruang Madu harus mengakui keunggulan Deltras FC dengan skor 1-2.
Kekalahan itu bukan sekadar kehilangan tiga poin, tetapi menegaskan posisi Persiba sebagai salah satu tim paling tertekan jelang fase penentuan musim.
Hasil negatif tersebut memastikan Persiba finis di peringkat kedelapan Grup Timur. Posisi ini menempatkan klub kebanggaan Kota Balikpapan ke dalam kelompok papan bawah, sekaligus menyeret mereka ke situasi sulit di putaran ketiga Championship.
Namun di tengah keterpurukan kolektif, satu nama tetap bersinar: Takumu Nishihara.
Kekalahan Kandang yang Menjadi Alarm Keras
Laga kontra Deltras FC sejatinya dibuka dengan optimisme. Persiba unggul lebih dulu melalui eksekusi penalti Takumu Nishihara pada menit ke-10.
Stadion Batakan bergemuruh, seolah memberi isyarat bahwa kemenangan kandang masih mungkin diraih.
Namun euforia itu tak bertahan lama. Deltras FC merespons cepat dan menyamakan kedudukan hanya sepuluh menit berselang.
Setelah itu, Persiba kembali menunjukkan masalah klasik: rapuh dalam menjaga tempo, kehilangan fokus, dan gagal mengontrol permainan di momen krusial.
Gol kedua Deltras menjadi pukulan telak. Hingga peluit akhir dibunyikan, Persiba tak mampu membalikkan keadaan. Kekalahan kandang ini menjadi simbol dari perjalanan musim yang penuh inkonsistensi.
Statistik yang Tak Bisa Ditawar
Secara angka, performa Persiba Balikpapan di putaran kedua sulit dibantah. Dari 18 pertandingan, mereka hanya mengoleksi 14 poin, hasil dari 4 kemenangan, 2 kali imbang, dan 11 kekalahan.
Catatan tersebut menempatkan Persiba sebagai salah satu tim dengan rasio kekalahan tertinggi di Grup Timur.
Dalam kompetisi seketat Liga 2, angka-angka ini bukan sekadar statistik—melainkan gambaran nyata krisis performa.
Sesuai regulasi PSSI, finis di peringkat delapan membuat Persiba harus menjalani putaran ketiga dengan kondisi tidak ideal: empat laga kandang dan lima laga tandang. Ketimpangan ini memperbesar tekanan yang sudah ada.
Putaran Ketiga: Jalur Terjal Beruang Madu
Format putaran ketiga Championship menuntut konsistensi tinggi. Bagi Persiba, tantangan menjadi berlipat karena mereka harus lebih sering bertandang ke markas lawan-lawan berat.
Di kandang, Persiba dijadwalkan menjamu Persipura Jayapura, PSS Sleman, Persiku Kudus, dan PSIS Semarang. Empat laga ini saja sudah cukup menggambarkan beratnya beban yang harus dipikul.
Sementara di laga tandang, Persiba harus bertarung di markas Barito Putera, Deltras FC, Persela Lamongan, Kendal Tornado, dan Persipal Palu. Kombinasi jadwal ini membuat margin kesalahan nyaris nol.
Putaran ketiga bukan lagi soal berkembang atau bereksperimen. Ini fase bertahan hidup.
Baca Juga: Klasemen Liga 2 Pegadaian 2025/2026 Grup Barat: Persaingan Ketat, Papan Atas Belum Aman
Takumu Nishihara, Produktif di Tengah Kekacauan
Di tengah situasi genting, Takumu Nishihara tetap menunjukkan profesionalisme dan ketajaman. Gol penalti ke gawang Deltras FC menjadi gol ke-10 striker asal Jepang itu bersama Persiba musim ini.
Capaian tersebut terbilang impresif, mengingat Persiba bukan tim dengan suplai bola melimpah.
Nishihara kerap harus bekerja ekstra—turun menjemput bola, membuka ruang, dan menjadi target serangan utama.
Catatan manis lainnya datang saat Persiba bertandang ke markas PSIS Semarang pada September 2025.
Saat itu, Nishihara mencetak dua gol dan menjadi penentu kemenangan—salah satu momen terbaik Persiba musim ini.
Rekrutan Asing yang Tak Salah Pilih
Takumu Nishihara merupakan pemain asing pertama yang direkrut Persiba untuk musim ini. Ia didatangkan dari Young Elephants dengan reputasi mentereng sebagai top skor Liga Laos musim sebelumnya.
Adaptasi Nishihara terbilang cepat. Ia bukan tipe striker yang hanya menunggu bola, melainkan aktif membaca ruang dan memanfaatkan peluang sekecil apa pun. Dalam tim yang sering kalah penguasaan bola, efektivitas semacam ini sangat berharga.
Masalahnya, sepak bola tak bisa dimenangkan sendirian.
Masalah Persiba Lebih dari Sekadar Gol
Jika melihat secara objektif, persoalan Persiba bukan pada lini depan semata. Gol Nishihara membuktikan bahwa mereka punya penyelesai peluang.
Masalah sebenarnya terletak pada ketahanan tim secara keseluruhan—transisi bertahan, konsentrasi lini belakang, dan pengelolaan emosi saat unggul.
Kerap kali Persiba gagal menjaga keunggulan. Pola ini berulang sepanjang musim, termasuk di laga pamungkas melawan Deltras FC. Situasi ini menunjukkan bahwa problem Persiba bersifat struktural, bukan insidental.
Di Persimpangan Nasib
Kini, Persiba Balikpapan berdiri di persimpangan musim. Putaran ketiga akan menjadi ujian terakhir: apakah mereka mampu bertahan dan memperbaiki posisi, atau justru semakin terpuruk.
Dalam situasi seperti ini, sosok seperti Takumu Nishihara menjadi krusial—bukan hanya sebagai pencetak gol, tetapi sebagai simbol harapan.
Namun tanpa perbaikan kolektif, kontribusi individu sekelas apa pun akan sulit mengubah arah musim.
Persiba tidak kekurangan semangat. Yang mereka butuhkan adalah ketegasan, disiplin, dan keberanian mengambil risiko di momen yang tepat.
Jika tidak, musim ini akan dikenang sebagai cerita tentang striker produktif di tim yang kehilangan arah.
Editor : Mahendra Aditya