RADAR KUDUS – Dukungan ribuan suporter di Stadion Jatidiri Semarang kembali berujung kekecewaan.
PSIS Semarang harus mengakui keunggulan Kendal Tornado FC dengan skor telak 0-3 dalam laga Pegadaian Championship 2025–2026, Jumat (30/1/2026).
Kekalahan ini semakin memperpanjang catatan buruk tim Mahesa Jenar di hadapan pendukungnya sendiri.
Baca Juga: Harlah ke-100 NU di Istora Senayan, Presiden Prabowo dan 10 Ribu Peserta Dijadwalkan Hadir
Sejak peluit awal dibunyikan, laga berjalan dengan tensi tinggi.
Kendal Tornado FC yang dijuluki Laskar Badai Pantura tampil tanpa beban meski berstatus tim tamu.
Mereka berani menekan lebih awal dan tidak memberi PSIS ruang nyaman untuk mengembangkan permainan.
Sebaliknya, PSIS mencoba mengandalkan penguasaan bola dan serangan balik cepat, namun kerap terhenti oleh pressing ketat lawan.
Babak pertama berlangsung relatif seimbang hingga memasuki menit-menit akhir.
PSIS masih mampu meredam sejumlah peluang Kendal Tornado, sementara lini depan Mahesa Jenar belum menemukan celah untuk membongkar pertahanan lawan.
Namun petaka datang di penghujung babak pertama. Pada menit 45+3, Gufroni Al Ma’ruf yang mengenakan nomor punggung 66 sukses memecah kebuntuan.
Baca Juga: Harga Emas di Pegadaian Merosot, Galeri24 dan UBS Kompak Turun Rp89 Ribu per Gram
Tendangannya sebenarnya tidak terlalu keras, namun kiper PSIS Mario Londok gagal mengamankan bola yang justru meluncur masuk ke sisi kanan gawang.
Gol tersebut membuat Stadion Jatidiri terdiam.
Situasi PSIS semakin sulit setelah Denilson harus meninggalkan lapangan akibat menerima kartu kuning kedua.
Bermain dengan 10 orang membuat keseimbangan permainan Mahesa Jenar terganggu.
Kendal Tornado memanfaatkan kondisi ini dengan meningkatkan intensitas serangan pada babak kedua.
Baca Juga: Harga Emas Antam Anjlok Rp260 Ribu, Kini di Level Rp2,86 Juta per Gram
Tekanan demi tekanan terus dilancarkan melalui umpan silang dan bola-bola lambung ke jantung pertahanan PSIS.
Meski sempat beberapa kali digagalkan barisan belakang Mahesa Jenar, Kendal Tornado akhirnya kembali mencetak gol.
Akbar Firmansyah, bernomor punggung 57, menggandakan keunggulan lewat penyelesaian tenang setelah membaca umpan panjang dengan baik.
PSIS mencoba merespons dengan serangan balik cepat dari sisi sayap kanan dan kiri.
Upaya tersebut dilakukan dengan agresif, namun pertahanan Kendal Tornado tampil disiplin dan mampu mematahkan hampir semua ancaman.
Alih-alih memperkecil ketertinggalan, PSIS justru kembali kebobolan.
Gol ketiga dicetak Ibnu Hajar, pemain bernomor punggung 22, melalui sepakan keras yang tak mampu diantisipasi kiper PSIS.
Baca Juga: Shalat, Anugerah Langit Penjaga Keseimbangan Hidup Manusia
Gol demi gol yang bersarang di gawang Mahesa Jenar memicu kekecewaan mendalam para pendukung.
Sejumlah suporter meluapkan emosinya dengan teriakan dan makian dari tribun.
Stadion Jatidiri yang biasanya bergemuruh dukungan, malam itu menjadi saksi bisu kekecewaan 2.200 penonton yang hadir.
Hingga peluit panjang dibunyikan, PSIS tak mampu mencetak satu gol pun.
Kekalahan 0-3 ini membuat posisi PSIS masih terpuruk di papan bawah klasemen, bertengger di peringkat sembilan atau dua terbawah.
Laga kontra Kendal Tornado FC sekaligus menjadi penutup putaran kedua Pegadaian Championship musim 2025–2026.
Baca Juga: Menautkan Hati kepada Allah SWT di Tengah Perubahan Zaman
Usai pertandingan, pelatih PSIS Semarang Jafri Sastra mengakui hasil tersebut sangat mengecewakan. Ia menyebut kerja keras anak asuhnya belum berbuah manis.
“Sore ini kami hanya sebatas bekerja keras, tapi hasil akhirnya sangat mengecewakan dan tidak sesuai dengan yang kami sampaikan sebelumnya,” ujar Jafri.
Ia juga menyoroti faktor kartu merah yang kembali menghantui timnya dalam dua laga terakhir.
Menurutnya, kondisi tersebut sangat memengaruhi keseimbangan permainan.
“Kami ingin menang, tetapi sore ini itu tidak bisa kami capai. Dua pertandingan terakhir kami selalu dihadapkan pada situasi yang tidak ideal, termasuk kartu merah,” katanya.
Meski demikian, Jafri menegaskan timnya akan terus berbenah.
Evaluasi akan dilakukan di semua lini, mulai dari pertahanan, chemistry antarpemain, hingga aspek mental bertanding.
“Kami akan terus memperbaiki kekurangan, baik itu pertahanan, kekompakan tim, maupun aspek lainnya,” pungkasnya.
Kekalahan ini menjadi alarm keras bagi PSIS. Di tengah tuntutan suporter dan ketatnya persaingan kompetisi, Mahesa Jenar dituntut segera menemukan kembali jati diri permainan agar tidak terus terperosok di sisa musim yang masih panjang.
Editor : Ali Mustofa