Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bukan Liga 1, Bukan Liga 2: Gol-Gol Terbanyak Justru Lahir di Liga 3, Donald Bissa dan Daud Kararbo Memimpin Daftar Top Skor

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 27 Januari 2026 | 18:36 WIB
Donald Bissa Dejan FC
Donald Bissa Dejan FC

RADAR KUDUS - Liga 3 Indonesia musim 2025/2026 diam-diam menyimpan cerita yang jauh lebih menarik daripada sekadar hasil pertandingan.

Di balik minim sorotan dan keterbatasan fasilitas, kasta ketiga justru menghadirkan drama kebangkitan dua penyerang yang pernah mencicipi kerasnya sepak bola level atas.

Nama mereka bukan wajah baru: Donald Bissa dan Daud Kararbo. Dua latar belakang berbeda, dua jalur karier yang berliku, namun kini bertemu di satu titik yang sama—puncak daftar pencetak gol Liga 3.

Dengan masing-masing 10 gol, keduanya bukan hanya berbagi status top skor, tetapi juga membawa narasi bahwa Liga 3 bukan kuburan karier, melainkan ladang kesempatan kedua.

Baca Juga: 19 Ribu Lebih Datang ke Stadion Saat Persipura Jayapura vs PSS Sleman, Rekor Tercipta

Donald Bissa: Dari Euforia Juara ke Perburuan Ulang Identitas

Donald Bissa pernah merasakan gemerlap Liga 1 bersama PSM Makassar. Datang sebagai bomber naturalisasi dengan darah Pantai Gading, namanya sempat menjadi simbol harapan baru di lini depan Juku Eja.

Meski menit bermainnya terbatas, Bissa tetap tercatat sebagai bagian dari skuad juara musim 2022/2023. Ia mungkin bukan aktor utama, tetapi pernah berdiri di panggung tertinggi sepak bola nasional—sebuah pengalaman yang tidak dimiliki banyak pemain.

Namun sepak bola tidak selalu ramah. Setelah meninggalkan PSM, kariernya bergerak ke arah yang lebih sunyi. Hingga akhirnya Liga 3 membuka pintu baru.

Bersama Dejan FC, Bissa tampil tanpa beban reputasi. Hasilnya mencolok. 10 gol dari 11 laga—rasio yang menunjukkan bahwa naluri mencetak golnya belum hilang, hanya sempat tertidur.

Di Liga 3, Bissa bukan pemain pelapis. Ia menjadi tumpuan, pemecah kebuntuan, dan pusat permainan. Tanpa tekanan kamera nasional, ia justru bermain lebih bebas, lebih lapar, dan lebih efektif.

Baca Juga: Perjalanan Panjang Mutiara Hitam: 24 Pemain Dibawa, Persipura Siap Tempur Hadapi Persiku Kudus

Daud Kararbo: Penantian Panjang yang Akhirnya Terbayar

Jika Bissa adalah cerita tentang mantan juara, maka Daud Kararbo adalah kisah tentang kesabaran yang nyaris terlupakan.

Nama Daud sempat tercatat sebagai bagian dari Arema FC pada 2017. Namun, catatan statistiknya kosong. Tidak satu pun penampilan resmi ia jalani. Kariernya seolah berhenti sebelum benar-benar dimulai.

Tahun-tahun berikutnya ia habiskan di Liga 2, berpindah klub, mencari ritme, dan menunggu kesempatan yang tak kunjung stabil. Hingga akhirnya Persinab Nabire memberinya panggung.

Keputusan itu terbukti krusial. Di Liga 3, Daud menemukan lingkungan yang mempercayainya sepenuhnya. Ia selalu dimainkan sejak menit awal, tak tergantikan dalam 12 pertandingan, dan menjawabnya dengan 10 gol.

Hattrick ke gawang Persika dan dua gol saat menghadapi RANS FC menjadi bukti bahwa ketajamannya bukan kebetulan. Di usia 27 tahun, Daud bermain seperti striker yang akhirnya berdamai dengan dirinya sendiri.

Baca Juga: All-In Demi Bertahan: Persijap Jepara Bertaruh Mahal pada Bintang Indian Super League

Liga 3 dan Paradoks Sepak Bola Indonesia

Kisah Bissa dan Daud menyoroti paradoks lama sepak bola nasional: semakin ke bawah level kompetisi, semakin jujur permainannya.

Di Liga 3, nama besar tak lagi menjadi tiket otomatis. Yang bertahan hanyalah mereka yang mau bekerja, berlari, dan mencetak gol. Di sinilah banyak pemain justru menemukan kembali esensi sepak bola—sederhana, keras, dan penuh determinasi.

Keduanya menjadi simbol bahwa jalur karier pesepak bola tidak selalu linear. Turun kasta bukan selalu kemunduran. Dalam banyak kasus, justru menjadi titik balik.

Statistik yang Berbicara, Bukan Reputasi

Menariknya, baik Bissa maupun Daud mencetak gol dengan cara berbeda. Bissa dikenal dengan penempatan posisi dan penyelesaian cepat di kotak penalti. Sementara Daud mengandalkan agresivitas, duel udara, dan keberanian menekan bek lawan.

Namun satu kesamaan mereka jelas: efektivitas. Sepuluh gol bukan angka kecil di kompetisi dengan jadwal padat dan lapangan yang sering jauh dari ideal.

Liga 3 menuntut adaptasi cepat. Siapa yang tidak siap mental dan fisik, akan tenggelam. Fakta bahwa dua nama ini justru memimpin daftar top skor menunjukkan kualitas yang tidak bisa diabaikan.

Bukan Sekadar Top Skor, Tapi Sinyal untuk Liga di Atasnya

Performa mereka mengirim pesan jelas ke klub Liga 2 dan bahkan Liga 1. Talenta tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat.

Dalam ekosistem sepak bola Indonesia yang sering terpaku pada nama lama dan pemain asing mahal, Liga 3 menjadi ruang alternatif yang jujur untuk mencari striker produktif.

Donald Bissa dan Daud Kararbo adalah contoh konkret: pengalaman dan rasa lapar bisa menjadi kombinasi mematikan jika diberi kepercayaan.

Baca Juga: Ditinggal Komisaris, Krisis Dana, Sriwijaya FC Kini Berjuang Sekadar Tidak WO

Pertanyaan Besar di Akhir Musim

Jika tren ini berlanjut, pertanyaan tak terelakkan akan muncul: ke mana langkah mereka berikutnya?

Apakah Bissa akan kembali ke kasta atas dengan status penyerang matang?
Apakah Daud akhirnya mendapat pengakuan yang lama tertunda?

Jawabannya mungkin belum datang sekarang. Namun satu hal pasti—Liga 3 musim ini telah memberi mereka panggung untuk bicara lewat gol, bukan narasi masa lalu.

Dan di sepak bola, itu selalu menjadi bahasa yang paling jujur.

Editor : Mahendra Aditya
#liga 3 indonesia #Top Skor Liga 3 #liga 3 #Donald Bissa #Dejan FC #Daud Kararbo #Liga 2