RADAR KUDUS - Persijap Jepara memilih jalan ekstrem. Di saat banyak klub menahan diri pada bursa transfer paruh musim, Laskar Kalinyamat justru menekan tombol all-in.
Dana besar digelontorkan, skuad dirombak, dan lima pemain asing berlabel Indian Super League didatangkan sekaligus. Ini bukan belanja biasa—ini taruhan hidup-mati.
Manajemen Persijap sadar betul, bertahan di Liga 1 tak bisa dicapai dengan tambal sulam. Posisi di papan bawah memaksa klub mengambil risiko besar: mengorbankan stabilitas finansial jangka pendek demi peluang bertahan di kasta tertinggi sepak bola nasional.
Langkah nekat itu langsung diuji. Dan hasilnya, setidaknya untuk awal, tidak mengecewakan.
Baca Juga: Menang 2-0 atas PSM Makassar, Ini Kata Pelatih Persijap Jepara
Efek Instan: PSM Makassar Tumbang di Jepara
Debut para pemain anyar terjadi pada pekan ke-18 BRI Super League 2025/26. Persijap menjamu PSM Makassar di Stadion Gelora Bumi Kartini, Sabtu (24/1/2026). Lawan yang dihadapi bukan tim sembarangan—PSM adalah salah satu kekuatan mapan Liga 1.
Namun malam itu, skenario berubah. Persijap tampil agresif, disiplin, dan efektif. Skor 2-0 menutup laga dan menghadirkan kejutan di Jepara. Bukan hanya tiga poin yang diraih, tetapi sinyal kebangkitan.
Kemenangan tersebut langsung mengangkat posisi Persijap di klasemen. Laskar Kalinyamat naik dua tingkat ke peringkat 16 dengan koleksi 12 poin. Zona merah memang belum sepenuhnya ditinggalkan, tetapi jarak harapan kini terbuka.
Bukan Sekadar Pemain Baru, Ini Restrukturisasi Tim
Yang membedakan langkah Persijap kali ini adalah skalanya. Klub tidak hanya menambah satu-dua pemain, melainkan mengubah wajah tim secara signifikan. Lima pemain asing dengan latar belakang Indian Super League direkrut dalam satu paket.
Langkah ini mencerminkan satu hal: manajemen menilai masalah tim bukan di detail kecil, melainkan di struktur permainan secara keseluruhan.
Indian Super League dipilih bukan tanpa alasan. Kompetisi tersebut dikenal cepat, fisikal, dan menuntut disiplin taktik tinggi. Karakter itu dianggap cocok untuk mengangkat intensitas permainan Persijap yang sebelumnya kerap kehilangan momentum.
Baca Juga: Ditinggal Komisaris, Krisis Dana, Sriwijaya FC Kini Berjuang Sekadar Tidak WO
Alexis Gomez dan Carlos Franca: Jawaban Lini Depan
Dari Mohammedan SC, Persijap memboyong Alexis Nahuel Gomez dan Carlos Henrique Franca. Dua nama ini diplot sebagai solusi instan di sektor serang yang selama putaran pertama kerap tumpul.
Gomez dikenal memiliki mobilitas tinggi dan naluri mencetak gol yang tajam. Sementara Franca memberi variasi serangan dengan kekuatan fisik dan kemampuan membuka ruang. Kombinasi keduanya diharapkan mengakhiri satu masalah klasik Persijap: banyak peluang, minim konversi.
Iker dan Borja: Otak Permainan dari FC Goa
Tak berhenti di depan, lini tengah Persijap juga dirombak. Iker Guarrotxena Vallejo dan Borja Herrera Gonzalez, dua eks FC Goa, didatangkan untuk memberi kendali permainan.
Keduanya dikenal sebagai gelandang dengan visi bermain matang. Iker unggul dalam distribusi bola dan membaca tempo, sementara Borja piawai menjaga keseimbangan antara bertahan dan menyerang.
Bagi Persijap, kehadiran dua pemain ini bukan sekadar menambah kualitas teknis, tetapi meningkatkan kecerdasan bermain tim secara kolektif—hal yang krusial dalam laga-laga tekanan tinggi di papan bawah.
Tiri: Fondasi Baru di Lini Belakang
Rekrutan paling menyita perhatian publik adalah Jose Luis Espinosa Arroyo, atau Tiri. Bek tengah berpengalaman ini pernah menjadi andalan Mumbai City FC dan dinobatkan sebagai salah satu bek terbaik Indian Super League musim 2023/24.
Kehadiran Tiri menjawab satu kelemahan utama Persijap: rapuh di lini pertahanan. Dengan postur ideal, kepemimpinan kuat, dan kemampuan membaca permainan, Tiri langsung menjadi poros pertahanan.
Dalam laga debutnya, dampaknya terasa jelas. Pertahanan Persijap tampil lebih rapi, jarak antarlini terjaga, dan tekanan lawan bisa diredam sejak awal.
Risiko Finansial yang Tak Bisa Diabaikan
Di balik euforia kemenangan, ada pertanyaan besar: seberapa aman langkah ini secara finansial?
Menggelontorkan dana besar di tengah musim adalah keputusan berisiko. Jika gagal bertahan di Liga 1, beban kontrak pemain asing berpotensi menjadi masalah baru. Namun manajemen Persijap tampaknya sadar betul akan konsekuensi itu.
Pilihan mereka tegas: bertaruh sekarang atau tenggelam perlahan.
Dalam pernyataan resminya pada Senin (26/1/2026), manajemen Persijap menegaskan bahwa perekrutan pemain ISL adalah bukti keseriusan klub untuk tetap bersaing di level tertinggi. Targetnya jelas—bertahan di Liga 1, apa pun risikonya.
Baca Juga: Pekan Terakhir Liga 2 Grup 1: PSMS di Titik Penentuan, FC Bekasi City Datang Tanpa Beban
Ujian Sesungguhnya Bernama Konsistensi
Satu kemenangan belum cukup. Liga 1 menyisakan banyak pertandingan, dan tekanan akan semakin besar. Lawan-lawan berikutnya tidak akan memberi kejutan mudah.
Tantangan utama Persijap kini adalah konsistensi. Pemain baru harus cepat beradaptasi, chemistry harus dibangun dalam waktu singkat, dan stamina mental harus dijaga.
Jika tren positif berlanjut, langkah agresif ini bisa dikenang sebagai keputusan penyelamat. Namun jika performa kembali turun, belanja besar itu akan dicap sebagai perjudian gagal.
Lebih dari Sekadar Bertahan
Yang menarik, ambisi Persijap tidak berhenti pada bertahan. Dari cara manajemen bergerak, terlihat ada keinginan membangun fondasi jangka menengah—membentuk tim dengan standar permainan lebih tinggi.
Bagi klub seperti Persijap, bertahan di Liga 1 berarti menjaga identitas, sejarah, dan basis pendukung. Degradasi bukan sekadar turun kasta, tetapi kerugian struktural yang dampaknya bisa bertahun-tahun.
Karena itu, langkah all-in ini adalah pesan keras: Persijap belum siap menyerah.
Editor : Mahendra Aditya