Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

VAR, Kartu Merah, dan Gol Maradona: Pekan 18 BRI Super League Penuh Luka dan Gol Ikonik

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 27 Januari 2026 | 18:18 WIB
BRI Super League Liga 1 Indonesia
BRI Super League Liga 1 Indonesia

RADAR KUDUS - Pekan ke-18 BRI Super League 2025/2026 tidak hanya menghadirkan skor dan klasemen.

Matchday ini berubah menjadi panggung cerita—tentang euforia yang dipatahkan VAR, debut yang terasa seperti lelucon pahit, hingga satu gol solo run yang menghidupkan kembali memori Piala Dunia 1986.

Sebanyak 23 gol tercipta dalam satu pekan. Namun yang membuat putaran ini membekas bukan jumlahnya, melainkan bagaimana gol-gol itu lahir, dianulir, atau justru mengubah mental satu tim dalam hitungan menit.

Empat tim papan atas—Persib Bandung, Borneo FC, Persija Jakarta, dan Malut United—menutup laga dengan kemenangan. Sebagian diraih dengan kerja keras, sebagian lewat dominasi penuh.

Di sisi lain, beberapa tim harus pulang dengan rasa frustrasi yang sulit dijelaskan hanya lewat angka statistik.

Baca Juga: Tekanan Maksimal di Deli Serdang, PSMS Tak Punya Pilihan Selain Menang

Dominasi Papan Atas: Menang Sulit, Menang Besar, dan Menang dengan Luka

Persib Bandung kembali menunjukkan mengapa mereka masih menjadi tolok ukur stabilitas liga. Kemenangan tipis 1-0 atas PSBS memang tidak spektakuler, namun justru mencerminkan kedewasaan bermain. Saat peluang minim, Persib memilih disiplin dan kesabaran.

Borneo FC juga melanjutkan konsistensinya. Bermain di Stadion Manahan, mereka sukses mencuri kemenangan dari Persis Solo. Laga berjalan ketat, tapi satu momen cukup untuk memastikan tiga poin pulang ke Samarinda.

Persija Jakarta mendapat ujian mental berbeda. Dua gol dari titik putih memang sah secara aturan, namun meninggalkan catatan: Macan Kemayoran masih bergantung pada momen, bukan alur permainan.

Kemenangan paling mencolok dicatat Malut United. Bermain di hadapan publik Ternate, mereka menggulung Persik Kediri empat gol tanpa balas. Ini bukan sekadar kemenangan besar, melainkan pernyataan kekuatan.

Baca Juga: Liga Nusantara 2025/2026: Panggung Terakhir Klub Daerah Bertahan Hidup, Peta Promosi dan Ancaman Degradasi

Ledakan Gol dan Malam Kelam Persik Kediri

Persik Kediri datang dengan optimisme setelah perombakan skuad dan kehadiran pemain asing baru. Namun realitas di lapangan berkata lain. Kartu merah yang diterima Rezaldi Hehanussa menjadi titik balik.

Setelah bermain dengan sepuluh orang, pertahanan Persik runtuh. Empat gol bersarang deras, membuat laga berubah dari kompetitif menjadi satu arah. Dalam konteks mental tim, kartu merah ini bukan hanya hukuman individu, tetapi penghancur rencana kolektif.

Gol Terindah Pekan Ini: Ketika Maradona “Hadir” di Bantul

Dari 23 gol yang tercipta, satu momen berdiri sendiri. Gol Rachmat Irianto ke gawang PSIM bukan sekadar gol—itu adalah narasi.

Berawal dari intersepsi di lini tengah, Irianto melaju tanpa ragu. Tiga pemain lawan dilewati. Kiper tak berkutik. Stadion terdiam sejenak, lalu meledak.

Aksi ini segera dibandingkan dengan gol legendaris Diego Armando Maradona ke gawang Inggris di Piala Dunia 1986. Bukan karena hasil akhirnya, melainkan karena prosesnya: kepercayaan diri, keberanian, dan insting.

Pelatih Persebaya bahkan tak ragu melontarkan pujian setinggi langit, menyematkan nama “Diego Armando” pada sang pemain. Ini mungkin hiperbola, namun menunjukkan betapa langkanya gol dengan kualitas seperti itu di liga domestik.

Baca Juga: 90 Menit Terakhir PSMS Medan: Menang atau Musim Berakhir di Rumah

VAR dan Dua Gol Debutan yang Berakhir Antiklimaks

Jika ada satu tema pahit di pekan ini, itu adalah VAR sebagai perusak selebrasi.

Persis Solo merasakannya lebih dulu. Bek anyar asal Serbia, Dusan Mijic, sempat mencetak gol debut yang indah. Stadion bersorak. Namun VAR berkata lain. Offside. Gol dianulir. Euforia berubah menjadi sunyi.

Nasib serupa menimpa striker anyar Persija, Alaeddine Ajaraie. Gol pantulan yang ia lesakkan usai penalti Maxwell ditepis kiper Madura United sempat dirayakan penuh emosi. Beberapa detik kemudian, VAR mematahkan semuanya. Masuk kotak penalti terlalu cepat.

Dua debutan, dua selebrasi, dua kekecewaan. Inilah wajah lain sepak bola modern: teknologi yang adil, tapi sering terasa kejam.

Kartu Merah: Satu Pelanggaran, Satu Musim Terancam

Selain Persik, PSBS juga mengalami nasib serupa. Kartu merah Heri Susanto pada menit ke-56 menjadi awal kehancuran struktur pertahanan.

Sebelum kartu merah, PSBS tampil disiplin dan membuat Persib frustrasi. Setelah itu, keseimbangan hilang. Gol penentu Persib lahir, dan peluang PSBS mencuri poin ikut sirna.

Dalam sepak bola level tertinggi, satu keputusan wasit bisa menjadi garis pemisah antara hasil heroik dan kekalahan yang menyakitkan.

Angle yang Jarang Dibahas: Pekan Ini Soal Psikologi, Bukan Taktik

Jika ditarik lebih jauh, pekan ke-18 BRI Super League bukan tentang formasi atau strategi. Ini tentang ketahanan mental.

Tim yang mampu mengelola emosi—seperti Persib dan Borneo FC—tetap stabil. Tim yang kehilangan fokus satu detik—karena kartu merah atau euforia berlebihan—langsung dihukum.

Liga sedang memasuki fase di mana tekanan lebih berbahaya dari lawan.

Super League Semakin Manusiawi

Drama pekan ini menunjukkan satu hal: BRI Super League semakin manusiawi. Ada kegembiraan yang dibatalkan, ada kesalahan fatal, ada momen magis yang tak bisa dilatih.

Dan justru di situlah daya tariknya.

Editor : Mahendra Aditya
#liga 3 #var #Gol Rachmat Irianto #BRI Super League 2025/2026 #BRI Super League #Liga 2 #liga 1