RADAR KUDUS - Stadion Pakansari Bogor mendadak senyap pada Jumat sore, 23 Januari 2026.
Bukan karena cuaca atau minim penonton, melainkan karena satu kenyataan pahit: Persikad Depok benar-benar tak berdaya menghadapi efektivitas FC Bekasi City.
Skor akhir 0-4 menegaskan satu hal—ini bukan kemenangan biasa, melainkan demonstrasi kekuatan.
Sorotan utama jatuh pada satu nama: Ezheciel N’Douassel. Striker asing Bekasi City itu mencetak dua gol (brace) dengan cara yang kontras namun sama mematikannya.
Satu lewat insting di kotak penalti, satu lagi melalui sundulan tajam di masa injury time. Dua gol itu bukan sekadar statistik, melainkan penanda bahwa Bekasi City kini memiliki mesin pembunuh yang bekerja nyaris tanpa cela.
Baca Juga: FC Bekasi City Hancurkan Persikad 4-0, Pesta Gol di Kandang Lawan
Gol Awal yang Mengubah Arah Laga
Sejak menit awal, Bekasi City menunjukkan bahwa mereka datang dengan rencana jelas. Tekanan tinggi, sirkulasi bola cepat, dan keberanian menekan di wilayah lawan membuat Persikad kesulitan mengembangkan permainan.
Pada menit ke-11, tekanan itu berbuah hasil. Ezheciel N’Douassel berdiri di tempat yang tepat pada waktu yang tepat.
Memanfaatkan kelengahan bek Persikad di kotak terlarang, ia menyambar bola dan membuka keunggulan. Gol ini bukan hanya membuat papan skor berubah, tetapi juga memukul mental tuan rumah.
Persikad mencoba merespons. Mereka sempat mencetak gol balasan jelang turun minum. Stadion bergemuruh—namun hanya sesaat. Wasit menganulir gol tersebut karena posisi offside. Momen ini menjadi titik krusial: dari peluang menyamakan skor, Persikad justru kehilangan momentum dan kepercayaan diri.
Babak Kedua: Ketika Efisiensi Jadi Pembeda
Memasuki babak kedua, Persikad berniat bangkit. Namun rencana itu runtuh hanya dalam hitungan menit. FC Bekasi City justru tampil semakin agresif dan rapi.
Menit ke-51, R. Ramadhan menggandakan keunggulan lewat sepakan keras yang tak mampu diantisipasi penjaga gawang Persikad. Gol ini menjadi pembuka dari fase paling kelam bagi tuan rumah.
Hanya satu menit berselang, Persikad kehilangan Nasution yang diganjar kartu merah akibat pelanggaran keras. Bermain dengan sepuluh orang menghadapi tim seefektif Bekasi City sama artinya dengan membuka pintu kekalahan lebih lebar.
Bekasi City Tak Mengampuni
Keunggulan jumlah pemain dimanfaatkan dengan cerdas. Bekasi City tidak terburu-buru. Mereka menguasai tempo, menarik Persikad keluar, lalu menyerang dengan presisi.
Pada menit ke-70, Saldi Amiruddin mencetak gol ketiga. Skema serangan terbangun rapi, memanfaatkan ruang kosong di lini belakang Persikad yang kian rapuh. Gol ini praktis mengunci laga.
Namun malam itu belum lengkap tanpa satu penegasan terakhir. Di masa injury time panjang, tepatnya menit 90+13, Ezheciel kembali muncul. Sundulan kerasnya memanfaatkan sepak pojok menjadi gol keempat—sekaligus brace yang menutup pertandingan dengan tanda seru.
Lebih dari Sekadar Brace
Dua gol Ezheciel bukan hanya tentang ketajaman individu. Itu adalah cerminan sistem permainan Bekasi City yang bekerja dengan baik. Ia tidak dipaksa bekerja sendirian, melainkan menjadi ujung dari rangkaian kerja kolektif tim.
Brace ini juga mengirim pesan ke pesaing di Wilayah Barat Pegadaian Championship 2026: Bekasi City bukan lagi tim kejutan. Mereka punya striker tajam, kedalaman skuad memadai, dan mental tandang yang solid.
Dampak di Klasemen dan Psikologi Liga
Kemenangan telak ini mengangkat FC Bekasi City ke peringkat tiga klasemen Wilayah Barat dengan koleksi 27 poin. Posisi ini bukan sekadar angka, tetapi bukti konsistensi.
Sebaliknya, Persikad Depok tertahan di peringkat tujuh dengan 22 poin. Kekalahan di kandang sendiri dengan margin besar jelas menjadi alarm keras. Bukan hanya soal pertahanan yang rapuh, tetapi juga daya tahan mental saat pertandingan berjalan tidak sesuai rencana.
Bekasi City dan Status Baru
Julukan Kuda Hitam mungkin masih melekat, tetapi performa di Pakansari menunjukkan bahwa Bekasi City telah melampaui label itu. Mereka bermain seperti tim papan atas—tenang, efisien, dan mematikan.
Jika tren ini berlanjut, kemenangan atas Persikad akan dikenang bukan sekadar sebagai laga besar, melainkan momen ketika Bekasi City benar-benar naik kelas.
Editor : Mahendra Aditya