Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Persis Solo Mainkan Strategi Survival: Eks Persebaya Jadi Jalan Keluar dari Jurang Degradasi

Mahendra Aditya Restiawan • Jumat, 23 Januari 2026 | 08:43 WIB
Laga Persebaya vs Persis Solo di GBT Surabaya.
Laga Persebaya vs Persis Solo di GBT Surabaya.

RADAR KUDUS - Bursa transfer paruh musim tak pernah sekadar soal datang dan pergi pemain. Bagi Persis Solo, jendela transfer musim 2025/2026 berubah menjadi ruang darurat—tempat keputusan harus diambil cepat, tepat, dan berdampak langsung.

Laskar Sambernyawa tengah berada di fase paling genting dalam beberapa musim terakhir, dan arah kebijakan mereka kini mengarah jelas: mengamankan pemain bermental Liga 1, bahkan jika harus menjemputnya dari Surabaya.

Persis saat ini masih berkutat di zona merah klasemen sementara. Dari 17 laga, klub kebanggaan Pasoepati itu baru mengumpulkan 10 poin dan terdampar di posisi ke-16.

Jarak enam angka dari PSBS Biak di zona aman bukan mustahil dikejar, tetapi kesalahan sekecil apa pun bisa berujung fatal. Dalam kondisi seperti ini, transfer bukan lagi proyek jangka panjang—melainkan upaya bertahan hidup.

Baca Juga: Jadwal Bola 23–24 Januari 2026: Malam Penentu Nasib Persija, Inter, dan Papan Klasemen


Transfer sebagai Instrumen Darurat

Manajemen Persis Solo menyadari satu hal: waktu tak berpihak. Paruh kedua musim menuntut skuad yang siap pakai, bukan eksperimen.

Itulah sebabnya pemain-pemain berpengalaman, terutama yang sudah terbukti di Liga 1, menjadi prioritas.

Sejarah pun berbicara. Persis pernah sukses besar dengan pendekatan serupa saat merekrut Sho Yamamoto, eks Persebaya Surabaya, yang kemudian menjelma sebagai kapten dan figur sentral tim. Pola itu kini coba diulang, dengan sasaran yang kembali mengarah ke Green Force.

Keputusan ini bukan kebetulan. Persebaya dikenal sebagai klub dengan standar kompetisi tinggi dan tekanan suporter luar biasa.

Pemain yang lolos dari ekosistem itu umumnya memiliki mental bertanding yang kuat—modal krusial dalam pertarungan degradasi.

Baca Juga: Derbi Borneo di Batakan: Persiba Cari Jati Diri, Barito Putera Jaga Takhta


Kadek Raditya: Rekrutan yang Mengirim Pesan

Langkah Persis mulai konkret ketika mereka resmi mengumumkan kedatangan Kadek Raditya, bek yang sebelumnya menjadi bagian penting lini belakang Persebaya.

Pengumuman ini bukan sekadar penambahan pemain, tetapi sinyal bahwa Persis serius menambal sektor paling rapuh: pertahanan.

“Bergabung untuk memberi jaminan aman di sektor belakang,” tulis akun resmi klub saat memperkenalkan Kadek. Kalimat singkat, namun sarat makna. Persis membutuhkan stabilitas, bukan sekadar nama besar.

Kadek datang dengan pengalaman dan karakter bertahan yang disiplin. Dalam situasi tekanan tinggi, sosok seperti ini sering kali lebih berharga daripada pemain muda penuh potensi namun minim jam terbang.


Nama yang Mengusik Emosi Bonek: Dejan Tumbas

Jika transfer Kadek Raditya menimbulkan perhatian, maka rumor Dejan Tumbas memicu reaksi emosional.

Penyerang yang pernah menjadi idola Bonek itu dikabarkan masuk radar Persis Solo, menyusul statusnya yang kini tanpa klub.

Kabar ini pertama kali mencuat lewat akun pemerhati sepak bola nasional dan langsung menyebar luas. Dejan Tumbas dianggap sebagai salah satu keputusan paling disesali oleh sebagian suporter Persebaya setelah dilepas di paruh musim.

Komentar bernada kecewa pun membanjiri media sosial. Banyak Bonek menilai Dejan layak dipertahankan, bahkan dibandingkan pemain asing lain yang masih bertahan. Reaksi ini justru memperlihatkan satu hal penting: nilai emosional Dejan masih tinggi.

Bagi Persis, kondisi ini menjadi peluang emas. Tanpa biaya transfer dan hanya bergantung pada negosiasi kontrak, Dejan bisa menjadi solusi cepat di lini depan—sekaligus suntikan mental bagi tim yang sedang terpuruk.

Baca Juga: Hasil Liga Europa Hari Ini, Aston Villa dan Lyon Melaju ke 16 Besar Liga Europa


Lebih dari Sekadar Tambahan Pemain

Yang menarik, pendekatan Persis Solo bukan sekadar berburu nama besar. Mereka tampak menyusun kepingan puzzle secara sistematis.

Setiap nama yang dikaitkan memiliki satu kesamaan: pengalaman, jam terbang, dan keterikatan emosional dengan klub besar.

Nama Irfan Jaya turut masuk dalam pusaran rumor. Meski masih terikat kontrak dengan Bali United hingga 2027, opsi peminjaman disebut menjadi jalan tengah. Irfan bukan sosok asing bagi Persebaya maupun publik sepak bola nasional.

Ia adalah bagian penting dari sejarah kebangkitan Persebaya di Liga 2, dengan kontribusi gol dan assist krusial.

Jika benar terealisasi, kehadiran Irfan Jaya akan memberi Persis dimensi berbeda di sektor sayap—kecepatan, naluri gol, dan pengalaman laga besar.


Alta Ballah dan Celah yang Terbuka

Selain lini serang, Persis juga membidik sektor kiri pertahanan. Nama Alta Ballah mencuat sebagai target realistis. Bek kiri Dewa United ini mulai kehilangan menit bermain, dan situasi tersebut membuka ruang negosiasi.

Alta Ballah bukan nama asing bagi Persebaya. Ia pernah berseragam Green Force dan mencatatkan kontribusi solid selama satu musim.

Pengalamannya bermain reguler dan fleksibilitas posisi membuatnya cocok untuk tim yang membutuhkan kedalaman skuad.

Bagi Persis, transfer semacam ini bukan soal romantisme masa lalu, melainkan efisiensi. Pemain yang minim adaptasi berarti waktu lebih cepat untuk berkontribusi.


Eksodus Persebaya: Kebetulan atau Pola?

Munculnya banyak nama eks Persebaya dalam radar Persis memunculkan satu pertanyaan besar: apakah ini kebetulan, atau strategi terencana?

Jika ditelisik lebih dalam, jawabannya condong ke yang kedua. Persis tampaknya membaca pasar dengan cermat. Mereka memanfaatkan dinamika internal klub besar, perubahan pelatih, dan keputusan teknis yang sering kali menyisakan pemain siap pakai.

Dalam konteks Liga 1 yang ketat, pemain-pemain ini mungkin bukan pilihan utama. Namun dalam pertarungan degradasi, pengalaman justru menjadi mata uang paling mahal.


Taruhan Besar di Paruh Musim

Langkah agresif Persis Solo di bursa transfer paruh musim adalah perjudian yang terukur. Jika berhasil, mereka bisa keluar dari zona merah dan mengamankan status Liga 1.

Jika gagal, konsekuensinya bukan hanya degradasi, tetapi juga kehilangan momentum jangka panjang.

Namun satu hal jelas: Persis tidak memilih diam. Mereka menyerang dengan cara berbeda—bukan dengan belanja mahal, melainkan dengan membaca celah, emosi, dan sejarah pemain.

Dalam sepak bola, terkadang keputusan paling berani bukan yang paling mencolok, tetapi yang paling tepat sasaran.

Editor : Mahendra Aditya
#persis solo #jadwal liga 1 #persebaya #liga 1