RADAR KUDUS - Cadillac resmi mencatat sejarah sebagai tim kedua yang melakukan shakedown perdana mobil Formula 1 regulasi 2026 secara langsung di sirkuit.
Momen bersejarah itu berlangsung di tengah suasana dingin dan sunyi Sirkuit Silverstone pada Jumat sore, ketika raungan mesin Ferrari menggema untuk pertama kalinya dengan Sergio Perez berada di balik kemudi mobil berbalut livery hitam polos.
Kemunculan Perez dari pit lane menjadi titik awal emosional bagi Cadillac sebagai tim anyar yang akan melakoni debutnya di Formula 1.
Mobil tersebut merupakan hasil pengembangan jangka panjang yang sepenuhnya dibangun dari nol, tanpa mengandalkan data mobil masa lalu sebagaimana dilakukan tim-tim mapan lainnya.
Cadillac memulai proyek ini dari lembaran kosong, melalui proses pembelajaran intensif, kolaborasi panjang hingga larut malam, sampai akhirnya mampu menghadirkan sebuah mobil F1 yang melaju mulus di Silverstone, yang merupakan sebuah pencapaian besar bagi tim pendatang baru.
Keberhasilan melaksanakan shakedown lebih awal di tengah penerapan regulasi teknis baru 2026 menjadi indikator positif bahwa Cadillac selangkah lebih maju dibandingkan sejumlah rivalnya.
Sama seperti Audi, tujuan utama shakedown ini adalah memastikan seluruh komponen, sensor, dan mesin berfungsi tanpa kendala, sekaligus mengidentifikasi potensi masalah sejak dini.
Meski sempat mengalami gangguan teknis yang menunda sesi selama sekitar tiga jam, seluruh kendala berhasil diatasi dan mobil akhirnya dapat berjalan tanpa hambatan.
Selain itu, shakedown ini juga menandai debut mesin Ferrari di lintasan, dengan impresi awal yang cukup menjanjikan dari segi performa dan karakter suara.
Dari sisi desain, mobil yang digunakan Cadillac dalam shakedown masih mengusung versi dasar dari konsep 2026.
Meski demikian, terdapat sejumlah detail menarik yang memberi gambaran arah pengembangan mereka.
Salah satunya terlihat pada desain end plate sayap depan yang berbeda signifikan dibandingkan render Red Bull RB20.
Winglet pada end plate Cadillac diposisikan lebih tinggi dan lebar, mengindikasikan pendekatan berbeda dalam pengelolaan aliran udara untuk mengurangi drag ban depan serta menghasilkan airflow yang lebih bersih menuju sidepod dan lantai mobil.
Cadillac juga mengadopsi suspensi depan tipe pullrod, berlawanan dengan mayoritas tim yang memilih pushrod.
Meski berisiko dari sisi karakter handling, pilihan ini dinilai masuk akal secara aerodinamika, terutama jika dikaitkan dengan desain sidepod mereka yang memiliki inlet besar dan tinggi.
Karakter undercut ekstrem serta pendekatan downforce curam menunjukkan interpretasi Cadillac terhadap regulasi 2026 yang cenderung menyerupai konsep ground effect modern.
Di sektor belakang, Cadillac tetap menggunakan konfigurasi suspensi pushrod yang umum di F1, dengan gearbox yang disuplai Ferrari namun dikemas ulang secara mandiri untuk menghasilkan geometri suspensi berbeda.
Secara keseluruhan, paket aero mobil shakedown ini masih bersifat sementara dan kemungkinan besar akan mengalami perubahan signifikan pada versi final.
Mobil resmi Cadillac dijadwalkan meluncur pada 8 Februari atau setelah sesi shakedown serentak di Barcelona.
Menariknya, pada kesempatan tersebut Cadillac akan menampilkan livery khusus yang memuat nama-nama engineer yang terlibat dalam pengembangan mobil.
Di antara ratusan nama itu, terdapat satu sosok yang membanggakan Indonesia, yakni Stefanus Wijanarko.
Alumnus ITB tersebut kini menjabat sebagai lead aerodynamic engineer Cadillac dan sebelumnya berperan penting di balik kemenangan Pierre Gasly bersama Toro Rosso di GP Italia 2020.
Sebagai tim baru, Cadillac memasang target realistis dengan fokus utama membangun fondasi kuat dan memahami kompleksitas operasional Formula 1.
Namun, sebagai brand besar asal Amerika Serikat dengan dukungan finansial dan fasilitas mumpuni, ekspektasi tetap tinggi.
Persiapan matang yang dilakukan sejak dua tahun lalu, ditambah keberadaan simulator canggih serta duet pembalap berpengalaman Sergio Perez dan Valtteri Bottas.
Diharapkan mampu membawa Cadillac kompetitif di papan tengah hingga bertransformasi menjadi tim pabrikan penuh bersama General Motors di masa depan. (Ghina Nailal Husna)
Editor : Ali Mustofa