RADAR KUDUS - PSIS Semarang kembali harus menelan pil pahit di hadapan pendukungnya sendiri.
Bermain di Stadion Jatidiri, Sabtu malam, Mahesa Jenar dipaksa menyerah 0-3 dari Deltras Sidoarjo dalam lanjutan Championship League 2025/2026.
Kekalahan ini bukan sekadar kehilangan poin, tetapi juga mempersempit ruang napas PSIS dalam upaya menjauh dari jeratan degradasi.
Alih-alih memangkas jarak dengan tim di atasnya, hasil ini justru membuat PSIS tetap tertahan di posisi kesembilan klasemen Grup 2.
Dengan jumlah laga yang semakin menipis, tekanan kini sepenuhnya mengarah pada dua pertandingan tersisa yang akan menjadi penentu hidup-mati klub kebanggaan Kota Atlas itu.
Deltras Datang, PSIS Goyah Sejak Awal
Pertandingan baru berjalan sepuluh menit ketika gawang PSIS sudah bergetar. Penyerang asing Deltras Sidoarjo, Neville Mbanwei Tengeg, memanfaatkan kelengahan lini belakang tuan rumah dan membuka keunggulan tim tamu.
Gol cepat itu langsung memukul mental pemain PSIS yang terlihat kesulitan mengembangkan permainan.
PSIS mencoba merespons melalui penguasaan bola, namun alur serangan kerap terputus sebelum memasuki sepertiga akhir lapangan.
Deltras tampil disiplin, menunggu celah, dan kembali menghukum PSIS lewat Tengeg pada menit ke-83.
Gol ketiga dicetak Kaka Reda di masa injury time, memastikan kemenangan telak 3-0 untuk tim berjuluk The Lobster.
Lini Pertahanan Rapuh, Transisi Jadi Sorotan
Pelatih PSIS, Jafri Sastra, tak menampik performa timnya jauh dari harapan. Ia mengakui organisasi permainan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Kesalahan-kesalahan elementer, seperti salah umpan dan buruknya transisi bertahan ke menyerang, menjadi titik lemah yang dimanfaatkan Deltras.
Menurut Jafri, kekalahan ini bukan hanya soal skor, melainkan cerminan dari kurangnya disiplin di lapangan. Gol-gol yang tercipta berasal dari momen kelengahan pemain dalam menjaga area pertahanan, sesuatu yang seharusnya bisa dihindari dalam laga krusial seperti ini.
Pergantian Pemain Tak Mengubah Irama
Upaya perubahan dilakukan pada babak kedua. Jafri memasukkan sejumlah pemain dengan harapan memberi energi baru.
Namun alih-alih membaik, pola permainan PSIS justru semakin kehilangan bentuk. Jarak antarlini melebar, koordinasi menurun, dan tekanan Deltras semakin sulit dibendung.
Situasi ini membuat PSIS gagal menciptakan peluang bersih sepanjang pertandingan. Beberapa kali bola berhasil masuk ke area berbahaya, tetapi penyelesaian akhir tak pernah benar-benar mengancam gawang lawan.
Dua Laga Terakhir, Tak Ada Ruang Salah
Kekalahan dari Deltras memaksa PSIS mengalihkan fokus penuh ke dua pertandingan sisa.
Mereka dijadwalkan menghadapi Persela Lamongan dan Tornado FC Kendal, dua tim papan atas dengan kualitas skuad yang mumpuni. Tantangan berat, namun sekaligus menjadi satu-satunya jalan bagi PSIS untuk menjaga asa bertahan.
Jafri menegaskan bahwa kekalahan ini harus menjadi bahan evaluasi serius. Program latihan akan diperketat, dengan penekanan pada disiplin, konsentrasi, dan pemahaman taktik.
Semua rencana permainan yang telah disiapkan sejauh ini dianggap gagal diterjemahkan di lapangan, dan itu tak boleh terulang.
Pemain Akui Kekecewaan, Janji Bangkit
Dari kubu pemain, Doni Sormin mewakili rekan-rekannya menyampaikan permintaan maaf kepada suporter.
Ia menegaskan bahwa seluruh pemain kecewa dengan hasil tersebut, namun berjanji akan bekerja lebih keras di sisa kompetisi.
Menurut Doni, situasi sulit ini justru harus dijadikan pemantik semangat. PSIS tak boleh larut dalam kekecewaan jika ingin keluar dari ancaman degradasi yang kini semakin nyata.
Deltras Tampil Efektif dan Percaya Diri
Di sisi lain, Deltras Sidoarjo pantas mendapat pujian. Pelatih Widodo Cahyono Putro menilai kemenangan ini lahir dari kekompakan dan kerja keras pemain.
Ia menyebut timnya tampil dengan identitas permainan Deltras, tanpa terpengaruh status tuan rumah maupun perubahan komposisi pemain PSIS.
Meski meraih kemenangan meyakinkan, Widodo tetap menegaskan evaluasi akan dilakukan. Baginya, konsistensi adalah kunci agar Deltras mampu menjaga momentum positif hingga akhir musim.
Pemain Deltras, Wisal El Burji, juga menilai tiga poin di Jatidiri sangat berarti. Namun ia menekankan bahwa perjuangan belum selesai dan seluruh pemain harus tetap bekerja keras demi menjaga tren kemenangan.
Ancaman Degradasi Kian Nyata
Bagi PSIS Semarang, waktu kini menjadi musuh terbesar. Dengan dua laga tersisa dan posisi yang belum aman, setiap kesalahan bisa berujung fatal.
Kekalahan dari Deltras bukan hanya soal kehilangan tiga poin, tetapi juga soal kepercayaan diri dan tekanan mental yang semakin berat.
Mahesa Jenar tak lagi punya ruang untuk terpeleset. Dua pertandingan terakhir akan menjadi ujian karakter, mental, dan determinasi seluruh elemen tim. Menang adalah keharusan, bukan pilihan.
Editor : Mahendra Aditya