RADAR KUDUS - Kekalahan telak Sriwijaya FC dari PSPS Pekanbaru dengan skor mencolok 2-5 pada pekan ke-14 Pegadaian Championship 2025/2026 bukan sekadar cerita tentang rapuhnya pertahanan.
Di balik papan skor yang memalukan itu, tersimpan persoalan jauh lebih serius—sebuah fakta yang mencerminkan krisis struktural di tubuh klub legendaris asal Sumatra Selatan tersebut.
Laga yang berlangsung di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Minggu (4/1/2026), menjadi titik balik sorotan publik.
Bukan hanya karena Sriwijaya kembali menelan kekalahan, tetapi karena munculnya pengakuan mengejutkan dari kiper utama mereka, Muhamad Zaenuri Azhar.
Pernyataan itu sederhana, namun menghantam keras: Sriwijaya FC tidak memiliki pelatih kiper.
Baca Juga: Juan Mera Datang, Persiraja Tak Lagi Sekadar Bertahan: Ambisi Promosi Kini Lebih Nyata
Pengakuan Jujur yang Membuka Borok Tim
Usai pertandingan, Zaenuri tidak bersembunyi di balik alasan klise. Ia berbicara apa adanya, seolah menyuarakan kelelahan pemain yang berjuang tanpa perlengkapan lengkap.
Menurutnya, performa tim tidak sepenuhnya buruk. Namun, minimnya persiapan dan dukungan teknis membuat para pemain tampil dalam kondisi timpang. Di sektor penjaga gawang, situasinya bahkan lebih genting.
Seorang kiper di level Liga 2—kompetisi profesional dengan tekanan tinggi—harus menjalani pertandingan tanpa pendampingan pelatih khusus. Tidak ada evaluasi teknis harian, tidak ada penguatan aspek refleks, positioning, maupun pengambilan keputusan.
Dalam sepak bola modern, kondisi seperti ini nyaris tak masuk akal.
Baca Juga: Liga 2 Grup Timur Memanas: Satu Kekalahan Bisa Menggagalkan Promosi Liga 1
Masalah Bukan di Sarung Tangan, Tapi di Manajemen
Pernyataan Zaenuri langsung memantik reaksi publik sepak bola Sumatra Selatan. Banyak pihak menilai bahwa masalah Sriwijaya FC sudah melampaui persoalan teknis di lapangan.
Ketiadaan pelatih kiper menunjukkan ketimpangan manajemen tim, bukan sekadar keterbatasan anggaran atau hasil buruk sementara. Di kompetisi dengan format triple round robin, setiap detail kecil menjadi penentu nasib klub.
Kesalahan satu pemain bisa berujung kekalahan. Namun kesalahan sistem bisa menyeret satu tim ke jurang degradasi.
Tekanan Berat di Bawah Mistar
Dalam laga melawan PSPS Pekanbaru, Zaenuri berdiri di bawah mistar dalam situasi paling sulit. Tekanan datang bertubi-tubi, sementara lini belakang kerap kehilangan koordinasi.
Tanpa pelatih kiper, proses evaluasi dan perbaikan nyaris bergantung pada insting pribadi. Ini bukan hanya soal kemampuan individu, tetapi tentang beban mental yang harus ditanggung seorang pemain muda.
Zaenuri sendiri baru berusia 23 tahun. Ia seharusnya berada dalam fase pembinaan dan pematangan, bukan dipaksa menjadi benteng terakhir tanpa dukungan teknis memadai.
Baca Juga: Tiga Pemain Muda Persija Jakarta Dipinjamkan, Alasannya Regenerasi?
Tetap Bertahan di Tengah Ketidakpastian
Menariknya, di tengah situasi pelik tersebut, Zaenuri tidak memilih jalan aman. Mantan kiper Dejan FC itu menyatakan masih ingin bertahan bersama Sriwijaya FC.
Sikap ini menunjukkan loyalitas yang kontras dengan kondisi klub. Di saat sistem belum berjalan optimal, pemain justru berusaha menjaga komitmen.
Namun, loyalitas saja tidak cukup untuk menyelamatkan klub dari ancaman degradasi.
Sriwijaya FC di Ambang Krisis Berlapis
Musim 2025/2026 menjadi periode paling sulit bagi Sriwijaya FC dalam beberapa tahun terakhir. Selain performa yang menurun, tim juga dibelit berbagai keterbatasan—mulai dari kedalaman skuad hingga struktur kepelatihan yang tidak lengkap.
Kondisi ini membuat Laskar Wong Kito tertahan di papan bawah klasemen dan semakin tertinggal dari rival-rivalnya. Dengan sistem kompetisi yang ketat, ruang untuk kesalahan nyaris tidak ada.
Ancaman turun kasta ke Liga Nusantara kini bukan sekadar wacana pesimistis, melainkan skenario realistis jika pembenahan tidak segera dilakukan.
Baca Juga: Semen Padang FC Rekrut Jaime Giraldo Bek Tangguh Asal Kolombia
Sepak Bola Modern Tak Bisa Bertumpu pada Improvisasi
Pengakuan soal absennya pelatih kiper seharusnya menjadi alarm keras bagi manajemen. Sepak bola modern tidak memberi ruang bagi improvisasi berkepanjangan, apalagi di level profesional.
Klub yang bertahan hidup bukan hanya yang memiliki pemain bagus, tetapi yang memiliki sistem kerja rapi—mulai dari staf kepelatihan, sport science, hingga manajemen beban latihan.
Tanpa itu semua, pemain hanya akan terus berjuang sendirian di lapangan.
Waktu untuk Berbenah Hampir Habis
Dengan sisa musim yang semakin menipis, Sriwijaya FC tidak memiliki banyak pilihan. Pembenahan struktural harus dilakukan segera, bukan sekadar tambal sulam taktis di hari pertandingan.
Jika tidak, sejarah panjang Sriwijaya FC hanya akan menjadi nostalgia, sementara realitas pahit harus diterima: terlempar dari peta persaingan sepak bola nasional.
Kekalahan 2-5 bukanlah aib terbesar. Yang lebih mengkhawatirkan adalah fakta bahwa kekalahan itu lahir dari sistem yang dibiarkan rapuh.
Editor : Mahendra Aditya