Daftar 12 Rekrutan Anyar PSIS Semarang, All In di Bursa Transfer Demi Mentas dari Zona Degradasi
Mahendra Aditya Restiawan• Selasa, 6 Januari 2026 | 19:19 WIB
Raffinha, Denilson dan Simanca, Legiun asing PSIS Semarang terbaru
RADAR KUDUS – PSIS Semarang memilih tidak menunggu nasib ketika kompetisi Pegadaian Championship 2025/26 memasuki fase krusial. Terjerembap di dasar klasemen Grup B justru menjadi pemantik keputusan besar: merombak tim dari fondasi paling dasar.
Alih-alih tambal sulam, manajemen Laskar Mahesa Jenar menjalankan strategi ekstrem di bursa transfer paruh musim.
Sebanyak 12 pemain baru didatangkan hingga awal Januari 2026. Jumlah yang tidak biasa, namun menggambarkan satu pesan tegas: PSIS sedang membangun ulang identitas tim, bukan sekadar mengejar poin jangka pendek.
Langkah ini menjadi fase pertama dari transformasi yang lebih luas, seiring masuknya kepemilikan baru yang ingin meninggalkan pola lama. PSIS tidak lagi ingin dikenal sebagai tim bertahan hidup, tetapi klub yang siap bersaing dengan struktur yang lebih rapi.
Kembali ke Akar: Pemain Lokal Berpengalaman Jadi Pondasi
Rekrutan pertama yang diumumkan adalah Tegar Infantrie, gelandang bertahan yang pulang ke Semarang setelah sempat memperkuat Persita Tangerang. Kembalinya Tegar dibaca sebagai upaya menanam stabilitas di lini tengah—area yang selama putaran pertama kerap kehilangan kontrol.
Di sektor belakang, Gustur Cahyo Putro hadir sebagai solusi di sisi kanan pertahanan. Bek eks PSMS Medan ini dikenal disiplin, rajin naik-turun, dan memiliki pemahaman taktik yang matang.
Sementara itu, Otavio Dutra direkrut untuk membawa kepemimpinan di jantung pertahanan. Jam terbangnya di sepak bola Indonesia menjadi aset penting di ruang ganti.
PSIS juga mengincar dinamika di sisi lapangan. Fahmi Al-Ayyubi, winger cepat dari Gresik United, ditugaskan mempercepat transisi menyerang.
Di sisi berlawanan, Wawan Febrianto datang dari Persela Lamongan dengan reputasi sebagai pemain sayap konsisten yang rajin menusuk dan punya naluri menciptakan peluang.
Di belakang mereka, Ocvian Chanigio diplot sebagai penghubung lini. Perannya sebagai gelandang serang bukan hanya pencipta peluang, tetapi juga penyeimbang ritme saat PSIS ditekan lawan.
Keputusan paling menyita perhatian publik tentu saja perekrutan Alberto “Beto” Goncalves. Striker veteran ini mungkin tak lagi muda, namun naluri golnya tetap menjadi komoditas langka, terutama bagi tim yang sedang krisis kepercayaan diri.
Nama lain yang menambah bobot pengalaman adalah Esteban Gabriel Vizcarra. Pemain naturalisasi ini bukan sekadar winger, melainkan simbol mental juara.
Vizcarra membawa ketenangan di momen genting—sesuatu yang sering hilang dari permainan PSIS di putaran pertama.
Kiper baru PSIS Semarang, Mario Londok yang ditransfer dari Persela Lamongan
Sentuhan Asing untuk Menambal Celah Vital
PSIS juga menambah warna dengan mendatangkan legiun asing. Aldair Simanca Peña, bek asal Kolombia, dipinjam dari Borneo FC untuk memperkuat duel udara dan organisasi pertahanan.
Postur tinggi dan agresivitasnya diharapkan mampu menutup celah yang kerap dieksploitasi lawan.
Di lini tengah, Denilson Rodrigues Roldão, gelandang asal Brasil, disiapkan sebagai pengatur tempo. Pengalamannya di Amerika Selatan memberi alternatif gaya bermain, terutama ketika PSIS membutuhkan kontrol bola lebih lama.
Sementara itu, sektor penjaga gawang diperkuat oleh Mario Londok, kiper eks Persela Lamongan.
Kehadirannya menambah persaingan sehat di bawah mistar dan diharapkan meningkatkan konsistensi pertahanan.
Masuknya 12 pemain baru sekaligus bukan tanpa risiko. Tantangan terbesar PSIS bukan lagi kualitas individu, melainkan chemistry.
Mengawinkan wajah lama dan baru dalam waktu singkat membutuhkan sentuhan pelatih yang presisi dan adaptasi taktik yang cepat.
Namun, keputusan agresif ini menunjukkan satu hal: PSIS tidak lagi pasrah pada arus. Dengan skuad yang lebih dalam, fleksibel, dan berpengalaman, Mahesa Jenar mengirim sinyal bahwa putaran kedua akan menjadi medan perlawanan, bukan sekadar perjuangan bertahan.
Apakah revolusi ini langsung membuahkan hasil? Jawabannya akan teruji di lapangan. Tetapi satu hal pasti, PSIS telah memilih untuk bertarung dengan cara berbeda.