RADAR KUDUS — Manchester United kembali menutup satu babak yang penuh gejolak. Ruben Amorim resmi tidak lagi menukangi Setan Merah setelah manajemen klub mengambil keputusan tegas pada Senin (5/1/2026).
Pemecatan ini bukan lahir dari satu kekalahan atau satu hasil buruk, melainkan akumulasi retaknya relasi internal, kinerja tim yang stagnan, dan konflik otoritas yang tak lagi tersembunyikan.
Keputusan tersebut diambil dalam rapat darurat yang digelar manajemen puncak klub. CEO Manchester United, Omar Berrada, bersama Direktur Olahraga Jason Wilcox, menilai Amorim tidak lagi memiliki legitimasi maupun kapasitas untuk memimpin tim hingga akhir musim.
Baca Juga: Manchester United Bayar Mahal Kompensasi Pemecatan Amorim
Rapat Darurat dan Hilangnya Kepercayaan
Sumber internal menyebutkan, rapat yang digelar pada Senin pagi waktu setempat itu berlangsung singkat namun menentukan. Evaluasi tidak hanya menyoroti hasil pertandingan, tetapi juga dinamika kerja Amorim dengan struktur manajemen baru United.
Bagi Berrada dan Wilcox, Amorim dianggap telah kehilangan kontrol atas arah tim. Penampilan Manchester United sepanjang satu tahun terakhir dinilai tidak menunjukkan progres signifikan, baik dari segi hasil maupun identitas permainan.
Lebih dari itu, kepercayaan manajemen terhadap Amorim disebut telah runtuh, terutama setelah sang pelatih secara terbuka melontarkan kritik soal keterbatasan wewenang yang ia miliki.
Komentar Pedas yang Jadi Titik Balik
Situasi memanas ketika Amorim melontarkan pernyataan keras terkait posisinya di klub.
Ia menegaskan bahwa perannya lebih mirip “pelaksana” ketimbang pengambil keputusan utama—sebuah sindiran yang diarahkan pada struktur manajemen, khususnya Direktur Olahraga.
Pernyataan tersebut dipahami sebagai serangan langsung terhadap Jason Wilcox, yang bertanggung jawab atas rekrutmen pemain. Amorim merasa tidak diberi alat yang memadai untuk menerapkan filosofi sepak bolanya.
Pelatih asal Portugal itu dikenal mengandalkan skema 3-4-3, sistem yang menuntut pemain dengan profil spesifik. Namun, keinginannya untuk mendatangkan pemain yang sesuai tidak sepenuhnya dipenuhi. Situasi makin rumit ketika klub memastikan tidak akan aktif di bursa transfer Januari.
Bagi Amorim, itu berarti bekerja dengan tangan terikat. Bagi manajemen, komentar publik sang pelatih dianggap melewati batas profesional.
Statistik Tak Memihak Amorim
Di atas lapangan, data juga tidak berpihak pada Amorim. Sejak ditunjuk sebagai pengganti Erik ten Hag pada November 2024, ia hanya mampu mencatat rasio kemenangan 38,1 persen.
Dari total 63 pertandingan, Manchester United di bawah Amorim meraih:
-
24 kemenangan
-
18 hasil imbang
-
21 kekalahan
Meski sempat membawa MU ke final Liga Europa musim lalu—sebelum kalah dari Tottenham Hotspur—pencapaian tersebut tidak cukup menutupi inkonsistensi performa di kompetisi domestik.
Saat pemecatan diumumkan, Manchester United berada di peringkat keenam Liga Inggris, mengoleksi 31 poin dari 20 laga. Jarak dengan zona Liga Champions masih terbuka, namun manajemen menilai laju tim tidak cukup meyakinkan.
Solusi Sementara: Darren Fletcher
Untuk sementara, Manchester United menunjuk Darren Fletcher sebagai pelatih interim. Mantan gelandang klub itu saat ini menangani tim U-18 dan dianggap memahami kultur internal United.
Manajemen memilih menahan diri untuk tidak menunjuk pelatih permanen dalam waktu dekat. Fokus klub adalah menjaga stabilitas hingga akhir musim, sembari menyiapkan rencana jangka panjang yang akan dieksekusi pada musim panas.
Langkah ini menegaskan satu hal: Manchester United ingin menghindari keputusan reaktif yang berpotensi memperpanjang krisis.
Masalah Lebih Dalam dari Sekadar Pelatih
Pemecatan Amorim kembali menguatkan narasi lama: Manchester United masih bergulat dengan persoalan struktural. Pergantian pelatih silih berganti belum mampu menghadirkan kesinambungan.
Konflik antara pelatih dan manajemen bukan hal baru di Old Trafford. Namun, kasus Amorim menyoroti persoalan yang lebih mendasar—siapa sebenarnya pemegang kendali tertinggi dalam proyek sepak bola United.
Tanpa kejelasan pembagian wewenang antara pelatih dan direktur olahraga, potensi gesekan akan selalu ada, siapa pun yang duduk di bangku pelatih.
Baca Juga: Fabrizio Romano: Valid! Ruben Amorim di Pecat Manchester United
Menuju Laga Berikutnya dalam Bayang Ketidakpastian
Manchester United tetap harus melanjutkan musim. Dalam waktu dekat, Setan Merah dijadwalkan bertandang ke markas Burnley pada Kamis (8/1/2026) dini hari WIB.
Pertandingan ini bukan sekadar soal tiga poin, tetapi juga ujian mental bagi skuad yang kembali berada dalam fase transisi. Pergantian pelatih di tengah musim menuntut adaptasi cepat, baik dari pemain senior maupun talenta muda.
Akhir Era yang Tak Pernah Benar-Benar Stabil
Kepergian Ruben Amorim menutup periode yang sejak awal dipenuhi ekspektasi tinggi, namun berakhir dengan konflik terbuka. Ia datang membawa ide, filosofi, dan reputasi, tetapi pergi dengan catatan bahwa struktur klub belum siap sepenuhnya mendukung perubahan.
Manchester United sekali lagi dihadapkan pada pertanyaan lama: apakah masalah mereka terletak pada sosok pelatih, atau pada fondasi manajemen itu sendiri?
Editor : Mahendra Aditya