Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Anto Van Java bertemu manajemen baru PSIS, ajak suporter bersatu, siap dikritik terbuka demi masa depan Laskar Mahesa Jenar.

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 17 Desember 2025 | 00:33 WIB

Suporter PSIS saat mendukung tim kesayangannya.
Suporter PSIS saat mendukung tim kesayangannya.

RADAR KUDUS - Langkah baru PSIS Semarang mulai terlihat. Di tengah dinamika pergantian manajemen, pemilik sebagian saham klub, Junianto alias Anto Van Java, memilih turun langsung membuka ruang dialog.

Ia bertemu CEO anyar PSIS, Datu Nova Fatmawati, bersama sang suami Fariz Julinar Maurisal. Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi, tetapi menjadi sinyal kuat bahwa perubahan di tubuh Laskar Mahesa Jenar ingin dijalankan secara terbuka dan inklusif.

Pertemuan yang berlangsung pada Minggu, 14 Desember 2025, tersebut berlangsung dalam suasana cair. Tidak ada sekat formal, tidak pula kesan canggung.

Anto datang bersama istrinya dan terlibat diskusi panjang terkait arah, visi, dan pembenahan PSIS ke depan.

Dari pertemuan itu, satu pesan tegas muncul: PSIS harus kembali menjadi klub kebanggaan warga Semarang, dengan tata kelola yang sehat dan transparan.

Dialog Terbuka Demi Masa Depan Klub

Anto Van Java menegaskan bahwa dirinya datang bukan untuk menggurui, melainkan mendengar langsung niat dan rencana manajemen baru.

Sebagai pemegang 15 persen saham, ia mengaku berkepentingan melihat PSIS tumbuh stabil, baik secara prestasi maupun manajemen.

Menurut Anto, pemaparan visi yang disampaikan Datu Nova dan Fariz Julinar memberikan optimisme baru.

Ia melihat ada keseriusan dan komitmen nyata untuk membawa PSIS keluar dari berbagai persoalan yang selama ini membayangi.

Mulai dari pembenahan internal hingga upaya memperbaiki relasi dengan suporter, semuanya dibicarakan secara terbuka.

Baginya, komunikasi semacam ini menjadi fondasi penting. Tanpa dialog yang jujur, perubahan hanya akan menjadi slogan kosong.

Usai pertemuan, Anto menyampaikan pandangannya melalui akun Instagram pribadinya. Unggahan tersebut langsung menyedot perhatian suporter PSIS.

Dalam pesannya, ia mengucapkan terima kasih kepada Fariz dan Datu Nova sebagai pemilik baru klub, sembari menyebut niat baik sebagai modal utama membangun PSIS yang lebih kuat.

Anto menilai, tidak mudah bagi pengusaha untuk mengalokasikan hasil usahanya demi sepak bola.

Karena itu, ia mengajak semua pihak memberi ruang dan kesempatan kepada manajemen baru untuk bekerja.

Ia menekankan bahwa kritik tetap diperlukan, tetapi harus ditempatkan secara proporsional dan bermartabat.

Ajakan Bersatu untuk Panser Biru hingga Snex

Salah satu poin penting yang disoroti Anto adalah peran suporter. Ia secara khusus menyebut Semarang Fans, Panser Biru, dan Snex sebagai elemen vital dalam perjalanan PSIS.

Menurutnya, tanpa dukungan suporter, klub sebesar apa pun akan rapuh.

Anto mengajak semua kelompok pendukung untuk mengawal perubahan yang sedang berjalan. Ia tidak menutup mata terhadap kritik, justru mempersilakan jika ada hal yang perlu disoroti.

Namun, ia mengingatkan agar kritik disampaikan secara sehat, tidak menyerang ranah personal, apalagi menyentuh keluarga manajemen.

“Silakan kritik, saya siap. Tapi jangan membawa keluarga, apalagi anak-anak,” pesan Anto yang kemudian banyak dibagikan ulang oleh suporter.

Siap Dikritik, Asal Demi PSIS

Pernyataan Anto soal kesiapan dikritik menjadi sorotan tersendiri. Di tengah iklim sepak bola Indonesia yang kerap panas, sikap terbuka seperti ini dianggap jarang.

Anto menegaskan bahwa dirinya tidak alergi kritik, bahkan siap menjadi sasaran jika itu demi kebaikan PSIS.

Ia juga menilai bahwa saat ini PSIS mulai kembali ke jalur yang benar, ke khitahnya sebagai klub profesional yang menjunjung nilai kebersamaan.

Menurut Anto, perbedaan pandangan adalah hal wajar, tetapi harus diselesaikan melalui musyawarah, bukan konflik berkepanjangan.

Tak hanya berbicara soal internal klub dan suporter, Anto turut menyampaikan harapan kepada pemerintah daerah.

Ia menitipkan doa dan dukungan kepada Wali Kota Semarang, Agustina, serta Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.

Menurutnya, dukungan moral dari pemerintah daerah sangat berarti bagi PSIS. Meski klub dikelola secara profesional, sinergi dengan pemangku kebijakan akan memperkuat posisi PSIS sebagai representasi kebanggaan Jawa Tengah di kancah sepak bola nasional.

Anto menyebut, manajemen baru PSIS merupakan pebisnis yang berani mengambil risiko besar demi sepak bola.

Karena itu, dukungan dari berbagai pihak menjadi kunci agar langkah mereka tidak terhenti di tengah jalan.

Pembenahan Teknis Masih Berjalan

Dalam kesempatan itu, Anto juga menyinggung soal sejumlah persoalan teknis yang belum sepenuhnya rampung.

Ia memastikan bahwa hal-hal tersebut akan diselesaikan secepat mungkin. Pernyataan ini ia sampaikan dari Surabaya, menandakan bahwa koordinasi tetap berjalan meski berada di luar kota.

Ia meminta publik bersabar dan memberi waktu bagi manajemen baru untuk bekerja. Menurut Anto, perubahan besar tidak bisa terjadi dalam semalam. Yang terpenting, arah dan niat sudah jelas.

Pertemuan antara Anto Van Java dan manajemen baru PSIS menjadi penanda fase baru bagi Laskar Mahesa Jenar. Klub ini kini berada di persimpangan penting: antara trauma masa lalu dan harapan masa depan.

Dengan dialog terbuka, ajakan bersatu kepada suporter, serta kesiapan menerima kritik, PSIS mencoba membangun ulang kepercayaan. Jalan yang ditempuh tentu tidak mudah, tetapi langkah awal telah diambil.

Bagi Anto, satu hal yang pasti: PSIS harus dijaga bersama. Kritik boleh keras, perbedaan pendapat tak terelakkan, namun tujuan akhirnya tetap sama—membawa PSIS Semarang kembali berjaya dengan cara yang bermartabat.

Editor : Mahendra Aditya
#snex #Manajemen baru PSIS #Bos baru PSIS #PSIS Semarang #Anto Van Java #panser biru