Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Manisa BBSK Putus Kontrak Megawati, Ternyata Ini Alasannya

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 28 Oktober 2025 | 23:19 WIB

Megawati Hangestri di liga turki
Megawati Hangestri di liga turki

RADAR KUDUS - Nama Megawati Hangestri Pertiwi kembali menjadi perbincangan panas di dunia olahraga Indonesia.

Bukan karena prestasi atau statistik tajamnya di lapangan, melainkan karena keputusan besar yang mengguncang dunia voli internasional: kontraknya dengan klub Turki, Manisa BBSK, resmi berakhir hanya beberapa bulan setelah ditandatangani.

Namun di balik kabar mengejutkan itu, tersimpan cerita tentang prioritas, dedikasi, dan loyalitas seorang atlet kepada tanah airnya.

Fokus ke Timnas, Bukan Sekadar Alasan

Sejak awal, Megawati memang telah menyepakati kontrak dengan Manisa BBSK pada Juli 2025. Klub promosi kasta kedua Liga Voli Turki itu menaruh harapan besar pada pemain berjulukan Megatron tersebut, terutama karena reputasinya yang cemerlang di Korea Selatan bersama Red Sparks.

Namun, ketika panggilan negara datang, Megawati tak ragu mengambil keputusan yang tak biasa: menunda keberangkatannya ke Turki demi membela Tim Nasional Indonesia di ajang SEA Games 2025 di Bangkok.

“Turki sudah hubungi aku lima kali. Mereka bilang boleh bagi kita, tapi aku harus main dulu di DILIFOLI Oktober sampai November. Setelah itu baru fokus ke SEA Games,” ungkap Megawati dalam wawancara di Surabaya.

Keputusan itu bukan tanpa dasar. Ia ingin menunaikan tanggung jawabnya di dalam negeri sebelum menatap petualangan barunya di Eropa.

Izin Khusus dari Klub Turki

Pihak Manisa BBSK sempat memberikan izin khusus agar Megawati tetap bermain bersama Bank Jatim di ajang DILIFOLI 2025. Kesepakatan itu merupakan bentuk kompromi antara pemain dan klub, menunjukkan bahwa hubungan keduanya kala itu masih berjalan baik.

Namun, jadwal padat di Indonesia rupanya memperpanjang waktu Megawati di tanah air. Setelah menyelesaikan DILIFOLI, ia langsung bersiap bergabung dengan skuad Timnas Voli Putri Indonesia untuk pemusatan latihan menuju SEA Games 2025.

Situasi tersebut membuat Megawati tak sempat kembali ke Turki sesuai waktu yang ditentukan, yakni tiga hari setelah DILIFOLI berakhir. Akibatnya, pada 23 Oktober 2025, Manisa BBSK resmi memutus kontrak Megawati tanpa kompensasi.

“Aku Harus Selesaikan Tanggung Jawab di Sini Dulu”

Meski keputusannya mengundang pro dan kontra, Megawati mengaku tidak menyesal. Ia menilai keputusan itu adalah bentuk tanggung jawab moral terhadap klub dan negaranya.

“Aku sudah komunikasi baik-baik dengan mereka (Manisa). Mereka ngerti kalau aku juga punya tanggung jawab di sini. Setelah SEA Games selesai, baru aku siap balik fokus ke liga luar,” ujarnya dengan nada tegas.

Sayangnya, rencana itu tak sempat terwujud karena klub lebih dulu mengambil langkah pemutusan kontrak. Meski begitu, Megawati tak menyimpan dendam. Ia menyebut Manisa tetap menghormati proses dan menghargai pilihannya untuk membela merah putih.

Prestasi Gemilang di Tanah Air

Sebelum berpisah dengan Manisa, Megawati sempat tampil luar biasa bersama Bank Jatim di ajang DILIFOLI 2025. Penampilannya yang agresif dan penuh energi membawa timnya finis di peringkat ketiga, sekaligus memperkuat reputasinya sebagai salah satu spiker paling mematikan di Asia.

Spike keras, servis tajam, dan ekspresi penuh determinasi di lapangan kembali mengingatkan publik pada era keemasannya di Liga Voli Korea Selatan. Tak berlebihan jika banyak pengamat menyebut bahwa Megawati bukan hanya pemain, tetapi fenomena olahraga bagi Indonesia.

Dengan bekal pengalaman internasional dan performa konsisten, ia kini menjadi tumpuan utama Timnas Voli Putri Indonesia untuk menggapai target emas di SEA Games 2025.

Manisa BBSK: Keputusan yang Tak Mudah

Dalam pernyataan resminya, Manisa BBSK menegaskan bahwa keputusan pemutusan kontrak dilakukan setelah “evaluasi menyeluruh demi kepentingan terbaik klub.” Klub asal Turki itu mengakui bahwa Megawati adalah pemain berkualitas tinggi, namun situasi yang dihadapi sudah tidak memungkinkan kerja sama berlanjut.

“Proses ini dievaluasi demi kepentingan terbaik klub kami; diputuskan bahwa transfer tersebut tidak akan menguntungkan dalam situasi ini,” tulis Manisa dalam pengumumannya di media sosial.

Meski hubungan profesional berakhir, Manisa tetap memberikan apresiasi kepada penggemar Indonesia. “Kami dengan tulus berterima kasih kepada para penggemar bola voli Indonesia atas minat dan dukungannya selama proses ini,” lanjut pernyataan tersebut.

Dukungan Publik Mengalir Deras

Berita pemutusan kontrak itu justru membuat dukungan publik terhadap Megawati semakin deras. Tagar #ProudOfMegawati dan #TerimaKasihMega sempat trending di media sosial. Banyak warganet menilai Megawati telah menunjukkan contoh nyata patriotisme atlet Indonesia.

“Gaji besar di luar negeri bisa menunggu, tapi kesempatan mengharumkan nama bangsa itu cuma datang sekali,” tulis salah satu netizen.

Beberapa mantan atlet dan pengamat olahraga juga memberikan pembelaan. Mereka menilai Megawati telah memilih dengan hati dan menunjukkan karakter sejati seorang juara.

Antara Risiko dan Penghormatan

Langkah Megawati memang penuh risiko. Di satu sisi, ia kehilangan kesempatan berkarier di Eropa. Di sisi lain, keputusan itu bisa memperkuat posisinya sebagai simbol dedikasi atlet nasional.

Namun, bagi publik Indonesia, keputusan tersebut bukan kehilangan, melainkan penghormatan terhadap semangat nasionalisme yang langka di dunia olahraga modern.

Megawati menolak ego dan memilih pengabdian. Ia tidak hanya menjadi inspirasi bagi generasi muda atlet, tetapi juga bagi siapapun yang berjuang di antara dua pilihan besar: karier pribadi atau kehormatan bangsa.

Kisah Megawati Hangestri bukan hanya tentang bola voli. Ini adalah kisah tentang integritas, pengorbanan, dan kecintaan terhadap tanah air.

Ketika banyak atlet berlomba mengejar kontrak besar di luar negeri, Megawati justru menempuh jalan sebaliknya—jalan yang lebih berat, namun penuh makna. Ia membuktikan bahwa menjadi juara bukan hanya soal skor di papan pertandingan, tetapi juga tentang setia pada panggilan hati dan bendera yang dikibarkan.

Kini, dunia mungkin melihat Megawati bukan lagi sebagai “eks pemain Manisa”, tetapi sebagai simbol keberanian baru olahraga Indonesia.

Editor : Mahendra Aditya
#Megawati Hangestri Manisa BBSK #Manisa BBSK #Megawati Hangestri #liga turki #livoli #pemutusan kontrak megawati #Manisa BBSK Turki #fans manisa bbsk #gaji megawati hangestri #kontrak megawati di manisa bbsk