Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

170 Ribu Ton Bantuan Siap Masuk Gaza, Tapi Warga Masih Bertanya: Sampai Kapan Damai Bertahan?

Mahendra Aditya Restiawan • Minggu, 12 Oktober 2025 | 12:49 WIB

Serangan ke Gaza masih dilancarkan Israel di tengah mediasi damai di Mesir.
Serangan ke Gaza masih dilancarkan Israel di tengah mediasi damai di Mesir.

RADAR KUDUS - Puluhan ribu warga Palestina mulai melangkah pulang menuju Gaza utara pada Jumat (10/10/2025).

Langit yang selama dua tahun terakhir dipenuhi asap dan dentuman kini sedikit lebih tenang.

Setelah Amerika Serikat memediasi kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas, ribuan keluarga yang terpaksa mengungsi kini kembali ke tanah yang pernah mereka tinggalkan — tanah yang kini sebagian besar hanya menyisakan reruntuhan.

Dilansir dari Euronews, momen ini menjadi salah satu yang paling emosional sejak perang panjang antara Israel dan Hamas meletus dua tahun lalu.

Walau belum ada jaminan perdamaian permanen, warga Gaza melihat kesepakatan ini sebagai titik balik — secercah harapan di tengah gelapnya masa depan.

KESEPAKATAN DAMAI YANG MASIH RINGKIH

Militer Israel mengonfirmasi bahwa gencatan senjata resmi dimulai Jumat pagi. Namun, meski peluru berhenti berdesing, ketegangan masih terasa di setiap sudut.

Israel menyatakan akan tetap mempertahankan posisi “defensif” di sekitar 50 persen wilayah Gaza yang masih mereka kuasai.

“Pasukan kami tetap siaga untuk mencegah potensi pelanggaran gencatan senjata,” ujar juru bicara militer Israel seperti dikutip Euronews.

Sementara itu, dari pihak Palestina, suasana di jalanan berubah drastis. Penembakan berhenti. Suara ledakan digantikan langkah kaki ribuan orang yang kembali dengan membawa tas plastik, gerobak, dan barang seadanya.

Di tengah perjalanan, ada tangisan lega bercampur getir. “Kami pulang bukan karena segalanya sudah aman, tapi karena kami tak punya lagi tempat lain untuk pergi,” tutur seorang warga yang kembali ke kampung halamannya di Beit Lahia.

BANTUAN INTERNASIONAL MULAI MENGALIR

Sebagai bagian dari kesepakatan yang dicapai di Jenewa, Israel mengizinkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memulai distribusi bantuan kemanusiaan berskala besar mulai Minggu (12/10/2025).

Bantuan ini mencakup 170.000 ton logistik — dari makanan, air bersih, hingga obat-obatan — yang sudah menumpuk di Yordania dan Mesir selama berbulan-bulan.

Sebelumnya, PBB hanya mampu menyalurkan sekitar 20 persen dari kebutuhan minimum warga Gaza karena jalur logistik yang diblokir.

Kini, lima titik perbatasan akan dibuka, termasuk Rafah yang menghubungkan Gaza dengan Mesir — pintu yang selama ini menjadi urat nadi terakhir bagi warga Palestina.

“Ini bukan akhir penderitaan, tapi awal dari pemulihan,” ujar perwakilan UNRWA dalam konferensi pers di Kairo. Ia menegaskan bahwa prioritas utama adalah menyalurkan bantuan bagi anak-anak dan ibu hamil yang kini menghadapi kelaparan akut.

PEMBEBASAN TAHANAN DAN SANDERA: SIMBOL PERDAMAIAN SEMENTARA

Gencatan senjata kali ini tidak hanya mencakup penghentian serangan dan izin distribusi bantuan, tetapi juga pertukaran tahanan.

Israel berkomitmen membebaskan sekitar 2.000 tahanan Palestina sebagai bagian dari kesepakatan dengan Hamas, yang juga sepakat melepaskan sejumlah sandera Israel.

Kesepakatan ini dianggap sebagai langkah simbolis untuk menurunkan ketegangan, meski banyak pihak skeptis terhadap keberlanjutannya.

“Perdamaian hanya bisa bertahan jika kedua belah pihak benar-benar berniat mengakhirinya, bukan sekadar bernegosiasi di bawah tekanan internasional,” ujar analis politik Timur Tengah, Sami al-Masri, kepada Al Jazeera.

KEMBALI KE TANAH YANG SUDAH TAK SAMA

Gambaran warga Gaza yang kembali ke rumah mereka bak adegan dari film dokumenter tentang kehancuran.

Di jalan pesisir utara, ribuan orang berjalan kaki menyusuri reruntuhan bangunan, mencari sisa-sisa rumah mereka yang mungkin masih berdiri.

“Saya tak tahu harus senang atau menangis. Anak-anak saya menanyakan rumah kami, tapi yang tersisa hanya tembok retak dan foto keluarga yang hangus,” ujar Amina, seorang ibu tiga anak, yang kembali setelah dua tahun mengungsi di Rafah.

Bagi banyak warga, kepulangan ini bukan soal tempat tinggal semata, tapi tentang harga diri dan identitas. Gaza bukan hanya tanah — ia adalah simbol perjuangan, memori, dan kehilangan yang tak terhitung.

PBB DAN NEGARA-NEGARA DONOR SIAPKAN PEMULIHAN

Selain bantuan kemanusiaan darurat, sejumlah negara telah menyatakan komitmen untuk berkontribusi dalam program pemulihan Gaza.

Uni Eropa mengumumkan dana tambahan sebesar 500 juta euro untuk membangun kembali infrastruktur dasar, termasuk rumah sakit, sekolah, dan jaringan listrik.

Sementara itu, Mesir berperan sebagai penghubung logistik utama. Pemerintah Mesir menyiapkan jalur distribusi dari Pelabuhan Al-Arish menuju Rafah, dengan konvoi harian yang membawa bahan bakar, air bersih, dan makanan.

Namun, tantangan terbesar bukan sekadar membangun kembali kota yang hancur, tetapi juga membangun kembali kepercayaan antara kedua belah pihak.

HARAPAN YANG MASIH DIGANTUNG

Meskipun senjata telah berhenti berbicara, para pengamat memperingatkan bahwa gencatan senjata ini masih sangat rapuh. Setiap provokasi kecil berpotensi memicu kembali spiral kekerasan.

“Situasi ini seperti berjalan di atas es tipis,” kata analis keamanan regional, Daniel Levy. “Selama akar konflik tidak diselesaikan — terutama soal status Yerusalem dan blokade ekonomi — maka damai hanya akan jadi jeda, bukan solusi.”

Namun, bagi warga Gaza yang kini tidur di atas lantai beton, tanpa listrik, dan hanya beralaskan selimut sumbangan, bahkan jeda pun terasa seperti anugerah. Mereka tahu perang bisa kembali kapan saja, tapi untuk malam ini, setidaknya mereka bisa tidur tanpa suara rudal.

DAMAI YANG MASIH DICARI

Kembalinya warga Gaza di tengah gencatan senjata ini menjadi simbol betapa kuatnya keinginan manusia untuk bertahan.

Di antara puing-puing, mereka menemukan sesuatu yang tak bisa dihancurkan oleh perang — harapan.

Gencatan senjata bukan akhir, melainkan kesempatan. Kesempatan untuk membangun kembali bukan hanya kota, tapi juga kemanusiaan yang sempat terkubur di bawah reruntuhan.

Dan di langit Gaza yang kini mulai cerah, ada doa yang sama dari jutaan hati: semoga kali ini, damai benar-benar tinggal, bukan sekadar singgah.

Editor : Mahendra Aditya
#Gaza #gencatan senjata Israel Hamas #palestina #Gaza 2025 #pbb #gencatan senjata #gencatan senjata Israel Hamas 2025