RADAR KUDUS - Persaingan di Liga 1 mungkin hanya berlangsung selama 90 menit di atas rumput hijau, tetapi ikatan batin yang terjalin di ruang ganti jauh lebih dalam daripada sekadar skor akhir.
Begitulah semangat yang hidup dalam tubuh Persis Solo, meski musim telah berakhir dan satu per satu pemain mulai angkat kaki.
Perjalanan Persis Solo di musim 2024/2025 ditutup dengan momen haru dan penuh makna. Bukan hanya karena hasil pertandingan terakhir kontra Persib Bandung, tapi juga karena simbol perpisahan yang perlahan muncul di tengah skuad.
Setelah dua musim memperkuat Laskar Sambernyawa, striker muda Ramadhan Sananta resmi berpamitan.
Tak lama kemudian, gelandang asing Moussa Sidibe pun menyampaikan salam perpisahan melalui akun media sosialnya.
Namun, bagi kapten tim Eky Taufik, seragam boleh berganti, tapi tali persaudaraan tetap tertanam kuat.
Dalam wawancaranya usai laga terakhir musim ini, Eky menyampaikan pesan menyentuh yang menjadi cerminan kultur di Persis Solo: "Sepak bola itu dinamis, datang dan pergi adalah hal biasa. Tapi di mana pun nanti kita berkarier, jangan pernah lupa kalau kita pernah jadi keluarga."
Kenangan yang Tak Akan Luntur
Sananta bukan sekadar pemain bagi Persis Solo. Ia bagian dari momen penting dalam perjuangan tim bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Dalam dua musim terakhir, ia mencatatkan kontribusi yang membekas di benak para suporter. Kepergiannya memang menyisakan ruang kosong, tapi lebih dari itu, ia meninggalkan kenangan yang tak tergantikan.
Sementara Sidibe, pemain asal Mali, juga menorehkan pengaruh positif dalam waktu singkat.
Meski singkat, kebersamaan dan semangat juangnya bersama rekan-rekan lain di lapangan menciptakan ikatan yang tak mudah terhapus.
Dalam unggahan perpisahannya, Sidibe tak hanya mengucapkan terima kasih kepada manajemen dan staf pelatih, tapi juga memberikan penghormatan khusus kepada para suporter—orang-orang yang selalu berdiri di belakang tim, apa pun hasilnya.
Lebih dari Sekadar Klub
Apa yang membuat Persis Solo berbeda? Jawabannya mungkin terletak pada atmosfer kekeluargaan yang terasa begitu kuat, bahkan ketika kompetisi sudah usai.
Kapten Eky menggarisbawahi bahwa para pemain tidak sekadar saling mengenal di lapangan, tetapi juga memahami karakter satu sama lain.
"Musim ini kita berjuang bersama, dari posisi rawan degradasi hingga memastikan bertahan. Itu bukan hal kecil. Saya harap, meski nanti bertemu sebagai lawan, kita tetap menyapa, tetap mengingat kalau kita pernah berjuang bersama," kata Eky dengan penuh rasa haru.
Momen yang Menggetarkan Jiwa
Bukti paling nyata dari ikatan emosional para pemain terlihat di laga kandang terakhir di Stadion Manahan, saat Persis menghadapi Dewa United.
Dua mantan pemain Persis—Alexis Messidoro dan Arapenta Poerba—yang kini berseragam tim lawan, tetap menunjukkan respek yang luar biasa.
Setelah pertandingan usai, mereka tidak langsung meninggalkan lapangan. Justru, mereka berdiri di tengah stadion, menyanyikan anthem Persis Solo bersama ribuan pendukung yang memadati tribun.
Sebuah adegan yang jarang terjadi di sepak bola Indonesia, tapi menjadi bukti bahwa Persis bukan sekadar klub, melainkan rumah.
Langkah Baru, Jiwa Tetap Sama
Musim baru sebentar lagi dimulai. Bursa transfer sudah mulai memanas, dan rumor kedatangan pemain baru terus mengemuka.
Tapi dalam derasnya arus perubahan, satu hal tak berubah: jiwa Sambernyawa tetap hidup di setiap pemain yang pernah mengenakan lambang Persis di dadanya.
Mereka yang datang akan disambut dengan hangat, dan mereka yang pergi akan selalu dikenang.
Karena Persis Solo bukan hanya soal menang atau kalah, melainkan tentang bagaimana sebuah tim menjadi keluarga, meski dunia sepak bola terus bergerak tanpa henti. (*)