RADAR KUDUS - Arsenal membuat gebrakan besar di kancah Eropa. Dalam laga leg pertama perempat final Liga Champions, mereka sukses melumat juara bertahan Real Madrid dengan skor telak 3-0 di Emirates Stadium.
Sepakan bebas brilian dari Declan Rice dan satu gol tambahan dari Mikel Merino membuat The Gunners melangkah ke leg kedua dengan keunggulan meyakinkan.
Namun, laga belum selesai. Bagi sebagian besar tim, defisit tiga gol mungkin berarti tamat. Tapi lawan mereka kali ini adalah Real Madrid — klub dengan DNA comeback di Liga Champions.
Pelatih Carlo Ancelotti tak ingin menyerah begitu saja. "Peluangnya kecil, tapi kami harus berjuang 100 persen. Di Bernabéu, segalanya bisa terjadi,” ujarnya dengan nada yakin.
Bek Madrid, Lucas Vázquez, bahkan lebih percaya diri: “Kalau ada tim yang bisa membalikkan situasi ini, itu Real Madrid di depan para pendukungnya.”
Comeback dari Neraka: Hanya 4 dari 48 yang Sukses
Sejak format Liga Champions modern diberlakukan pada 1992, ada 48 tim yang pernah unggul tiga gol atau lebih di leg pertama fase gugur.
Dari jumlah itu, hanya empat yang gagal mempertahankan keunggulannya. Itu artinya, hanya 8,3% dari skenario seperti ini berakhir dengan comeback.
Arsenal boleh percaya diri. Statistik berpihak pada mereka. Tapi sejarah Liga Champions juga mencatat: keajaiban kadang terjadi, dan Madrid tahu cara melakukannya.
Comeback Legendaris dalam Sejarah Liga Champions
Contoh paling ikonik datang dari musim 2016/17. Paris Saint-Germain menghajar Barcelona 4-0 di Parc des Princes.
Namun, di Camp Nou, Barca membalikkan semuanya dengan kemenangan gila 6-1. Gol penentu dari Sergi Roberto tercipta di detik-detik akhir.
Barca juga pernah jadi korban. Di musim 2018/19, mereka menang 3-0 atas Liverpool di leg pertama semifinal.
Tapi Anfield jadi neraka bagi tim Catalan — Liverpool menang 4-0, dengan satu gol dari situasi sepak pojok cepat ala Trent Alexander-Arnold ke Divock Origi yang kini melegenda.
Real Madrid: Ahli Comeback, Tapi Tak Selalu Berhasil
Madrid pun punya sejarah mengejar ketertinggalan tiga gol. Yang paling awal terjadi pada 1975/76 melawan Derby County.
Kalah 4-1 di Inggris, mereka membalas 5-1 setelah perpanjangan waktu di Bernabéu.
Mereka mengulangi keajaiban itu di era 80-an di Piala UEFA. Pada 1985, Madrid menghajar Anderlecht 6-1 setelah sebelumnya kalah 3-0.
Setahun kemudian, setelah kalah 5-1 dari Borussia Mönchengladbach, mereka menang 4-0 dan lolos lewat aturan gol tandang.
Namun, sejak itu, setiap kali tertinggal tiga gol atau lebih di leg pertama kompetisi Eropa, Madrid belum mampu membalikkan keadaan. Termasuk kekalahan dari Benfica (1965), Bayern (1987), dan Borussia Dortmund (2013).
Bernabéu Masih Punya Sihir
Meski statistik menguntungkan Arsenal, Real Madrid tetap bukan lawan biasa. Dalam era Liga Champions saja, mereka pernah membalik lima dari 15 laga fase gugur setelah kalah di leg pertama. Terbaru, di musim 2021/22, mereka menyingkirkan PSG dan Manchester City dalam dua laga dramatis — keduanya di Bernabéu.
Di sisi lain, sejarah juga berpihak pada Arsenal. Kemenangan 3-0 atas Madrid menjadi yang ke-12 bagi tim Inggris yang unggul tiga gol atau lebih di leg pertama.
Semua dari 11 kasus sebelumnya sukses melaju ke babak berikutnya.
Arsenal Waspada, Madrid Percaya Diri
Arsenal berada di atas angin, tapi jangan lupakan reputasi Bernabéu sebagai panggung mukjizat. Arsenal mungkin menatap semifinal, tapi Real Madrid belum menurunkan bendera perang. Jika sejarah mengajarkan kita satu hal, itu adalah: jangan pernah anggap enteng Real Madrid di Liga Champions.
Jadi, siapa yang akan tersenyum pada leg kedua nanti? Apakah Arsenal mengubur sang raja Eropa, atau Real Madrid kembali menciptakan kisah ajaib di rumah sendiri? Rabu malam nanti akan menjadi jawabannya.
Editor : Mahendra Aditya