RADAR KUDUS - Jepang memang gagal total di ajang Piala Dunia 1998. Tiga laga, tiga kekalahan.
Namun, dari kegagalan tersebut, lahirlah satu bintang muda yang sinarnya tak redup: Hidetoshi Nakata.
Pemain berusia 21 tahun itu tampil memukau di tengah keterpurukan tim nasional, hingga menarik perhatian klub Italia, Perugia, yang saat itu baru promosi ke Serie A.
Performa Nakata tak hanya mengesankan penonton, tetapi juga mendapat sanjungan dari sang legenda Jepang, Kazuyoshi Miura, yang pernah mencicipi Serie A bersama Genoa.
Baca Juga: Kisah Serie A: Asal-Usul Nama Derby della Madonnina dalam Laga Ac Milan vs Inter Milan
“Jika ingin menghentikan Nakata, lawan harus punya kemampuan menjebak luar biasa. Bola yang dikuasainya bisa datang begitu cepat,” kata Miura, dikutip dari Majalah HAI edisi Agustus 1998.
Ditempa di J-League, Ditempa oleh Bintang Brasil
Lahir dari rahim kompetisi profesional Jepang yang baru bergulir sejak 1993, Nakata dibesarkan oleh J-League bersama klub Bellmare Hiratsuka (kini Shonan Bellmare).
Ia memilih klub tersebut karena adanya sosok-sosok panutan, seperti tiga pemain Brasil—Betinho, Almir, dan Simao—yang berperan besar dalam mengasah kemampuannya.
Ambisinya sangat besar. Nakata bahkan rela terbang ke Italia hanya untuk belajar tendangan bebas dari maestro Gianfranco Zola.
Tak heran, Perugia kemudian mengontraknya selama lima tahun dan menjadikannya pemain Jepang kedua yang tampil di Serie A, setelah Miura.
Namun, berbeda dari sang senior, kehadiran Nakata di Italia bukan karena hubungan sponsor, melainkan murni karena bakat dan prestasi.
Pelatih legendaris Arsenal, Arsène Wenger, turut memberikan pujian: “Dia adalah salah satu pemain muda berbakat yang sudah berada di level dunia.”
Baca Juga: Kisah Seria A: Legenda AC Milan yang Dianggap Gila karena Tolak Pindah ke Real Madrid
Gelandang dengan Visi, Umpan Akurat, dan Jiwa Pemberontak
Berbeda dari stereotip pemain Jepang yang hanya mengandalkan kecepatan, Nakata memiliki kelebihan lain: kelincahan, ketenangan, serta umpan-umpan yang presisi.
Ia juga dikenal sebagai sosok yang independen dan tidak segan mengutarakan pendapatnya.
Namun, karakter itulah yang menjadikannya sosok kontroversial di mata pers Jepang. Dalam sebuah wawancara, Nakata sempat menyatakan bahwa ia tidak bangga membela tim nasional Jepang.
“Saya bermain untuk diriku sendiri, bukan untuk Jepang. Ini tentang kesempatan mengembangkan karier di luar negeri,” ujar Nakata.
Sikap tersebut membuatnya dibenci media Jepang. Ia bahkan menjadi satu-satunya pemain Jepang yang menolak diwawancarai selama Piala Dunia 1998.
Menurut Nakata, sikapnya itu muncul akibat pemberitaan tidak akurat dari media Jepang tentang dirinya. “Saya tidak akan mentolerir mereka yang terus menulis hal yang salah,” katanya tegas.
Dari Perugia, Roma, hingga Parma: Karier Emas di Italia
Setelah penampilan gemilang di Piala Dunia, Perugia memboyong Nakata dengan nilai kontrak 4 juta dolar AS. Musim pertamanya begitu impresif, dengan torehan 10 gol—jumlah tinggi untuk ukuran seorang gelandang serang.
Tak butuh waktu lama, AS Roma membajak Nakata pada pertengahan musim dengan nilai transfer fantastis, 42 miliar lire.
Di klub ibu kota itu, Nakata meraih prestasi puncak: scudetto Serie A 2000/01. Salah satu momen terbaiknya tercipta pada 6 Mei 2001 saat Roma tandang ke markas Juventus.
Tertinggal 0-2, Nakata masuk menggantikan Francesco Totti dan mencetak gol jarak jauh ke gawang Edwin van der Sar, sebelum berkontribusi pada gol penyama kedudukan yang dicetak Vincenzo Montella.
Musim berikutnya, Nakata pindah ke Parma dengan nilai transfer 55 miliar lire—rekor bagi pemain Asia kala itu. Bersama Parma, ia mempersembahkan gelar Coppa Italia 2002.
Baca Juga: Forza! Hak Siar Serie A Resmi bakal Masuk Indonesia, Begini Cara Akses Linknya
Kontribusi untuk Tim Nasional dan Keputusan Pensiun Dini
Debutnya bersama tim senior Jepang terjadi pada Mei 1997 saat menghadapi Korea Selatan. Di babak kualifikasi Piala Dunia 1998, Nakata mencetak lima gol dan tiga assist dalam laga play-off melawan Iran.
Ia juga memperkuat Jepang di Piala Dunia 2002, mencetak satu gol ke gawang Tunisia, dan bermain penuh di tiga laga Piala Dunia 2006.
Namun, hasil buruk di edisi 2006—dua kekalahan dan satu imbang—membuat Nakata kecewa. Tak lama setelah turnamen di Jerman usai, ia mengumumkan pensiun di usia 29 tahun.
“Saya memutuskan sejak enam bulan lalu bahwa saya akan pensiun setelah Piala Dunia ini. Saya tak akan pernah lagi bermain sebagai pesepak bola profesional. Tapi saya tidak akan menyerah pada sepak bola,” tulisnya di situs pribadinya.
Baru pada 2014, Nakata mengungkap alasan di balik keputusan mengejutkannya itu. “Saya sudah tidak lagi menikmati permainan ini. Saya ingin menjelajahi dunia dan melihat apa yang terjadi di luar sepak bola.”
Hidetoshi Nakata bukan sekadar pemain berbakat, tetapi juga simbol transformasi sepak bola Jepang di kancah dunia.
Sosoknya yang kontroversial, independen, dan penuh visi menjadikannya legenda dengan cerita unik—anak ajaib dari Negeri Sakura yang meninggalkan panggung sepak bola saat dunia masih menantikannya. (*)
Editor : Mahendra Aditya