PATI – Perkenalan dan tanda tangan kontrak pemain Persipa Pati berbeda dari tren klub-klub di Liga Indonesia saat ini.
Jika kebanyakan klub meniru gaya Liga Eropa dengan mengenakan setelan jas rapi, manajemen Persipa mengenalkan pemain dengan setelan kemeja batik tulis Bakaran, Juwana.
Tim berjuluk Laskar Saridin itu, memang tidak ikut-ikutan meniru gaya berpakaian seperti ala Liga Eropa.
Sebab, manajemen konsisten untuk mengangkat sejarah dan budaya lokal Bumi Mina Tani.
Hal itu tampak dari unggahan akun Instagram Persipa yang menampilkan sesi tanda tangan kontrak pemain dengan mengenakan setelan kemeja batik tulis Bakaran, Juwana.
Terlihat para pemain yang sudah resmi bergabung mengenakan kemeja batik tulis Bakaran dengan beragam motif, seperti motif Mina Tani yang cukup populer.
”Memang kami dari awal dari tim media, aparel, dan manejemen komitmen mengangkat sejarah dan budaya Pati," ujar General Manager Persipa Pati Dian Dwi Budianto kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin.
"Nanti di jersey Persipa juga akan ditampilkan perjalanan sejarah Pati. Kalau unsur batik tulis Bakaran setiap musim kami tampilkan di jersey,” jelasnya.
Diketahui, dari Liga 3 musim 2021 lalu, jersey Persipa Pati selalu mengangkat motif batik tulis Bakaran, Juwana, sebagai identitas di jersey.
”Kami memang sengaja mengangkat unsur keindahan batik tulis Bakaran, Juwana, ini yang sudah menjadi identitas dan produk unggulan Pati. Batik tulis ini, juga merupakan warisan budaya yang sudah turun-temurun," katanya.
"Tidak masalah yang lain pakai jas ala-ala Eropa, kami mengangkat budaya kami sendiri, pakai batik tulis Bakaran. Mungkin agak aneh, karena yang lain sekarang ini pakai jas, tapi kami pakai batik. Kami dilahirkan dan dikembangkan di Jawa. Kami tidak bisa tinggalkan batik,” terangnya.
Mantan Komandan Resimen Patifosi Dian Dwi Budianto menilai, dengan mengangkat unsur sejarah dan budaya yang ada di Kabupaten Pati, akan menambah energi positif tersendiri bagi Tim Laskar Saridin di lapangan nantinya.
”Termasuk di jersey nanti kami angkat juga sejarah perjalanan Syeh Jangkung atau Saridin juga yang menjadi kebanggaan kami. Dengan mengangkat ini, kami akan mendapat energi positif,” paparnya. (aua/lin)
Editor : Ali Mustofa