Ternyata Ini Jejak Pendidikan K.H. Hasan Abdullah Sahal, dari Gontor hingga Madinah dan Al-Azhar

Zainal Abidin RK • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 08:30 WIB
K.H. Hasan Abdullah Sahal (sumber Ponpes Modern Gontor)
K.H. Hasan Abdullah Sahal (sumber Ponpes Modern Gontor)

K.H. Hasan Abdullah Sahal lahir di Desa Gontor, Ponorogo, pada 24 Mei 1947. Ia merupakan putra keenam K.H. Ahmad Sahal, salah satu Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

Pendidikan Hasan Abdullah Sahal sejak awal sangat dekat dengan lingkungan pesantren. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Gontor pada 1959. Bahkan, tiga bulan sebelum menyelesaikan pendidikan dasar tersebut, ia telah diterima di Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor.

Ia menyelesaikan pendidikan KMI pada 1965. Setelah itu, ia melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam (IPD), sembari mengajar di KMI selama sekitar dua setengah tahun.

Pada 1967, Hasan Abdullah Sahal memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan ke Fakultas Da’wah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Ia menjadi salah satu kader Gontor yang menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Sumber resmi Gontor menyebutnya sebagai alumni Universitas Islam Madinah pada era 1970-an.

Setelah menjalani pendidikan di Madinah, ia kemudian memperdalam keilmuan Islam di Universitas Al-Azhar, Mesir. Pada 1992, ia mengambil spesialisasi bidang Hadis di universitas tersebut. Riwayat Gontor juga mencatat bahwa masa studinya di Madinah tidak sepenuhnya diselesaikan karena ia kemudian memenuhi panggilan untuk kembali mengabdi di pondok.

Perjalanan pendidikannya mempertemukan tiga lingkungan keilmuan: tradisi pesantren Gontor, pendidikan Islam di Madinah, dan tradisi keilmuan Al-Azhar di Mesir.

Latar belakang tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi pemikiran Hasan Abdullah Sahal dalam menjalankan perannya sebagai pendidik dan pimpinan Gontor. Ia tidak hanya ditempa melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui pengalaman panjang mengajar, membina santri, dan mengelola kehidupan pesantren.

Menariknya, pendidikan Gontor sendiri tidak hanya menekankan pencapaian akademik. Sistem KMI dirancang sebagai pendidikan kepesantrenan yang menggabungkan pembelajaran ilmu agama, bahasa, kedisiplinan, pengabdian, dan pembentukan karakter. Ijazah KMI juga telah memperoleh berbagai pengakuan dan penyetaraan, termasuk setara pendidikan menengah atas.

Karena itu, perjalanan pendidikan K.H. Hasan Abdullah Sahal dapat dilihat bukan semata sebagai perjalanan dari satu kampus ke kampus lain, tetapi sebagai proses panjang pembentukan seorang kader pesantren yang kemudian kembali mengabdikan ilmunya untuk Gontor. (*)

Editor : Zainal Abidin RK
gontor Pondok Modern Darussalam Kairo