Kiai Hasan Abdullah Sahal, Kiai Gontor yang Menyampaikan Kritik Lewat Bahasa Halus

Zainal Abidin RK • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 08:23 WIB
K.H. Hasan Abdullah Sahal (sumber Ponpes Modern Gontor)
K.H. Hasan Abdullah Sahal (sumber Ponpes Modern Gontor)

PONOROGO — Tidak semua kritik harus disampaikan dengan suara keras. Ada kalanya pesan yang paling tajam justru disampaikan melalui kalimat sederhana, humor, dan nasihat yang membuat orang berpikir.

Gambaran itu terlihat dalam sosok K.H. Hasan Abdullah Sahal, salah satu pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Dalam acara Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor di Ponorogo, Sabtu (19/9/2026), ia menyampaikan pidato di hadapan Presiden Prabowo Subianto.

Di tengah suasana peringatan satu abad Gontor, Kiai Hasan tidak hanya berbicara mengenai sejarah pesantren. Ia juga menyampaikan sejumlah pesan tentang pendidikan, kekuasaan, keteladanan, hingga fenomena mencari muka.

Cara penyampaiannya menarik. Tidak dengan menunjuk nama atau melontarkan tudingan langsung, tetapi melalui kalimat yang terdengar seperti nasihat umum. Namun, karena disampaikan tepat di hadapan Presiden dan para pejabat yang hadir, pesan tersebut menjadi perhatian.

Salah satu yang disorot adalah fenomena “cari muka”. Kiai Hasan mengingatkan bahwa kehidupan masyarakat maupun dunia kekuasaan tidak boleh diwarnai perilaku mencari keuntungan pribadi, jabatan, maupun perhatian dari penguasa.

Ia juga menegaskan bahwa Gontor memilih jalan pendidikan. Pesantren, kata dia, tetap berkomitmen membina umat dan bangsa melalui pendidikan, sementara para alumninya yang berada di lembaga eksekutif, legislatif maupun yudikatif dapat berkontribusi sesuai bidang masing-masing.

Di titik inilah gaya komunikasi Kiai Hasan menjadi menarik. Ia menyampaikan pesan kritis tanpa menjadikannya sebagai serangan personal.

Bahkan, ketika hendak menyampaikan sesuatu yang dianggap kurang nyaman, ia terlebih dahulu mengatakan kepada Presiden Prabowo, “Saya tak ngomong agak ndak enak ya, Pak. Sorry ye.” Kalimat tersebut justru membuat suasana menjadi cair, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa ada pesan yang ingin disampaikan.

Putra Pendiri Gontor

Kiai Hasan bukan tokoh yang tiba-tiba muncul di tengah peringatan satu abad Gontor.

Ia lahir di Desa Gontor pada 24 Mei 1947. Ia merupakan putra keenam K.H. Ahmad Sahal, salah satu dari tiga Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor bersama K.H. Zainuddin Fananie dan K.H. Imam Zarkasyi.

Pendidikan Kiai Hasan sebagian besar ditempa di lingkungan Gontor. Setelah menyelesaikan KMI pada 1965, ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam sembari mengajar di KMI.

Pada 1967, ia melanjutkan studi ke Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah. Kemudian pada 1992 ia memperdalam spesialisasi hadis di Universitas Al-Azhar, Mesir.

Perjalanan pendidikannya tersebut ikut membentuk karakter intelektual dan kepesantrenan yang melekat pada dirinya.

Sejak 1985, Kiai Hasan dipercaya menjadi pimpinan Gontor. Ia memimpin bersama sejumlah tokoh lain dalam sistem kepemimpinan kolektif Gontor. Selain itu, ia juga mendirikan Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah di Coper, Jetis, Ponorogo, serta Pondok Tahfidz Qur'an Al-Muqoddasah.

Kritik yang Tidak Berteriak

Yang membuat sosok Kiai Hasan menarik perhatian dalam peristiwa tersebut bukan semata-mata isi pesannya, melainkan cara ia menyampaikannya.

Ia tidak berdiri di depan Presiden untuk melakukan konfrontasi. Sebaliknya, pesan disampaikan dengan bahasa pesantren: menggunakan humor, perumpamaan, sejarah, dan refleksi moral.

Dalam pidatonya, ia bahkan mengingatkan pentingnya keteladanan seorang pemimpin. Salah satu pesan yang muncul adalah bahwa seorang pemimpin harus mampu menjaga kesederhanaan dan tidak terjebak dalam kemewahan maupun pencitraan.

Bagi publik, gaya seperti ini dapat dipahami sebagai bentuk kritik yang disampaikan melalui bahasa etika, bukan bahasa pertentangan.

Kiai Hasan juga menegaskan posisi Gontor untuk tetap memilih pendidikan. Pernyataan itu sekaligus menunjukkan bagaimana pesantren menjaga jarak dari kepentingan politik praktis, meskipun para alumninya tersebar di berbagai lembaga negara.

Ketegasan yang Dibungkus Kesantunan

Keberanian Kiai Hasan sebenarnya tidak terletak pada kerasnya suara. Justru kekuatannya terlihat ketika ia mampu menyampaikan sesuatu yang berpotensi sensitif dalam forum yang sangat resmi.

Presiden berada di hadapannya. Para pejabat hadir. Ribuan alumni dan keluarga besar Gontor menyaksikan.

Namun Kiai Hasan tetap menyampaikan prinsip yang diyakininya.

Itulah karakter komunikasi seorang kiai: tidak harus menunjuk untuk mengingatkan, tidak harus memarahi untuk mengkritik, dan tidak harus menyebut nama untuk menyampaikan pesan.

Pesan tentang bahaya “cari muka”, pentingnya kesederhanaan, keteladanan pemimpin, serta pilihan Gontor untuk tetap berada di jalur pendidikan menjadi bagian dari pidatonya.

Dalam konteks itulah Kiai Hasan Abdullah Sahal kembali menunjukkan karakter yang selama puluhan tahun melekat pada dirinya: seorang pendidik yang berbicara dari posisi moral pesantren.

Bukan dengan teriakan.

Tetapi dengan kalimat yang membuat orang di hadapannya diam sejenak, lalu berpikir.

Editor : Zainal Abidin RK
gontor kiai Hasan Abdullah Sahal Kritik Halus