Bukan Hanya Banten dan Lampung, Abu Anak Krakatau Terdeteksi hingga Jakarta dan Jawa Barat

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 07:44 WIB
PETA SEBARAN: Kondisi dampak pasca erupsi Anak Gunung Krakatau mengarah ke Barat. (STASIUN ETEOROLOGI AHMAD YANI SEMARANG UNTUK RADAR KUDUS)
PETA SEBARAN: Kondisi dampak pasca erupsi Anak Gunung Krakatau mengarah ke Barat. (STASIUN ETEOROLOGI AHMAD YANI SEMARANG UNTUK RADAR KUDUS)

RADAR KUDUS - Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda meluas hingga sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra. Material vulkanik dilaporkan mencapai sedikitnya enam provinsi, sementara warga di beberapa daerah mengeluhkan mata perih, tenggorokan tidak nyaman hingga gangguan pernapasan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui analisis citra satelit Himawari-9 pada Minggu (6/9/2026) mendeteksi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada dua lapisan ketinggian. Perbedaan ketinggian tersebut membuat arah pergerakan abu tidak seragam karena mengikuti kondisi angin di atmosfer.

Pada lapisan hingga sekitar 20.000 kaki, abu terpantau bergerak ke arah tenggara hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah Banten, Jawa Barat serta perairan di sekitarnya.

Baca Juga: Sebaran Abu Anak Krakatau Mulai Menjauh dari Indonesia, BMKG Ungkap Arah Terbarunya

Sementara material yang mencapai ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya dan barat laut, mencakup sebagian Banten dan Lampung, Bengkulu, Sumatra Selatan, Sumatra Barat, bagian selatan Selat Sunda hingga Samudra Hindia di sebelah barat.

Dampak sebaran abu juga dirasakan masyarakat di sejumlah daerah. Di Lampung, material vulkanik dilaporkan mencapai Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pesawaran hingga Tanggamus. Warga mengeluhkan mata perih, tenggorokan terasa tidak nyaman dan sesak napas ketika beraktivitas di luar ruangan.

Keluhan serupa muncul di Banten. Warga di Kabupaten Serang melaporkan abu menempel di permukiman dan jalan. Debu vulkanik juga dirasakan masyarakat di kawasan Cilegon dan sekitar pesisir Banten.

Di Jawa Barat, abu vulkanik bahkan dilaporkan mencapai Bogor dan Sukabumi. Sejumlah warga mengaku mendapati kendaraan dan lantai rumah tertutup debu. Pemerintah daerah kemudian mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker ketika melakukan aktivitas di luar rumah.

Sebaran abu juga mencapai wilayah Jakarta dan sekitarnya. Di kawasan Bundaran HI, sejumlah warga yang beraktivitas saat car free day terlihat menggunakan masker. Warga di Jakarta Barat dan Tangerang Selatan turut melaporkan adanya debu yang menempel di rumah maupun kendaraan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat tidak panik, tetapi tetap memperhatikan dampak abu vulkanik terhadap kesehatan. Menurutnya, paparan abu dapat berdampak pada sistem pernapasan, mata dan kulit.

Masyarakat di wilayah yang terdampak dianjurkan menggunakan masker, terutama saat berada di luar ruangan, serta mengurangi aktivitas di area yang terpapar abu. Jika mengalami gangguan pernapasan atau keluhan kesehatan yang semakin berat, masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.

Gunung Anak Krakatau sendiri masih berada pada Level III atau Siaga. Aktivitas erupsi yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) menghasilkan lontaran material pijar dan abu vulkanik. Badan Geologi meminta masyarakat tidak mendekati pusat aktivitas gunung dalam radius 3 kilometer.

Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi bahaya berupa awan panas, lava, lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Perkembangan aktivitas vulkanik serta perubahan morfologi gunung terus dipantau secara intensif oleh otoritas terkait.

Erupsi kali ini juga beriringan dengan laporan suara dentuman dan getaran yang dirasakan warga di sejumlah wilayah Jawa Barat. Namun, BMKG belum dapat memastikan hubungan langsung antara erupsi Anak Krakatau dan dentuman yang dilaporkan di Bandung Raya.

Baca Juga: Bukan Muncul Tiba-Tiba, Ini Penyebab Anak Krakatau Terus Erupsi di Selat Sunda, Waspada Megathrust?

BMKG menyatakan tidak menemukan aktivitas kegempaan signifikan di wilayah Bandung Raya maupun perkembangan aktivitas pada Sesar Lembang yang dapat menjelaskan fenomena tersebut. Pada saat yang sama, aktivitas vulkanik Anak Krakatau memang terdeteksi melalui pemantauan satelit.

BMKG menyebut fenomena dentuman tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menilai erupsi Anak Krakatau tetap menjadi salah satu kemungkinan sumber suara, dengan mempertimbangkan pengalaman erupsi Anak Krakatau pada 2020 dan Gunung Kelud pada 2014 yang suara letusannya terdengar hingga wilayah yang jauh dari pusat erupsi.

Otoritas vulkanologi menegaskan pemantauan terhadap Anak Krakatau terus dilakukan. Masyarakat di wilayah yang terkena sebaran abu diimbau mengikuti informasi resmi dari BMKG, PVMBG dan pemerintah daerah serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

Editor : Mahendra Aditya
erupsi Anak Krakatau 2026 abu vulkanik Anak Krakatau sebaran abu vulkanik dampak abu vulkanik gunung anak krakatau