Anak Krakatau hingga Sinabung Erupsi, Ini Penjelasan PVMBG soal Fenomena 6 Gunung Api

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 18:45 WIB
Ilustrasi gunung berapi yang menyemburkan lava panas dan abu vulkanik. (Gemini AI)
Ilustrasi gunung berapi yang menyemburkan lava panas dan abu vulkanik. (Gemini AI)

RADAR KUDUS - Enam gunung api di berbagai wilayah Indonesia tercatat mengalami erupsi dalam periode yang berdekatan pada 31 Agustus 2026. Fenomena ini kembali menyoroti tingginya risiko vulkanik di Indonesia sekaligus menguji kesiapan sistem pemantauan dan mitigasi bencana ketika beberapa gunung menunjukkan aktivitas secara bersamaan.

Enam gunung tersebut adalah Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Ili Lewotolok dan Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatra Utara.

Kemunculan aktivitas vulkanik di enam lokasi dalam waktu berdekatan sempat memunculkan pertanyaan apakah letusan tersebut saling berhubungan atau merupakan tanda adanya proses geologi berskala lebih besar.

Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau Bikin Warga Cemas, Begini Kondisi Wisata Kepulauan Seribu

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi menegaskan tidak ada bukti yang menunjukkan keenam gunung tersebut saling memicu. Kepala PVMBG Badan Geologi Rita Susilawati menyebut aktivitas masing-masing gunung merupakan dinamika vulkanik yang berlangsung secara independen.

Dengan 127 gunung api aktif dan posisi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, munculnya aktivitas pada beberapa gunung dalam waktu berdekatan bukan secara otomatis menunjukkan adanya satu proses geologi yang sama.

Artinya, kesamaan waktu erupsi tidak bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa keenam gunung memiliki penyebab yang sama.

Baca Juga: 8 Bandara Ditutup Imbas Abu Anak Krakatau, BMKG Ungkap Arah Sebaran Terbaru

Setiap gunung mempunyai sistem magma dan karakter aktivitas masing-masing. Karena itu, aktivitas Gunung Ibu tidak dapat digunakan untuk menjelaskan perubahan aktivitas Gunung Semeru. Hal serupa berlaku antara Anak Krakatau dan Sinabung yang memiliki sistem vulkanik berbeda.

PVMBG juga menilai kondisi setiap gunung harus dibaca berdasarkan data pemantauan masing-masing. Parameter yang diperhatikan mencakup aktivitas kegempaan, deformasi tubuh gunung, perubahan visual, karakter erupsi, tinggi kolom abu, pergerakan lava, hingga potensi awan panas dan lahar.

Perbedaan karakter tersebut membuat status dan rekomendasi keselamatan setiap gunung tidak bisa disamaratakan. Level II atau Waspada pada satu gunung memiliki konsekuensi berbeda dengan Level III atau Siaga pada gunung lainnya.

Pada 31 Agustus, misalnya, Gunung Ibu di Halmahera Barat, Maluku Utara, mengalami beberapa kali erupsi. Aktivitas berulang itu menunjukkan bahwa ancaman vulkanik tidak selalu berbentuk satu letusan besar, tetapi dapat berlangsung dalam rangkaian aktivitas yang membutuhkan pemantauan berkelanjutan.

Di Nusa Tenggara Timur, Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata juga mengalami erupsi dengan kolom abu sekitar 700 meter di atas puncak. Pada waktu yang sama, Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur mengalami erupsi dengan kolom abu sekitar 300 meter di atas puncak.

Kedua gunung tersebut memiliki karakter dan rekomendasi keselamatan yang berbeda. Gunung Lewotobi Laki-laki berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat dan wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi serta mewaspadai potensi lahar hujan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di kawasan gunung.

Baca Juga: Masker Jadi Buruan Warga Saat Abu Anak Krakatau Menyebar, Ini Pesan Pramono Anung

Sementara itu, Gunung Semeru di Jawa Timur juga menunjukkan aktivitas berupa letusan dan guguran lava. Potensi bahayanya tidak hanya berasal dari abu vulkanik, tetapi juga mencakup kemungkinan awan panas guguran serta lahar yang dapat bergerak melalui sungai-sungai yang berhulu di kawasan puncak.

Perkembangan berbeda terjadi di Gunung Sinabung, Sumatra Utara. Pada 31 Agustus, gunung tersebut mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak atau sekitar 5.960 meter di atas permukaan laut.

Peningkatan aktivitas visual dan instrumental kemudian menjadi dasar perubahan status Sinabung dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga.

Perubahan status itu menunjukkan bahwa ukuran kolom abu semata bukanlah penentu tunggal tingkat bahaya sebuah gunung. Penilaian dilakukan dengan melihat keseluruhan perkembangan aktivitas berdasarkan data pemantauan.

Baca Juga: 12 Gempa Terjadi di Tanggamus Saat Anak Krakatau Erupsi, BMKG Beri Penjelasan

Di antara enam gunung tersebut, perkembangan Gunung Anak Krakatau kemudian memperlihatkan bagaimana dampak aktivitas vulkanik dapat meluas jauh melewati kawasan sekitar gunung.

Aktivitas Anak Krakatau yang tercatat pada 31 Agustus terus berkembang. Erupsi menerus mulai teramati pada 4 September 2026 sekitar pukul 23.07 WIB, disertai suara gemuruh, dentuman dan fenomena lava fountain.

Dampaknya kemudian tidak hanya menjadi persoalan bagi wilayah sekitar Selat Sunda. Abu vulkanik terbawa angin dan menyebar ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra.

Pada 6 September, sebaran abu tersebut bahkan mengganggu operasional sejumlah bandara. Beberapa bandara sempat ditutup sementara sebagai langkah keselamatan penerbangan.

Sehari kemudian, BMKG melaporkan dampak yang lebih luas. Sebaran abu vulkanik Anak Krakatau berpengaruh terhadap penutupan sementara delapan bandara di Jawa dan Sumatra. Pemantauan juga menunjukkan sebaran abu mencapai wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa ancaman gunung api tidak selalu berhenti di sekitar kawah. Abu vulkanik dapat mengikuti pola angin dan bergerak melintasi wilayah administratif, mengganggu kualitas udara, kesehatan masyarakat, transportasi udara hingga aktivitas ekonomi.

Baca Juga: Abu Anak Krakatau Belum Sentuh Jateng, Warga Diminta Jangan Panik

Khusus Anak Krakatau, aktivitas vulkanik juga tidak bisa dilepaskan dari memori bencana tsunami Selat Sunda pada Desember 2018. Saat itu, longsoran tubuh Anak Krakatau ke laut memicu tsunami yang menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.

Riwayat tersebut membuat peningkatan aktivitas Anak Krakatau kembali memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan tsunami. Namun, aktivitas gunung saat ini tetap harus dinilai berdasarkan data terkini, bukan semata-mata berdasarkan peristiwa masa lalu.

Kondisi morfologi, aktivitas magma dan perubahan struktur gunung menjadi bagian dari parameter yang perlu dianalisis untuk menentukan potensi bahaya. Karena itu, setiap erupsi Anak Krakatau tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai tanda akan terjadi tsunami.

Yang menjadi penting adalah pemantauan terus-menerus serta kepatuhan terhadap rekomendasi yang dikeluarkan otoritas kebencanaan.

Rangkaian aktivitas vulkanik pada akhir Agustus sekaligus menunjukkan kompleksitas tantangan Indonesia sebagai negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik.

Dengan jumlah gunung api aktif yang mencapai 127, Indonesia harus memiliki kemampuan untuk menghadapi kemungkinan lebih dari satu gunung mengalami peningkatan aktivitas dalam waktu bersamaan.

Ukuran kesiapsiagaan bukan berarti tidak adanya letusan. Aktivitas vulkanik merupakan proses alam yang tidak dapat dihentikan. Yang dapat diperkuat adalah kemampuan untuk mendeteksi perubahan sedini mungkin, menyampaikan informasi dengan cepat, menyiapkan langkah evakuasi dan memastikan masyarakat memahami zona bahaya.

Tantangan tersebut menjadi semakin kompleks ketika beberapa gunung membutuhkan perhatian pada waktu yang sama. Saat Sinabung mengalami peningkatan status di Sumatra Utara, aktivitas Semeru di Jawa Timur tetap harus dipantau. Gunung Ibu dan dua gunung di Nusa Tenggara Timur juga membutuhkan pengawasan, sementara perkembangan Anak Krakatau bahkan mulai berdampak terhadap ruang udara.

Situasi semacam ini menuntut sistem kebencanaan yang mampu bekerja secara simultan. Bukan hanya personel dan peralatan yang harus siap, tetapi juga sistem penyampaian informasi kepada pemerintah daerah dan masyarakat.

Kecepatan dan ketepatan informasi menjadi bagian penting dari mitigasi. Informasi yang terlambat dapat membuat masyarakat kehilangan waktu untuk mengambil tindakan, sedangkan informasi yang keliru berpotensi menimbulkan kepanikan.

Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa tidak setiap erupsi berarti harus dilakukan evakuasi massal. Namun, ketika otoritas meningkatkan status gunung atau menetapkan zona bahaya, rekomendasi tersebut harus menjadi pedoman utama.

Di tengah derasnya informasi media sosial, masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap video lama, foto yang tidak sesuai konteks, maupun narasi yang menyebut enam gunung tersebut saling “membangunkan”.

PVMBG telah menegaskan tidak terdapat bukti bahwa aktivitas keenam gunung tersebut saling memicu. Kondisi setiap gunung harus dilihat berdasarkan data pemantauan dan karakter ancamannya masing-masing.

Pada akhirnya, enam gunung yang mengalami erupsi dalam periode berdekatan bukan bukti bahwa Indonesia sedang menuju satu bencana vulkanik besar yang melibatkan seluruh gunung api.

Namun, fenomena tersebut menjadi pengingat kuat bahwa Indonesia hidup berdampingan dengan risiko vulkanik yang bersifat permanen.

Ancaman bisa muncul dari banyak pusat aktivitas dengan karakter yang berbeda. Ada gunung yang mengalami letusan berulang, ada yang statusnya meningkat, ada yang menghasilkan guguran lava, dan ada pula yang dampaknya menjalar hingga mengganggu penerbangan.

Karena itu, pelajaran terbesar dari rangkaian aktivitas tersebut bukan terletak pada pertanyaan mengapa enam gunung erupsi dalam waktu berdekatan, melainkan seberapa siap Indonesia ketika beberapa pusat aktivitas vulkanik membutuhkan perhatian pada saat yang sama.

Kesiapsiagaan, pemantauan berbasis data, komunikasi risiko yang akurat, serta kepatuhan masyarakat terhadap rekomendasi resmi menjadi kunci untuk menghadapi realitas hidup di negeri yang memiliki begitu banyak gunung api aktif.

Editor : Mahendra Aditya
enam gunung erupsi gunung api erupsi 2026 gunung api Indonesia gunung anak krakatau pvmbg