Ceramah Lama Cak Nun Viral Lagi, Singgung Lima Gunung di Indonesia Meletus Hampir Bersamaan

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 17:42 WIB
Cak Nun
Cak Nun

RADAR KUDUS – Ceramah Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun kembali menjadi perbincangan setelah potongan video lawasnya beredar luas di media sosial.

Dalam rekaman tersebut, Cak Nun menyinggung kemungkinan lima gunung di Indonesia meletus dalam waktu yang hampir bersamaan.

Pernyataan itu kembali muncul di tengah perhatian publik terhadap aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia. Potongan ceramah tersebut kemudian dibagikan ulang oleh sejumlah akun media sosial sehingga memunculkan beragam komentar dan tafsir dari warganet.

Dalam rekaman yang beredar, Cak Nun tidak hanya berbicara mengenai letusan gunung. Ia mengaitkannya dengan posisi Yogyakarta dalam sejarah Indonesia serta kemungkinan terjadinya perubahan besar dalam kehidupan masyarakat.

Cak Nun mengatakan, secara administrasi dan konstitusi, Yogyakarta merupakan bagian dari Indonesia. Namun, menurutnya, Yogyakarta mempunyai posisi khusus jika dilihat dari sejarah dan kebudayaan.

Ia kemudian menyinggung skenario apabila lima gunung mengalami erupsi secara bersamaan atau bergantian.

“Jogja, nek ono lima gunung bledos bareng opo produk gantian,” ujar Cak Nun dalam potongan ceramah tersebut.

Pernyataan itu kemudian berkembang menjadi salah satu bagian yang paling banyak diperbincangkan ketika video tersebut kembali viral.

Bicara Perubahan Besar Pascabencana

Dalam ceramahnya, Cak Nun tidak menggambarkan letusan gunung semata-mata sebagai bencana. Ia menghubungkannya dengan kemungkinan munculnya masa transisi dan perubahan besar setelah sebuah kehancuran.

Menurut Cak Nun, Yogyakarta dan masyarakatnya dipersiapkan untuk mengambil peran dalam membangun masa depan setelah terjadinya perubahan besar.

Ia juga menyampaikan pandangan tentang kemungkinan adanya perubahan di tingkat dunia apabila terjadi letusan gunung dengan skala sangat besar.

Dalam bagian lain ceramah, Cak Nun menyebut adanya gunung terbesar di dunia yang menurutnya belum banyak dikenal masyarakat. Ia menggambarkan skenario ketika gunung tersebut mengalami letusan besar yang berdampak luas, termasuk terhadap wilayah lain.

Namun, potongan video tersebut tidak memberikan dasar ilmiah maupun keterangan geologi yang dapat digunakan untuk memastikan kapan atau di mana peristiwa yang dimaksud akan terjadi.

Karena itu, pernyataan tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari ceramah dan refleksi Cak Nun mengenai perubahan kehidupan, bukan sebagai prediksi ilmiah mengenai aktivitas gunung api.

Kehancuran sebagai Jalan Kelahiran Baru

Bagian lain yang menarik perhatian dalam ceramah tersebut adalah pandangan Cak Nun mengenai konsep “kehancuran” dan “kelahiran kembali”.

Ia menggunakan sejumlah perumpamaan untuk menjelaskan bahwa sesuatu yang mengalami perubahan tidak selamanya harus dipertahankan dalam bentuk awalnya.

Cak Nun mengibaratkan kapas yang harus berubah menjadi benang, kemudian menjadi kain. Begitu pula dengan gabah yang harus melalui proses hingga menjadi beras.

Menurutnya, kehidupan juga membutuhkan proses perubahan. Sesuatu yang lama terkadang harus berakhir agar dapat melahirkan bentuk baru yang dianggap lebih baik.

“Jangan dipertahankan sebagai beras, dia harus dilewati supaya menemukan kelahiran yang baru,” kurang lebih demikian gagasan yang disampaikan Cak Nun dalam ceramah tersebut.

Pesan itu kemudian ia hubungkan dengan kehidupan masyarakat dan lembaga. Kehancuran, dalam konteks yang disampaikannya, tidak selalu dimaknai sebagai akhir, tetapi dapat menjadi bagian dari proses menuju kebangkitan.

Yogyakarta dan Masa Depan Indonesia

Cak Nun juga memberikan perhatian khusus terhadap Yogyakarta. Ia menyebut kota tersebut memiliki pengalaman sejarah dan kebudayaan yang panjang sehingga, menurut pandangannya, Yogyakarta dapat menjadi tempat belajar bagi Indonesia.

Ia bahkan menyampaikan pandangan bahwa Jakarta seharusnya belajar dari Yogyakarta dalam hal tertentu, bukan sebaliknya.

“Jakarta harus belajar kepada Jogja,” ujar Cak Nun dalam rekaman tersebut.

Pernyataan itu tidak hanya berbicara mengenai persoalan geografis, tetapi juga menyangkut pengalaman sejarah, kebudayaan, pendidikan, dan karakter masyarakat Yogyakarta.

Dalam pandangan Cak Nun, orang-orang yang memiliki pengalaman dan pendidikan di Yogyakarta berpotensi mempunyai peran penting dalam perjalanan masa depan Indonesia.

Ramalan atau Refleksi?

Kembali viralnya video tersebut membuat sebagian warganet menganggap pernyataan Cak Nun sebagai sebuah ramalan mengenai bencana di Indonesia.

Padahal, jika melihat keseluruhan isi potongan ceramah, pembicaraan Cak Nun tidak hanya berfokus pada kapan gunung akan meletus. Ia lebih banyak membicarakan perubahan, kehancuran, kebangkitan, serta kemungkinan lahirnya tatanan kehidupan baru.

Frasa mengenai lima gunung yang meletus menjadi bagian yang paling mudah dipotong dan disebarkan karena terdengar seperti prediksi konkret.

Padahal, aktivitas gunung api tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan ceramah atau pernyataan seseorang. Prediksi erupsi membutuhkan pemantauan ilmiah, termasuk pengamatan aktivitas kegempaan, deformasi tubuh gunung, kondisi kawah, gas vulkanik, serta indikator lain yang dilakukan lembaga berwenang.

Dengan demikian, viralnya kembali ceramah Cak Nun sebaiknya dipahami dalam konteks aslinya. Pernyataan tentang lima gunung merupakan bagian dari narasi reflektif mengenai perubahan besar, bukan bukti bahwa lima gunung di Indonesia akan benar-benar meletus bersamaan.

Meski demikian, kemunculan kembali video lama tersebut menunjukkan bagaimana potongan ceramah bertahun-tahun lalu dapat memperoleh perhatian baru ketika dikaitkan dengan situasi aktual.

Bagi sebagian warganet, ucapan Cak Nun dianggap menarik karena berbicara tentang kemungkinan perubahan besar di Indonesia. Sementara bagi yang lain, bagian mengenai gunung menjadi pengingat bahwa Indonesia merupakan negara dengan banyak gunung api aktif sehingga kewaspadaan dan pemahaman terhadap mitigasi bencana tetap penting.

Pada akhirnya, pesan yang lebih luas dari ceramah tersebut bukan semata-mata mengenai letusan gunung. Cak Nun tampak menggunakan gambaran bencana dan kehancuran sebagai metafora untuk menjelaskan bahwa sebuah perubahan besar dapat menjadi awal bagi lahirnya kehidupan dan peradaban baru.

Editor : Mahendra Aditya
lima gunung meletus ceramah Cak Nun gunung berapi Indonesia cak nun yogyakarta