Mengenal KH Imam Jazuli, Sosok Pengasuh Pesantren BIMA Cirebon yang Namanya Muncul di Muktamar NU

Ali Mustofa • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 18:26 WIB
KH Imam Jazuli: Akademisi Al-Azhar yang Puncaki Bursa Ketum PBNU. (instagram.com/imamjazuli76)
KH Imam Jazuli: Akademisi Al-Azhar yang Puncaki Bursa Ketum PBNU. (instagram.com/imamjazuli76)

RADAR KUDUS – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, memasuki fase penting pada Sabtu (29/8/2026) malam.

Perhatian peserta kini mengarah pada agenda pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Pemilihan tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.

Kegiatan muktamar digelar selama lima hari, mulai 27 hingga 31 Agustus 2026, dengan melibatkan 2.232 delegasi.

Sidang pleno yang membahas proses pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU dijadwalkan berlangsung sekitar pukul 19.30 WIB.

Sebelum memasuki tahapan tersebut, para peserta telah mengikuti berbagai persidangan komisi yang membahas program organisasi, rekomendasi, serta sejumlah persoalan keorganisasian.

Mengenal KH Imam Jazuli, Sosok yang Membawa Gagasan Transformasi Pesantren

Salah satu nama yang ikut menjadi perhatian dalam dinamika kepemimpinan NU adalah KH Imam Jazuli.

Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon, Jawa Barat, tersebut dikenal di kalangan santri dan masyarakat dengan sapaan Kiai Imjaz.

KH Imam Jazuli lahir di Cirebon pada 17 November 1976. Ia merupakan putra KH Anas Sirojuddin dan Hj. Sukini Koniah.

Ia berasal dari keluarga pesantren dan menjadi generasi penerus lembaga pendidikan Islam yang sebelumnya dirintis oleh kakeknya, KH Sirojuddin.

Latar belakang pendidikan agama yang kuat kemudian dipadukan dengan pengalaman akademik di luar negeri. Kiai Imjaz tercatat pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, serta MTM Kempek Cirebon.

Pendidikan tingginya ditempuh di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, pada Fakultas Ushuluddin dengan konsentrasi Akidah dan Filsafat.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universiti Kebangsaan Malaysia pada bidang Political Strategic and Defence.

Tidak berhenti di jenjang tersebut, Kiai Imjaz kemudian menyelesaikan studi doktoral di Universiti Malaya dengan bidang International Strategic Studies.

Mengembangkan Pesantren dengan Pendekatan Modern

Nama KH Imam Jazuli semakin dikenal luas seiring kiprahnya dalam mengembangkan Pondok Pesantren Bina Insan Mulia.

Pada 2012, ia melakukan perubahan besar terhadap sistem pendidikan pesantren yang sebelumnya bernama Pesantren Al-Ikhlas.

Pesantren tersebut kemudian dikembangkan menjadi BIMA dengan konsep pendidikan berasrama penuh atau boarding school. Perubahan sistem pendidikan itu membuat BIMA berkembang pesat.

Dari jumlah santri yang pada awalnya hanya puluhan, kini pesantren tersebut disebut telah memiliki sekitar 5.000 santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Pengembangan pesantren juga dilakukan melalui berbagai sektor.

Di antaranya pembentukan BIMA Mart sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi, pengembangan kampus pesantren di sejumlah lokasi, serta penerapan pendidikan yang memadukan penguatan bahasa asing, tahfidz, teknologi dan kepemimpinan.

Mendorong Transformasi Pesantren di Tingkat Nasional

Kiai Imjaz tidak hanya berkonsentrasi pada pengembangan pesantrennya sendiri. Ia juga membawa gagasan transformasi pesantren ke tingkat nasional.

Melalui Imam Jazuli Foundation bersama Pesantren BIMA, sepanjang 2026 ia menggagas program Workshop Transformasi Pesantren Nasional.

Program tersebut diarahkan untuk memberikan pembinaan kepada ribuan pengasuh pesantren dari berbagai provinsi di Indonesia.

Materi yang diangkat mencakup tata kelola pesantren, digitalisasi pendidikan, penguatan ekonomi, pengembangan branding lembaga, peningkatan kualitas pelayanan santri hingga penguatan karakter dan spiritualitas.

Gagasan tersebut berangkat dari pandangan bahwa pesantren harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akar tradisi dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Pesantren Didorong Menjadi Kekuatan Peradaban

Bagi Kiai Imjaz, pesantren tidak cukup hanya bertahan sebagai lembaga pendidikan keagamaan. Pesantren juga dinilai memiliki potensi besar untuk mengambil peran dalam membentuk peradaban.

Karena itu, ia mendorong pesantren agar semakin terbuka terhadap perkembangan teknologi, memperluas jejaring internasional, membangun kemandirian ekonomi, serta menjadi ruang lahirnya inovasi dan pemikiran Islam moderat.

Gagasan tersebut berpijak pada semangat mempertahankan tradisi yang baik sembari mengambil pembaruan yang lebih membawa kemaslahatan.

Memiliki Pengalaman Organisasi

KH Imam Jazuli juga memiliki perjalanan panjang dalam organisasi.

Ia pernah tercatat sebagai pengurus PBNU periode 2010–2015 serta menjabat Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), organisasi yang menaungi pesantren.

Saat menempuh pendidikan di Mesir, ia aktif dalam KMNU Mesir dan pernah dipercaya menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa Al-Azhar.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Kiai Imjaz dalam membangun jejaring, baik di lingkungan pesantren maupun organisasi kemasyarakatan.

Aktif Menulis dan Mengembangkan Gagasan

Selain dikenal sebagai pengasuh pesantren, Kiai Imjaz juga aktif dalam dunia literasi. Ia tercatat menjadi kolumnis di sejumlah media nasional dan banyak menuangkan pemikirannya melalui tulisan.

Beberapa buku yang pernah ditulisnya antara lain Pendidikan Karakter Bangsa & Nasionalisme yang terbit pada 2010, Mengenal Syariat, Ma’rifat & Hakikat pada 2011, serta Al-Quds Masalah Kita Bersama.

Dengan latar belakang pendidikan, pengalaman organisasi, kiprah pesantren dan gagasan transformasi yang dibawanya, KH Imam Jazuli menjadi salah satu figur yang menarik perhatian dalam dinamika Muktamar ke-35 NU.

Terlepas dari bagaimana arah keputusan para muktamirin, munculnya berbagai nama dengan latar belakang berbeda menunjukkan bahwa pembahasan mengenai masa depan NU.

Tidak hanya berkutat pada persoalan struktur organisasi, tetapi juga menyangkut bagaimana jam’iyah tersebut menghadapi perubahan zaman dan tantangan generasi mendatang

Editor : Ali Mustofa
Muktamar ke-35 NU KH Imam Jazuli ketum pbnu pondok pesantren nahdlatul ulama