Profil Gus Rozin, Tokoh Pesantren Asal Pati yang Kini Jadi Salah Satu Nama Penting di Muktamar NU

Ali Mustofa • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 18:11 WIB
SAMPAIKAN CITA-CITA: Gus Rozin saat berada di kediamannya komplek Pondok Pesantren Maslakul Huda Desa Kajen Kecamatan Margoyoso, Pati, belum lama ini.
SAMPAIKAN CITA-CITA: Gus Rozin saat berada di kediamannya komplek Pondok Pesantren Maslakul Huda Desa Kajen Kecamatan Margoyoso, Pati, belum lama ini.

RADAR KUDUS – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, memasuki fase yang menentukan pada Sabtu (29/8/2026) malam.

Peserta muktamar dijadwalkan mengikuti agenda pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Muktamar yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, digelar sejak 27 hingga 31 Agustus 2026.

Forum tersebut diikuti 2.232 delegasi yang mengikuti berbagai rangkaian persidangan organisasi.

Sidang pleno pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU dijadwalkan dimulai sekitar pukul 19.30 WIB.

Sebelum memasuki agenda tersebut, peserta terlebih dahulu mengikuti sidang komisi yang membahas program, rekomendasi, serta berbagai persoalan organisasi.

Di tengah proses menuju pemilihan pimpinan PBNU, sejumlah nama mencuat sebagai kandidat. Salah satunya adalah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, tokoh pesantren asal Kajen, Pati, Jawa Tengah.

Tumbuh di Lingkungan Pesantren Kajen

Gus Rozin dikenal tumbuh dan berkembang dalam lingkungan pesantren Kajen. Ia merupakan anak angkat KH MA Sahal Mahfudh dan Nyai Hj Nafisah Sahal.

KH MA Sahal Mahfudh merupakan salah satu ulama berpengaruh di lingkungan NU. Ia pernah dipercaya sebagai Rais Aam PBNU dan juga memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Lingkungan keluarga serta pendidikan pesantren tersebut menjadi bagian penting yang membentuk perjalanan keilmuan Gus Rozin.

Sejak muda, Gus Rozin telah bersentuhan dengan dunia pendidikan pesantren dan organisasi.

Ia menempuh pendidikan di Perguruan Islam Mathali’ul Falah atau yang populer disebut Mathole’ di Kajen, mulai tingkat dasar hingga menyelesaikan Madrasah Aliyah pada 1995.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Pesantren Fathul Ulum Kwagean, Kediri, hingga 1998.

Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut di Jakarta sebelum akhirnya menempuh pendidikan di Monash University, Australia.

Di universitas tersebut, Gus Rozin mengambil bidang manajemen pendidikan dan berhasil memperoleh gelar Master of Education (M.Ed.) pada 2004.

Pendidikan akademiknya kemudian terus berlanjut hingga jenjang doktoral. Pada 2023, ia menyelesaikan studi S3 di UIN Walisongo Semarang.

Kiprah Panjang di Organisasi NU

Perjalanan Gus Rozin di organisasi NU sudah dimulai sejak usia muda. Ia pernah aktif di Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) pada 1998–2001.

Setelah itu, keterlibatannya berlanjut di Gerakan Pemuda Ansor pada 2000–2004.

Pengalamannya di organisasi kepemudaan NU kemudian membuka jalan bagi kiprah yang lebih luas di lingkungan PBNU.

Gus Rozin pernah dipercaya menjadi Wakil Ketua LP Ma’arif PBNU pada 2010–2013. Selanjutnya, ia memimpin PW RMI-NU Jawa Tengah pada 2013–2015 dan kemudian menjadi Ketua RMI PBNU selama 2015–2021.

Pada periode berikutnya, Gus Rozin dipercaya menduduki posisi Katib Syuriah PBNU pada 2022–2024.

Pengalamannya di Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) juga membuatnya cukup dekat dengan berbagai persoalan yang dihadapi dunia pesantren.

Sejumlah program penguatan pesantren lahir dan berkembang ketika ia terlibat di organisasi tersebut.

Mendorong Penguatan Pesantren

Saat berada di jajaran RMI NU, Gus Rozin terlibat dalam sejumlah gerakan yang berorientasi pada pengembangan pesantren.

Ia tercatat ikut mengadvokasi lahirnya Undang-Undang Pesantren serta Hari Santri Nasional. Selain itu, Gus Rozin juga terlibat dalam gerakan nasional “Ayo Mondok” dan Liga Santri Nasional.

Program lainnya mencakup penguatan kemandirian pesantren, literasi, beasiswa santri, hingga gerakan Pesantrenku Bersih Pesantrenku Keren.

Berbagai aktivitas tersebut membuat Gus Rozin dikenal sebagai salah satu tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan pesantren dan pendidikan keislaman.

Dipercaya Menduduki Sejumlah Posisi Publik

Pengalaman Gus Rozin tidak hanya berada di lingkungan pesantren dan NU. Ia juga pernah menjalankan sejumlah tugas di lembaga pemerintahan maupun institusi publik.

Pada 2017–2019, Gus Rozin dipercaya menjadi Staf Khusus Presiden RI Bidang Keagamaan Dalam Negeri.

Pada periode yang hampir bersamaan, ia juga tercatat sebagai anggota Dewan Ketahanan Pangan Nasional pada 2017–2020.

Ia kemudian terlibat sebagai anggota Tim Komunikasi Sosial Kementerian Sekretariat Negara pada 2019.

Di luar itu, Gus Rozin pernah menjadi anggota Panitia Seleksi Komisioner Ombudsman Republik Indonesia untuk periode 2021–2026.

Ia juga aktif di Majelis Ulama Indonesia sebagai Wakil Sekretaris Jenderal sejak 2020 serta tercatat sebagai Dewan Pengarah Badan Arbitrase Syariah Nasional sejak 2021.

Memimpin PWNU Jawa Tengah

Kiprah Gus Rozin di NU terus berlanjut hingga tingkat wilayah. Dalam Konferwil XVI NU Jawa Tengah yang berlangsung pada 5–6 Maret 2024, ia terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah masa khidmat 2024–2029.

Dalam posisi tersebut, Gus Rozin mendampingi KH Ubaidullah Shodaqoh yang dipercaya sebagai Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah.

Selain menjadi Ketua PWNU Jawa Tengah, Gus Rozin juga dikenal sebagai Pengasuh Pesantren Maslakul Huda Kajen dan Rektor Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati.

Ia juga dipercaya memimpin Majelis Masyayikh yang memiliki peran dalam penjaminan mutu pendidikan pesantren.

Nama Gus Rozin dalam Bursa Ketum PBNU

Dengan latar belakang pesantren, pengalaman panjang di NU, rekam jejak dalam pemerintahan serta kiprahnya di bidang pendidikan, Gus Rozin menjadi salah satu nama yang ikut diperhitungkan dalam bursa calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU.

Namanya menambah dinamika menjelang pemilihan pimpinan organisasi.

Namun, siapa yang akhirnya mendapat kepercayaan untuk memimpin PBNU tetap akan ditentukan melalui mekanisme yang diputuskan dalam Muktamar ke-35 NU.

Muktamar di Jombang pun menjadi momentum penting bagi NU untuk menentukan arah kepemimpinan sekaligus perjalanan organisasi pada masa khidmah berikutnya.

Editor : Ali Mustofa
Muktamar ke-35 NU H Ubaidullah Shodaqoh ketum pbnu Gus rozin nahdlatul ulama