Mengenal Gus Salam, Pengasuh Pesantren Denanyar Jombang yang Masuk Bursa Ketum PBNU

Ali Mustofa • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 17:56 WIB
Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)
Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)

RADAR KUDUS – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, memasuki fase krusial pada Sabtu (29/8/2026) malam.

Salah satu agenda yang paling dinantikan adalah pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Rangkaian muktamar yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, tersebut digelar sejak 27 hingga 31 Agustus 2026.

Sebanyak 2.232 delegasi mengikuti berbagai persidangan dalam forum permusyawaratan tertinggi organisasi tersebut.

Sidang pleno untuk menentukan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU dijadwalkan berlangsung sekitar pukul 19.30 WIB.

Sebelum memasuki agenda pemilihan, para peserta terlebih dahulu mengikuti sejumlah sidang komisi yang membahas program kerja, rekomendasi, serta berbagai persoalan organisasi.

Di tengah tahapan penting tersebut, sejumlah nama mulai mendapat perhatian dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.

Salah satunya adalah KH Abdussalam Shohib atau yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Salam.

Gus Salam dan Pesantren Denanyar

Gus Salam merupakan pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang.

Pesantren yang berdiri sejak 1917 itu dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki sejarah panjang di Jawa Timur.

Mamba’ul Ma’arif Denanyar mengembangkan pola pendidikan yang memadukan tradisi pesantren dengan pendidikan formal.

Pembelajaran kitab kuning tetap menjadi bagian penting, sementara pendidikan modern juga dikembangkan untuk membekali para santri agar mampu menghadapi perubahan zaman.

Nilai-nilai akhlak, keislaman dan kebangsaan menjadi bagian dari pendidikan yang ditanamkan kepada para santri.

Dengan pendekatan tersebut, pesantren diarahkan untuk tidak hanya melahirkan generasi yang memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berperan di tengah masyarakat.

Gus Salam sendiri memiliki latar belakang keluarga yang kuat dalam tradisi NU.

Ia merupakan cucu KH Bisri Syansuri, salah satu tokoh penting dalam sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama bersama KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah.

Lokasi Pesantren Mamba’ul Ma’arif berada di Desa Denanyar, Jombang, tidak jauh dari pusat kota.

Keberadaan pesantren tersebut selama lebih dari satu abad turut menjadikannya salah satu basis penting pendidikan keislaman dan kaderisasi NU.

Kiprah Gus Salam di NU

Keterlibatan Gus Salam dalam organisasi NU telah berlangsung cukup panjang.

Perjalanannya di lingkungan NU dimulai pada 2002 ketika ia dipercaya menjadi pengurus Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Kota Kediri.

Beberapa tahun kemudian, pada 2009, Gus Salam bergabung dalam LBMNU Jombang.

Kiprahnya terus berkembang hingga pada 2012 ia dipercaya menjadi bagian dari Pengurus Syuriyah Cabang NU Kabupaten Jombang.

Pengalamannya kemudian membawanya ke tingkat yang lebih tinggi. Pada 2015, Gus Salam mendapat kepercayaan sebagai Katib PBNU pada periode kedua kepemimpinan KH Said Aqil Siroj.

Tiga tahun berselang, ia menduduki posisi Wakil Ketua PWNU Jawa Timur.

Sementara dalam struktur kepengurusan PBNU masa khidmat 2022–2027, Gus Salam sempat dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen).

Namun, perjalanan tersebut tidak berlangsung hingga akhir periode. Gus Salam kemudian memilih meninggalkan posisi Wasekjen PBNU karena sejumlah pertimbangan.

Pernah Terlibat dalam Politik

Selain aktif di organisasi keagamaan dan pesantren, Gus Salam juga pernah mengambil peran dalam dinamika politik nasional.

Namanya semakin dikenal ketika dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengomandoi pemenangan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Keterlibatan tersebut membuat posisi Gus Salam cukup diperhitungkan, terutama karena ia memiliki kedekatan dengan basis masyarakat Nahdliyin serta jaringan pesantren yang luas.

Bagi peta politik dan keagamaan di Jawa Timur, keberadaan Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar juga memiliki nilai strategis. Pesantren tersebut bukan hanya menjadi tempat pendidikan agama, tetapi telah lama menjadi salah satu bagian dari perjalanan sejarah NU.

Nama Gus Salam di Bursa Ketum PBNU

Dengan pengalaman panjang di pesantren, organisasi NU dan berbagai aktivitas kemasyarakatan, Gus Salam kini menjadi salah satu nama yang muncul dalam bursa calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU.

Kemunculan namanya menambah dinamika menjelang proses pemilihan pimpinan tertinggi PBNU.

Namun, keputusan akhir mengenai siapa yang akan memimpin organisasi tersebut tetap bergantung pada mekanisme dan keputusan peserta Muktamar ke-35 NU.

Persaingan menuju kursi Ketua Umum PBNU pun menjadi salah satu agenda yang paling banyak mendapat perhatian.

Muktamar di Jombang tidak hanya menjadi forum evaluasi kepengurusan, tetapi juga menjadi momentum untuk menentukan arah perjalanan NU pada periode berikutnya.

Editor : Ali Mustofa
Muktamar ke-35 NU KH Abdussalam Shohib gus salam ketum pbnu nahdlatul ulama