Mengenal KH Zulfa Mustofa, Ulama yang Masuk Bursa Calon Ketum PBNU

Ali Mustofa • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 17:39 WIB
KH Zulfa Mustofa (Dok. PBNU)
KH Zulfa Mustofa (Dok. PBNU)

RADAR KUDUS – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Jombang, Jawa Timur, memasuki salah satu agenda paling menentukan pada Sabtu (29/8/2026) malam.

Para peserta dijadwalkan mengikuti pemilihan Rais Aam serta Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Rangkaian muktamar berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, sejak 27 hingga 31 Agustus 2026. Forum tersebut diikuti 2.232 delegasi dari berbagai daerah.

Sidang pleno yang membahas pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU dijadwalkan berlangsung sekitar pukul 19.30 WIB.

Sebelum memasuki agenda pemilihan, peserta terlebih dahulu mengikuti sejumlah sidang komisi yang membahas program, rekomendasi dan berbagai persoalan organisasi.

Di tengah perhatian terhadap bursa calon Ketua Umum PBNU, nama KH Zulfa Mustofa turut menjadi salah satu tokoh yang diperhitungkan.

Latar Belakang KH Zulfa Mustofa

KH Zulfa Mustofa lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977. Ia merupakan putra KH Muqarrabin dan Nyai Hj. Marhumah Latifah.

Dari garis keluarga sang ibu, KH Zulfa Mustofa memiliki hubungan kekerabatan dengan KH Ma'ruf Amin.

Ibunya merupakan putri Nyai Hj. Maimunah yang juga dikenal sebagai ibunda KH Ma'ruf Amin.

Latar belakang keluarga tersebut membuat KH Zulfa Mustofa tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan tradisi keilmuan Islam dan pesantren.

Menempuh Pendidikan di Jakarta hingga Pati

Pendidikan KH Zulfa Mustofa dimulai di SD Al-Jihad, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Ia bersekolah di sana hingga kelas tiga sebelum kemudian melanjutkan pendidikan dasar di Pekalongan sampai menyelesaikannya.

Setelah tamat pendidikan dasar, ia meneruskan jenjang tsanawiyah di Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Simbangkulon, Pekalongan.

Ketika memasuki kelas dua tsanawiyah, perjalanan pendidikannya berlanjut ke Kajen, Margoyoso, Pati.

Di kawasan yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan pesantren tersebut, ia memperdalam ilmu agama sekaligus menimba pengalaman dari para kiai.

Dua sosok guru yang disebut sangat berpengaruh dalam perjalanan keilmuannya adalah KH A Sahal Mahfudh dan KH Rifa'i Nasuha.

Setelah menyelesaikan pendidikan madrasah aliyah pada 1996, KH Zulfa Mustofa kembali ke Jakarta.

Gagal Melanjutkan Kuliah ke Timur Tengah

Setelah menyelesaikan pendidikan madrasah aliyah, KH Zulfa Mustofa sebenarnya memiliki keinginan untuk melanjutkan studi ke Timur Tengah.

Ia bercita-cita menimba ilmu di Al-Azhar, Mesir, atau melanjutkan pendidikan ke Makkah.

Namun, rencana tersebut tidak dapat diwujudkan setelah sang ayah meninggal dunia pada malam Idul Fitri.

Situasi tersebut kemudian mengubah perjalanan hidupnya.

Dalam usia yang masih sangat muda, sekitar 19 tahun, KH Zulfa Mustofa mengambil tanggung jawab untuk meneruskan aktivitas keagamaan yang sebelumnya dijalankan oleh ayahnya.

Ia mulai mengajar di sejumlah majelis taklim yang sebelumnya diasuh sang ayah. Setidaknya terdapat sekitar lima majelis taklim yang kemudian menjadi bagian dari aktivitas dakwahnya.

Seiring perjalanan waktu, KH Zulfa Mustofa juga mendirikan majelis taklim sendiri yang diberi nama Darul Musthofa.

Kiprah di Organisasi dan Lembaga Keagamaan

Perjalanan KH Zulfa Mustofa tidak hanya berlangsung di lingkungan majelis taklim dan pesantren. Ia juga aktif dalam sejumlah organisasi dan lembaga keagamaan.

Dalam struktur PBNU, KH Zulfa Mustofa pernah dipercaya menduduki sejumlah posisi penting.

Ia tercatat sebagai Wakil Ketua Umum PBNU dan kemudian menjalankan berbagai tanggung jawab organisasi.

Selain itu, ia juga pernah menjadi Pj Ketua Umum PBNU ketika terjadi dinamika dalam kepengurusan organisasi.

Di luar NU, kiprahnya juga terlihat dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia pernah menjabat Sekretaris Jenderal MUI DKI Jakarta pada periode 2013–2018 dan kemudian dipercaya sebagai Wakil Majelis Pertimbangan MUI Pusat.

KH Zulfa Mustofa juga dipercaya sebagai Ketua Komite Fatwa Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama.

Masuk Bursa Calon Ketua Umum PBNU

Dengan pengalaman panjang di bidang dakwah, pesantren serta organisasi keagamaan, nama KH Zulfa Mustofa kemudian masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU.

Posisinya sebagai salah satu pimpinan PBNU membuat sosoknya turut menjadi perhatian menjelang proses pemilihan.

Muktamar ke-35 NU di Jombang menjadi momentum penting bagi organisasi untuk menentukan kepemimpinan PBNU periode berikutnya.

Selain KH Zulfa Mustofa, sejumlah tokoh lainnya juga disebut masuk dalam bursa calon.

Pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU menjadi agenda yang paling dinantikan karena hasilnya akan menentukan arah perjalanan organisasi NU untuk masa khidmat berikutnya.

Editor : Ali Mustofa
Muktamar ke-35 NU KH Zulfa Mustofa ketum pbnu nahdlatul ulama