RADAR KUDUS – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, memasuki salah satu agenda yang paling dinantikan pada Sabtu (29/8/2026) malam.
Para peserta dijadwalkan mengikuti proses pemilihan Rais Aam serta Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Agenda tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian Muktamar ke-35 NU yang dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.
Muktamar berlangsung selama lima hari, yakni 27 hingga 31 Agustus 2026, dengan melibatkan 2.232 delegasi.
Sidang pleno yang membahas pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU dijadwalkan berlangsung mulai sekitar pukul 19.30 WIB.
Sebelum memasuki tahapan tersebut, peserta terlebih dahulu mengikuti sejumlah sidang komisi yang membahas berbagai persoalan, mulai dari program organisasi, rekomendasi hingga bidang keorganisasian.
Profil Yahya Cholil Staquf
Salah satu nama yang kembali menjadi perhatian dalam pemilihan Ketua Umum PBNU adalah Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.
Tokoh kelahiran 16 Februari 1966 tersebut merupakan Ketua Umum PBNU periode 2021–2026.
Gus Yahya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-34 NU yang digelar di Universitas Lampung, Bandar Lampung, pada 24 Desember 2021.
Dalam pemilihan tersebut, Gus Yahya meraih 337 suara, mengungguli Ketua Umum PBNU petahana saat itu, Said Aqil Siroj, yang memperoleh 210 suara.
Sebelum memimpin PBNU, Gus Yahya memiliki pengalaman dalam pemerintahan dan organisasi. Ia pernah menjadi juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada periode 1999–2001.
Kemudian pada 31 Mei 2018, Gus Yahya ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), menggantikan Hasyim Muzadi.
Di luar aktivitas organisasi dan pemerintahan, Gus Yahya juga pernah mendirikan Komunitas Terong Gosong pada 13 Mei 2009 dan dipercaya sebagai ketua dewan pengawas.
Riwayat Pendidikan Gus Yahya
Perjalanan pendidikan Gus Yahya tidak terlepas dari lingkungan pesantren. Ia pernah menimba ilmu di pesantren yang diasuh Ali Maksum di Madrasah Al Munawwir, Sewon, Bantul.
Setelah itu, Gus Yahya menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Yogyakarta. Pada jenjang perguruan tinggi, ia tercatat mengambil Jurusan Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (UGM).
Ketika menjadi mahasiswa, ia juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan.
Gus Yahya pernah dipercaya menjadi Ketua Umum Komisariat Fisipol UGM Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta periode 1986–1987.
Perjalanan Gus Yahya di NU
Karier Gus Yahya di lingkungan NU juga cukup panjang. Salah satu jabatan penting yang pernah diembannya adalah Katib 'Aam PBNU untuk masa khidmat 2015–2020.
Perjalanan tersebut kemudian berlanjut ketika ia mengikuti Muktamar ke-34 NU di Bandar Lampung. Dalam forum tersebut, Gus Yahya terpilih menjadi Ketua Umum PBNU untuk masa khidmat 2021–2026, menggantikan Said Aqil Siroj yang sebelumnya menjabat selama dua periode.
Kini, namanya kembali muncul dalam bursa pemilihan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU di Jombang.
Pernah Berkiprah di Pemerintahan
Selain aktif di NU, Gus Yahya juga pernah menjalankan peran di lingkungan pemerintahan. Salah satu pengalaman yang cukup dikenal adalah ketika dirinya menjadi juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid.
Beberapa tahun kemudian, ia dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Pelantikan tersebut dilakukan Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, pada 2018.
Pengalaman tersebut membuat Gus Yahya memiliki perjalanan yang cukup panjang, baik dalam organisasi keagamaan maupun dalam ruang sosial dan pemerintahan.
Kiprah di Tingkat Internasional
Aktivitas Gus Yahya juga tidak hanya berlangsung di dalam negeri. Ia tercatat terlibat dalam sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan isu keagamaan dan perdamaian di tingkat internasional.
Pada 2014, Gus Yahya menjadi salah satu inisiator pendirian Bait ar-Rahmah li ad-Da’wa al-Islamiyah Rahmatan li al-'Alamin di California, Amerika Serikat. Lembaga tersebut berfokus pada kajian Islam, perdamaian, serta gagasan Islam sebagai rahmat bagi alam.
Ia juga pernah dipercaya sebagai tenaga ahli dalam perumusan kebijakan pada Dewan Eksekutif Agama-Agama Amerika Serikat-Indonesia.
Forum tersebut dibentuk berdasarkan kesepakatan bilateral antara Amerika Serikat dan Indonesia pada 2015 untuk memperkuat kemitraan strategis kedua negara dalam bidang keagamaan.
Gus Yahya juga pernah mendapat kesempatan menjadi utusan GP Ansor dan PKB untuk membangun jaringan dengan sejumlah organisasi politik internasional, termasuk Centrist Democrat International (CD) dan European People’s Party (EPP).
Aktivitas internasional lainnya terlihat ketika American Jewish Committee (AJC) mengundangnya untuk berbicara mengenai persoalan konflik keagamaan.
Pada Juni 2018, Gus Yahya menjadi pembicara dalam forum AJC di Israel. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan gagasan mengenai pentingnya konsep rahmat sebagai salah satu pendekatan dalam menghadapi konflik dunia yang berkaitan dengan agama.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya 15 Juli 2021, Gus Yahya tampil dalam International Religious Freedom (IRF) Summit di Washington, D.C., Amerika Serikat. Ia menyampaikan pidato utama bertajuk The Rising Tide of Religious Nationalism.
Dalam forum tersebut, Gus Yahya membahas fenomena meningkatnya nasionalisme berbasis agama.
Ia menjelaskan bahwa fenomena tersebut dapat muncul ketika kelompok agama mayoritas merasa terancam secara budaya.
Menurut pandangannya, persaingan nilai yang terjadi di tengah perubahan dunia berpotensi memunculkan ketegangan hingga konflik.
Karena itu, ia mendorong adanya upaya untuk mengelola perbedaan dan persaingan tersebut sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Kunjungan ke Israel Pernah Menuai Sorotan
Perjalanan Gus Yahya di tingkat internasional juga pernah menimbulkan kontroversi.
Pada 10 Juni 2018, ia mengunjungi Israel sebagai tamu American Jewish Committee dalam sebuah konferensi di Yerusalem.
Kunjungan tersebut menuai perhatian di Indonesia karena hubungan diplomatik Indonesia dan Israel tidak terjalin secara resmi, sementara dukungan terhadap Palestina cukup kuat di tengah masyarakat Indonesia.
Kunjungan itu bahkan mendapat sorotan dari sejumlah tokoh nasional. Salah satunya Bambang Soesatyo yang menilai perjalanan tersebut berpotensi menimbulkan kegaduhan.
Terlepas dari berbagai dinamika tersebut, perjalanan Gus Yahya menunjukkan pengalaman yang cukup panjang di bidang organisasi keagamaan, pemerintahan, pendidikan, hingga forum internasional.
Kini, di tengah berlangsungnya Muktamar ke-35 NU di Jombang, nama Gus Yahya kembali berada di pusat perhatian.
Ia menjadi salah satu kandidat yang bersiap mengikuti kontestasi untuk menentukan siapa yang akan memimpin PBNU pada masa khidmat berikutnya.
Editor : Ali Mustofa