JAKARTA — Pemerintah menjadikan peluncuran Motor Listrik Nasional (Molinas) sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap kendaraan berbahan bakar fosil sekaligus memperkuat industri otomotif berbasis teknologi dalam negeri.
Presiden Prabowo Subianto meresmikan Molinas beserta ekosistem pendukungnya di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group (ALVA), Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026). Peluncuran ini menandai upaya pemerintah mempertemukan kekuatan negara, BUMN, swasta, dan industri nasional dalam membangun rantai kendaraan listrik dari dalam negeri.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menilai pengembangan Molinas memiliki arti lebih besar daripada sekadar menghadirkan produk kendaraan baru. Menurutnya, program tersebut diarahkan untuk memperkuat kemandirian transportasi nasional dengan memanfaatkan sumber daya dan kemampuan industri Indonesia.
Baca Juga: Prabowo Buka Jalan Motor Listrik Tanpa DP, Tukar Tambah Motor Bensin Disiapkan
“Molinas ini adalah kolaborasi, sinergi antara pemerintah, BUMN, dan juga perusahaan nasional dalam rangka meningkatkan peran dari kemandirian kita,” ujar Rosan dalam peluncuran Molinas di Cikarang.
Salah satu kekuatan yang ingin dimanfaatkan adalah posisi Indonesia sebagai negara dengan cadangan nikel besar. Rosan menyebut sekitar 46 persen cadangan nikel dunia berada di Indonesia. Komoditas tersebut dinilai dapat menjadi bagian penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik nasional.
Menurut Rosan, Indonesia tidak hanya memiliki bahan baku, tetapi juga terus membangun kemampuan teknologi dan industri yang diperlukan untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tambah. Dengan hilirisasi, nikel tidak berhenti sebagai komoditas mentah, melainkan diarahkan masuk ke rantai produksi baterai dan kendaraan listrik.
“Sehingga karya anak bangsa ini bisa berkembang. Molinas ini bisa terjangkau, berkualitas, apalagi kami bisa menjalankan hilirisasi dari nikel ini menjadi baterai,” kata Rosan.
Baca Juga: Prabowo Luncurkan Motor Listrik Nasional, 20 Ribu Unit Sudah Diproduksi di Cikarang
Langkah tersebut menjadi semakin penting karena pasar sepeda motor Indonesia sangat besar. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sepeda motor merupakan jenis kendaraan bermotor dengan jumlah terbesar dalam statistik kendaraan nasional.
Besarnya populasi sepeda motor membuat elektrifikasi kendaraan roda dua memiliki potensi dampak yang jauh lebih luas dibandingkan jika hanya mengandalkan mobil listrik. Peralihan sebagian saja dari kendaraan bermesin pembakaran internal ke motor listrik dapat menekan kebutuhan BBM sekaligus membuka pasar baru bagi industri baterai, komponen, pembiayaan, dan layanan kendaraan listrik.
Pemerintah juga sedang menghadapi persoalan ketergantungan terhadap BBM. Di tengah penataan subsidi energi, termasuk rencana pembatasan konsumsi Pertalite bagi kelompok masyarakat tertentu, kendaraan listrik mulai diposisikan sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak.
Presiden Prabowo sebelumnya menyatakan penggunaan motor listrik berpotensi menghemat pengeluaran mobilitas harian secara signifikan. Dalam peluncuran Molinas, ia menyebut penghematan dibandingkan motor bensin dapat mencapai sedikitnya 50 persen dan berpotensi hingga 70 persen.
Dari sisi produksi, program ini juga tidak dimulai dari nol. PT Ilectra Motor Group (ALVA) disebut telah memproduksi 20.000 unit motor listrik sebelum peluncuran Molinas. Prabowo mengapresiasi keberanian sektor swasta yang berinvestasi di industri tersebut dan menilai pengembangan kendaraan listrik memiliki risiko sekaligus peluang besar bagi Indonesia.
Presiden bahkan memberikan target bertingkat kepada pelaku industri. Ia menyatakan akan kembali datang ketika produksi mencapai 200.000 unit dan menargetkan kunjungan berikutnya apabila kapasitas produksi telah menembus 2 juta unit.
Baca Juga: Bukan Motor, Ini Kelompok yang Disiapkan Pemerintah untuk Dibatasi Beli Pertalite
Bagi Prabowo, keberanian membangun industri motor listrik nasional merupakan bagian dari konsep kolaborasi yang ia sebut sebagai Indonesia Incorporated. Pemerintah tidak ingin industri strategis hanya bertumpu pada satu kelompok usaha, tetapi mendorong perusahaan besar, pelaku usaha menengah, BUMN, serta pemerintah bergerak dalam arah yang sama.
Tantangannya kini bukan sekadar memproduksi motor listrik sebanyak-banyaknya. Ekosistem harus mampu menjawab persoalan harga, kualitas, pembiayaan, ketersediaan suku cadang, layanan purnajual, infrastruktur pengisian, hingga kepastian pasokan baterai.
Pemerintah sebelumnya juga menyatakan tengah menyiapkan skema pembiayaan motor listrik yang lebih terjangkau, termasuk kemungkinan penurunan bunga kredit dan pembelian tanpa uang muka. Skema tukar tambah motor bensin juga sedang didorong agar masyarakat memiliki jalur yang lebih mudah untuk beralih ke kendaraan listrik.
Dengan demikian, Molinas diposisikan bukan hanya sebagai proyek otomotif, tetapi sebagai bagian dari strategi yang menghubungkan hilirisasi mineral, industri baterai, manufaktur kendaraan, ketahanan energi, dan pengurangan konsumsi BBM.
Jika rantai industri tersebut berhasil dibangun dengan tingkat komponen dalam negeri yang tinggi, Indonesia berpeluang tidak hanya menjadi pasar motor listrik, tetapi juga menjadi basis produksi kendaraan listrik regional.
Namun, keberhasilan tersebut akan ditentukan oleh kemampuan industri menjaga harga tetap kompetitif sekaligus memastikan produk nasional mampu bersaing dari sisi teknologi dan kualitas.
Peluncuran Molinas pada akhirnya menjadi ujian awal ambisi Indonesia untuk berdikari di sektor transportasi. Dengan kekayaan nikel, basis konsumen sepeda motor yang besar, serta dukungan pemerintah terhadap elektrifikasi, peluangnya terbuka lebar.
Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa motor listrik nasional benar-benar mampu menjadi produk massal, bukan sekadar simbol kemandirian industri.
Editor : Mahendra Aditya