Kemarau Lebih Kering dan Panjang, BMKG: El Nino Diprediksi Bertahan hingga Kuartal I 2027

Anita Fitriani • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 13:54 WIB
ilustrasi kekeringan (Foto: IStock)
ilustrasi kekeringan (Foto: IStock)

 

 

 

RADAR KUDUS — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Nino akan berlangsung hingga awal kuartal pertama 2027, dengan kemungkinan mencapai puncak intensitas yang tergolong kuat.

Kondisi ini diprediksi akan menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang dan kering di banyak daerah di Indonesia, terutama antara Agustus hingga September 2026. 

BMKG juga mengingatkan mengenai kemungkinan peningkatan dampak jika fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif aktif pada periode September hingga Desember 2026.

BMKG melaporkan hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen dari wilayah daratan Indonesia sudah memasuki musim kemarau, mencakup hampir seluruh Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

Baca Juga: 82% SPBU Pertamina Sudah Sediakan B50, Target 100% pada September 2026

Puncak musim kemarau 2026 diperkirakan akan terjadi terutama pada bulan Agustus dan September, dengan 437 ZOM mengalami durasi kemarau yang lebih lama dibandingkan dengan kondisi normal.

Intensitas El Nino telah melebihi batas untuk kategori kuat, yang terlihat dari indeks Niño 3. 4 yang mencapai 1,56 pada akhir Juni 2026.

Namun, BMKG menekankan bahwa dampak El Nino di Indonesia akan lebih terasa saat bertepatan dengan musim kemarau, setelah musim hujan tiba, pengaruhnya terhadap curah hujan akan menurun meskipun fenomena El Nino masih berlanjut hingga awal tahun 2027.

Baca Juga: Presiden Prabowo Hadiri Peresmian Revitalisasi Stasiun Tawang Semarang, Soroti Pelestarian Cagar Budaya

Bahaya kekeringan ekstrim ini memiliki dampak langsung yang tinggi terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BMKG mencatat telah terdeteksi lebih dari 4. 900 hingga 5. 000 titik panas sampai akhir Juli 2026, dengan penyebaran terutama di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau.

Oleh karena itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan menjelang puncak kemarau di bulan Agustus hingga September, khususnya di daerah-daerah yang rentan seperti Sumatra dan Kalimantan.

Sebagai langkah pengurangan risiko, BMKG memperkuat dan memperluas Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di berbagai kawasan prioritas, seperti Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, serta menyiapkan posko pendukung di Jawa Barat.

Operasi ini dilakukan secara terkoordinasi bersama BNPB, TNI-Polri, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Lingkungan Hidup untuk mengoptimalkan pemadaman kebakaran darat dan penyemaian awan agar dapat mencegah karhutla serta mengisi waduk strategis.

Baca Juga: Zulhas: 40 Ribu Kopdes Merah Putih Akan Beroperasi pada Oktober 2026

BMKG juga memberikan saran adaptasi lintas sektor, seperti penyesuaian waktu tanam dan pemilihan varietas yang tahan terhadap kekeringan dalam sektor pertanian, pengelolaan pasokan air baku serta langkah antisipasi untuk produksi PLTA dalam sektor sumber daya air dan energi, serta kesiapan layanan kesehatan dalam menghadapi risiko infeksi saluran pernapasan akut dan penyakit yang terkait dengan cuaca panas.

Masyarakat diimbau untuk secara aktif mengikuti informasi iklim terbaru melalui saluran resmi BMKG.

Inti pesan dari BMKG adalah: El Nino diprediksi akan bertahan hingga awal kuartal pertama 2027, tetapi dampak terbesarnya bagi Indonesia akan terasa pada musim kemarau 2026.

Baca Juga: Setelah Harga Pertamax Naik, Konsumen Pertalite Bertambah

Puncak kemarau yang terjadi pada Agustus hingga September dan kemungkinan IOD positif pada September hingga Desember 2026, persiapan terhadap kekeringan, kebakaran hutan, dan kualitas udara menjadi hal yang sangat penting.

Kerjasama antara pemerintah pusat, daerah, sektor swasta, dan masyarakat diharapkan dapat meminimalkan dampak dari fenomena hidrometeorologi ini.

Editor : Anita Fitriani
Fenomena El Nino el nino musim kemarau bmkg