RADAR KUDUS - Pemerintah resmi menunjuk M. Iskandar Kunaefi sebagai Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero), menggantikan Daud Joseph yang mengundurkan diri pada 30 Juni 2026.
Penunjukan tersebut menjadi sorotan karena Iskandar dikenal memiliki rekam jejak panjang di dunia korporasi, mulai dari industri makanan, pengelolaan aset, hingga sepak bola profesional bersama Persib Bandung.
Keputusan pengangkatan Iskandar tertuang dalam Keputusan Para Pemegang Saham PT Pos Indonesia Nomor 343/2026 tertanggal 15 Juli 2026.
Baca Juga: Posisi Duduk Prabowo-Gibran Berubah di Sidang Kabinet, Ternyata Ini Penyebabnya
Bersamaan dengan perubahan pucuk pimpinan, pemegang saham juga melakukan penyempurnaan struktur organisasi dengan memisahkan jabatan Direktur Keuangan dan Direktur Manajemen Risiko menjadi dua posisi berbeda.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat tata kelola perusahaan sekaligus mendukung agenda transformasi yang tengah dijalankan Pos Indonesia.
Penunjukan Iskandar datang pada momentum penting. PT Pos Indonesia saat ini sedang menjalani proses restrukturisasi besar untuk meningkatkan efisiensi bisnis, memperkuat layanan logistik nasional, serta beradaptasi dengan perubahan industri yang dipengaruhi pesatnya pertumbuhan perdagangan elektronik (e-commerce) dan digitalisasi layanan.
Iskandar bukan sosok baru di dunia manajemen. Ia memiliki pengalaman lebih dari tiga dekade dalam memimpin perusahaan nasional maupun multinasional dengan fokus pada bidang logistik, investasi, manajemen aset, dan transformasi bisnis.
Di balik karier profesionalnya, Iskandar juga berasal dari keluarga yang dikenal luas di Jawa Barat. Ia merupakan putra almarhum Mayor Jenderal TNI (Purn.) Aang Kunaefi, mantan Gubernur Jawa Barat periode 1975–1985 yang pernah berperan dalam pembangunan daerah pada masa Orde Baru.
Meski memiliki latar belakang keluarga militer, Iskandar memilih membangun karier di sektor bisnis dan korporasi. Pendidikan yang ditempuhnya juga memperlihatkan fokus pada bidang manajemen dan logistik.
Ia menyelesaikan pendidikan menengah di Eastbourne College of Arts & Technology, Inggris, pada 1989. Setelah itu, Iskandar melanjutkan studi Business Administration and Logistics Management di University of Maryland, College Park, Amerika Serikat, dan lulus pada 1994.
Komitmennya dalam memperdalam kemampuan kepemimpinan berlanjut melalui program eksekutif di Asian Institute of Management, Filipina, pada periode 2005–2006, salah satu institusi pendidikan bisnis terkemuka di kawasan Asia.
Karier profesional Iskandar dimulai di sektor industri makanan. Selama sekitar 16 tahun, tepatnya sejak 1996 hingga 2012, ia menjabat sebagai President Director PT Nestlé Indofood Citarasa Indonesia, perusahaan patungan antara Nestlé dan Grup Salim yang bergerak di industri makanan dan bumbu.
Selama memimpin perusahaan tersebut, Iskandar dikenal memiliki pengalaman dalam pengembangan rantai pasok (supply chain), distribusi, efisiensi operasional, serta pengelolaan bisnis skala nasional.
Usai meninggalkan Nestlé Indofood, ia dipercaya bergabung dengan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) sebagai Kepala Divisi Business Advisory dan Asset Management. Di perusahaan BUMN tersebut, Iskandar terlibat dalam pengelolaan aset negara, restrukturisasi perusahaan, hingga penyusunan strategi investasi.
Dalam periode yang sama, ia juga aktif sebagai anggota Sistem Logistik Nasional (Sislognas), forum yang berperan dalam penyusunan kebijakan penguatan sistem logistik Indonesia agar lebih efisien dan mampu meningkatkan daya saing nasional.
Baca Juga: Ramai Disorot, Posisi Duduk Gibran di Sidang Kabinet Dijelaskan Istana: Bukan Soal Politik
Pengalamannya kemudian berlanjut di PT Jakarta Propertindo (Jakpro) sebagai anggota Komite Investasi dan Remunerasi. Di BUMD milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu, Iskandar ikut terlibat dalam proses evaluasi investasi dan penguatan tata kelola perusahaan.
Nama Iskandar semakin dikenal publik ketika bergabung dengan PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) sebagai Direktur Operasional. Perusahaan tersebut merupakan entitas yang mengelola klub sepak bola Persib Bandung.
Di Persib, Iskandar berperan dalam pengelolaan operasional klub, pengembangan organisasi, hingga mendukung berbagai agenda profesionalisasi manajemen sepak bola. Ia mengakhiri masa jabatannya di Persib pada penghujung 2024.
Kini, tantangan yang dihadapinya jauh lebih besar. Sebagai Direktur Utama Pos Indonesia, Iskandar akan memimpin perusahaan logistik nasional yang memiliki jaringan sangat luas.
Pos Indonesia saat ini mengelola sekitar 5.597 titik layanan, didukung 8.032 armada operasional, serta memiliki jaringan distribusi yang menjangkau lebih dari 220 negara dan wilayah melalui kerja sama internasional.
Di sisi lain, perusahaan juga tengah menjalani proses transformasi menyeluruh agar mampu bersaing di era digital. Perubahan pola belanja masyarakat, meningkatnya transaksi e-commerce, serta persaingan dengan perusahaan logistik swasta menjadi tantangan yang harus dijawab melalui inovasi layanan dan peningkatan efisiensi operasional.
Penugasan Iskandar juga berlangsung di tengah agenda pembenahan yang berada di bawah pengawasan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Berdasarkan hasil asesmen internal yang telah dipublikasikan, Pos Indonesia menghadapi sejumlah pekerjaan rumah terkait penguatan tata kelola, perbaikan kondisi keuangan, serta peningkatan efektivitas pengelolaan aset.
Sejumlah proses audit dan evaluasi juga tengah berjalan sebagai bagian dari upaya memastikan tata kelola perusahaan berlangsung sesuai prinsip good corporate governance (GCG).
Dengan pengalaman panjang di bidang logistik, investasi, restrukturisasi perusahaan, hingga pengelolaan organisasi besar, Iskandar Kunaefi diharapkan mampu membawa Pos Indonesia memasuki fase baru transformasi. Fokus utamanya adalah memperkuat posisi perusahaan sebagai tulang punggung logistik nasional, meningkatkan kualitas layanan publik, sekaligus menjaga daya saing di tengah perubahan industri yang semakin kompetitif.
Editor : Mahendra Aditya