JAKARTA – Peluncuran dan diskusi buku Tatah: Suluk, Sulur dan Jepara dengan subjudul Rekonstruksi Jepara melalui Seni Ukir menjadi salah satu agenda dalam rangkaian Pameran TATAH yang diselenggarakan pada Jumat (10/7) di Ruang Teater Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mendokumentasikan sejarah lokal Jepara sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan seni ukir sebagai warisan budaya Indonesia.
Buku yang ditulis oleh Dr. Arif Akhyat, M.A., Dr. Ahmad Nizam, M.Sn., dan Susi Ernawati, S.Pd. ini mengangkat seni ukir Jepara sebagai identitas budaya yang tumbuh dari nilai spiritual, sejarah, dan perjumpaan berbagai peradaban. Konsep “Suluk” merepresentasikan dimensi spiritual dan filosofi para pengukir, sedangkan “Sulur” menggambarkan dinamika perkembangan serta keterhubungan budaya ukir Jepara dengan dunia tanpa kehilangan akar tradisinya.
Diskusi menghadirkan para penulis bersama Prof. Dr. Yasraf Amir Piliang, M.A., JJ Rizal, dan Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum., dengan dipandu Sarah Monica, S.Sos., M.Si. Para pembahas menegaskan bahwa seni ukir Jepara bukan sekadar produk kriya atau komoditas ekonomi, melainkan bahasa budaya yang merekam sejarah, nilai sosial, dan identitas masyarakat. Forum juga menyoroti tantangan regenerasi pengukir yang semakin berkurang sehingga diperlukan penguatan pendidikan, inovasi desain, dan dukungan berbagai pemangku kepentingan agar tradisi ini tetap lestari.
Mewakili tim penulis, Dr. Arif Akhyat, M.A., menyampaikan bahwa seni ukir Jepara merupakan Zeitgeist atau jiwa zaman yang merefleksikan sejarah, kapitalisme, dan kosmopolitanisme. Menurutnya, potensi para pengukir Jepara perlu terus diperkuat melalui kreativitas dan inovasi desain agar mampu bersaing di pasar internasional.
Peluncuran buku ini merupakan bagian dari Pameran TATAH, hasil kolaborasi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Museum Nasional Indonesia, Pemerintah Kabupaten Jepara, DPD Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Jepara Raya, serta Rumah Kartini Jepara Heritage. Dalam penyelenggaraannya, Veronica Rompies selaku Direktur TATAH berperan mengoordinasikan kolaborasi lintas sektor yang mempertemukan akademisi, pengrajin, desainer, pemerintah, pelaku industri, dan komunitas budaya untuk memperkuat ekosistem seni ukir Jepara melalui pelestarian, regenerasi, inovasi, dan promosi di tingkat nasional maupun internasional.
Kegiatan berlangsung dengan antusias dan dihadiri oleh perwakilan kementerian dan lembaga, akademisi, budayawan, pelaku industri kreatif, komunitas seni, serta berbagai pemerhati budaya. Yayasan REKANUSA turut hadir sebagai tamu undangan yang diwakili oleh Ketua Umum, Maitri Widya Mutiara, sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian seni budaya, penguatan literasi, dan kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan warisan seni ukir Jepara.
Peluncuran buku ini diharapkan menjadi referensi akademik sekaligus mendorong penyusunan peta jalan (roadmap) pelestarian dan pengembangan industri kreatif berbasis kriya kayu di Jepara. Sinergi yang terbangun melalui buku dan Pameran TATAH diharapkan semakin memperkokoh posisi Jepara sebagai salah satu pusat seni ukir terbaik di dunia.
⸻
Catatan Editor
Buku Tatah: Suluk, Sulur dan Jepara dengan subjudul Rekonstruksi Jepara melalui Seni Ukir diterbitkan melalui kerja sama tim penulis dengan fasilitasi Direktorat Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.